Menuju Jiwa Tenang

Call Website Contact the business

Menuju Jiwa Tenang Proses Pendampingan Menuju Jiwa Yang Tenang Info :
SMS/WA 087782230999

Website http://jadwalruqyah.blogspot.co.id

20/09/2026

Ada masa lalu yang tidak bisa kita ubah, sekeras apa pun kita ingin mengulanginya.

Ada kesalahan orang lain yang meninggalkan luka.
Ada p**a kesalahan diri sendiri yang terus kita sesali.

Namun hidup tidak akan berjalan maju jika hati terus tinggal di tempat yang sama.

Belajarlah ikhlas dan ridha terhadap takdir Allah yang telah terjadi.

Bukan berarti membenarkan kesalahan atau melupakan begitu saja, tetapi menerima bahwa sesuatu yang sudah Allah takdirkan terjadi tidak mungkin kita putar kembali.

Jika orang lain pernah menyakiti kita, belajarlah memaafkan.
Bukan karena mereka selalu layak mendapatkan maaf, tetapi karena hati kita layak mendapatkan ketenangan.

Jika kita sendiri pernah salah, belajarlah memaafkan diri sendiri.
Akui kesalahan, bertaubat, perbaiki apa yang masih bisa diperbaiki, lalu jangan terus menghukum diri dengan masa lalu.

Allah berfirman:
“...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)

Apa yang terjadi mungkin bukan sesuatu yang kita inginkan. Tetapi kita tidak pernah tahu seluruh hikmah yang Allah simpan di baliknya.

Jangan habiskan hari ini untuk terus menangisi sesuatu yang sudah menjadi kemarin.

Masa lalu adalah tempat mengambil pelajaran, bukan tempat menetap.

Maafkan orang yang pernah menyakiti.
Maafkan diri yang pernah keliru.

Lepaskan penyesalan yang tidak lagi bisa mengubah keadaan.
Dan mulai berdamai dengan apa yang telah terjadi.

Karena mungkin yang perlu kita lakukan bukan kembali ke masa lalu untuk memperbaikinya, tetapi melangkah ke depan dengan hati yang lebih matang, lebih tenang, dan lebih dekat kepada Allah.

Semoga Allah memberikan kita hati yang lapang untuk menerima takdir-Nya, kekuatan untuk memaafkan, dan kemampuan untuk berdamai dengan masa lalu tanpa kehilangan harapan terhadap masa depan. 🤲

Yang telah berlalu, serahkan kepada Allah.
Yang sedang dijalani, perbaiki.
Yang akan datang, tawakkalkan kepada-Nya.

Jiwa Tenang
Pendampingan Menuju Jiwa Yang Tenang

18/09/2026

Ada kalanya pertikaian tidak dimulai dari perkara besar.
Hanya salah paham kecil, ucapan yang disalahartikan, atau emosi sesaat.

Namun ketika dibiarkan, setan dapat menjadikannya celah untuk mengadu domba, memperbesar kebencian, merusak kepercayaan, hingga memisahkan orang-orang yang sebelumnya saling mencintai.

Terlebih dalam rumah tangga.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian mengutus pasukannya. Yang paling dekat kedudukannya dengan Iblis adalah yang paling besar fitnahnya. Salah seorang dari mereka datang dan berkata: ‘Aku telah melakukan ini dan itu.’ Iblis menjawab: ‘Kamu belum melakukan apa-apa.’ Kemudian datang yang lain dan berkata: ‘Aku tidak meninggalkannya hingga aku memisahkan antara dia dan istrinya.’ Maka Iblis mendekatkannya dan berkata: ‘Sebaik-baik kamu adalah kamu.’”
(HR. Muslim, no. 2813)

Memisahkan suami dan istri merupakan salah satu bentuk fitnah yang sangat dibanggakan oleh Iblis kepada pasukannya.

Karena itu, jangan mudah menjadi alat bagi setan untuk merusak hubungan manusia.

Jangan buru-buru percaya pada kabar yang belum jelas.
Jangan mudah menyimpulkan niat buruk orang lain.
Jangan menjadikan satu kesalahan sebagai alasan untuk membenci seluruh kebaikannya.
Dan jangan biarkan amarah membuat kita mengucapkan sesuatu yang sulit ditarik kembali.

Setan senang ketika hubungan yang baik berubah menjadi permusuhan.

Maka ketika terjadi perselisihan, berhentilah sejenak.
Redakan amarah.
Cari kebenaran, bukan pembenaran.
Bicarakan masalah dengan kepala dingin.
Dan jangan biarkan pihak ketiga memperkeruh keadaan.

Bukan hanya rumah tangga.
Persahabatan, persaudaraan, hubungan keluarga, bahkan hubungan sesama muslim pun bisa rusak ketika kita mudah termakan provokasi dan prasangka.

Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu...”
(QS. Al-Hujurat: 10)

Maka ketika melihat dua orang sedang berselisih, jangan menjadi penyambung api. Jadilah penyambung kebaikan.

Jiwa Tenang
Pendampingan Menuju Jiwa Yang Tenang

14/09/2026

Tidak setiap suara yang muncul di dalam hati harus kita percaya.

