23/05/2026
Sebuah video yang memperlihatkan seekor orangutan betina berjalan lemah bersama anaknya viral di media sosial dan memicu keprihatinan publik. Tubuhnya tampak sangat kurus, tulang-tulangnya terlihat jelas, sementara langkahnya perlahan seolah menahan lapar yang sudah terlalu lama. Banyak orang menyebut pemandangan itu menyayat hati. Namun kondisi ini bukan sekadar tragedi satwa liar biasa, melainkan tanda nyata bahwa ada sesuatu yang sedang rusak besar-besaran di habitat mereka.
Orangutan tersebut diduga berada di kawasan Kutai Timur, Kalimantan Timur, wilayah yang terus mengalami tekanan akibat pembukaan lahan, aktivitas tambang, dan perkebunan sawit. Ketika hutan dihancurkan, satwa liar kehilangan sumber makanan dan tempat hidupnya. Mereka dipaksa bertahan di lingkungan yang semakin sempit, kelaparan, lalu perlahan mati di tanah yang dulu menjadi rumah mereka sendiri. Orangutan tidak masuk ke wilayah manusia tanpa alasan. Mereka datang karena hutannya lebih dulu dirampas.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa kerusakan alam bukan cuma soal pohon yang ditebang, tetapi juga tentang kehidupan yang ikut dihancurkan secara perlahan. Hutan dibuka atas nama pembangunan dan investasi, sementara satwa menjadi korban yang jarang dianggap penting. Jika kondisi seperti ini terus dianggap biasa, maka kepunahan bukan lagi ancaman masa depan, melainkan sesuatu yang sedang terjadi hari ini di depan mata kita sendiri.
Reposted from