Kadang kita berkata, “Entah kenapa hatiku merasa ini benar…”

Padahal, tidak semua dorongan berasal dari hati yang jernih. Bisa jadi itu hawa nafsu, emosi sesaat, atau bisikan setan yang menyusup perlahan.

Setan tidak selalu mengajak kepada dosa dengan cara yang terang-terangan. Terkadang ia datang dalam bentuk pembenaran:
"Lakukan saja, kamu berhak."
"Balas saja, dia memang pantas."
"Ikuti saja perasaanmu."

Jika dituruti, keputusan besar dalam hidup bisa diambil hanya karena emosi sesaat yang telah disusupi bisikan setan.

Allah berfirman:
“...dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.”
(QS. Al-Baqarah: 168)

Jangan mengikuti jalan yang sedikit demi sedikit membawa kita kepada penyimpangan.

Karena itu, ketika hati sedang marah, kecewa, gelisah, atau sangat menginginkan sesuatu, jangan terburu-buru mengambil keputusan.

Tenangkan diri. Berdoa. Pikirkan akibatnya. Dan timbang setiap langkah dengan Al-Qur'an dan Sunnah, bukan sekadar mengikuti perasaan.

Sebab perasaan bukan ukuran kebenaran.
Apa yang terasa nyaman belum tentu halal.
Apa yang menyenangkan belum tentu baik.
Apa yang kita inginkan belum tentu Allah ridhai.

Jadikan syariat sebagai kompas kehidupan, bukan emosi sesaat.
Jangan biarkan bisikan yang kita kira “suara hati” menentukan arah hidup kita.

Karena bisa saja yang kita kira kata hati bukanlah suara hati yang suci, melainkan bisikan sang pembisik yang sedang mencari jalan untuk menyesatkan kita.

Semoga Allah menjaga hati kita dari hawa nafsu dan tipu daya setan, serta membimbing setiap langkah kita di atas petunjuk-Nya. 🤲

Bukan semua yang terasa benar harus diikuti.
Yang harus diikuti adalah apa yang benar menurut petunjuk Allah.

Jiwa Tenang
Pendampingan Menuju Jiwa Yang Tenang

AlQuran Sunnah MenjagaHati Istiqamah PengingatDiri NasihatIslam

12/09/2026

Amarah itu mudah menyala, tetapi akibatnya bisa panjang.

Ketika emosi sedang memuncak, sering kali kita berbicara tanpa berpikir, bertindak tanpa pertimbangan, dan melukai orang yang sebenarnya kita sayangi.

Satu ucapan karena amarah bisa meninggalkan luka.
Satu tindakan karena emosi bisa menghancurkan hubungan.
Satu keputusan yang dibuat saat marah bisa mendatangkan penyesalan yang panjang.

Karena itu, jangan turuti setiap dorongan amarah.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya: kekuatan sejati bukan hanya kemampuan mengalahkan orang lain, tetapi kemampuan menahan diri ketika amarah sedang menguasai hati.

Ketika marah, cobalah diam.
Jangan terburu-buru membalas.
Jauhkan diri sejenak dari perkara yang memancing emosi.
Dan ingatlah bahwa Allah melihat bagaimana kita mengendalikan diri.

Allah memuji orang-orang yang mampu menahan amarah:
“...orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
(QS. Ali 'Imran: 134)

Amarah yang dituruti bisa menjadi api yang membakar banyak hal.
Amarah yang ditahan karena Allah bisa menjadi pahala dan kemuliaan.
Jangan biarkan beberapa detik amarah menghancurkan sesuatu yang telah dibangun bertahun-tahun.

Sebelum berbicara, berpikir.
Sebelum bertindak, tenangkan diri.
Sebelum membalas, ingat akibatnya.

Karena sering kali, ketika amarah sudah reda, barulah kita menyadari betapa banyak kerusakan yang telah kita buat.

Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk menahan amarah, menjaga lisan dan perbuatan, serta menjadikan kita termasuk orang-orang yang mampu mengendalikan hawa nafsu ketika diuji. 🤲

Tahan amarahmu hari ini, agar tidak menangisi penyesalan di kemudian hari.

Jiwa Tenang
Pendampingan Menuju Jiwa Yang Tenang

10/09/2026

Sering kali kita merasa sudah berada di tempat yang tinggi.

Dihormati karena harta, jabatan, ilmu, kedudukan, atau pop**aritas.

Semakin tinggi posisi seseorang, semakin mudah hati merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Padahal…
Yang membuat seseorang mulia bukanlah seberapa tinggi kedudukannya di mata manusia, tetapi seberapa tinggi ketaqwaannya di hadapan Allah.

Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)

Ukuran kemuliaan di sisi Allah bukanlah kekayaan, jabatan, keturunan, rupa, maupun pop**aritas. Yang menjadi ukuran adalah ketaqwaan.

Karena itu, jangan sampai ketika Allah mengangkat kita dengan harta, jabatan atau keberhasilan, justru hati kita ikut terangkat menjadi sombong.

Sebab seseorang bisa saja terlihat tinggi di hadapan manusia, tetapi sebenarnya jatuh di hadapan Allah karena kesombongannya.

Dan terkadang, sesuatu yang kita banggakan hari ini justru menjadi sebab kita tersandung esok hari.

Harta bisa hilang.
Jabatan bisa berakhir.
Pamor bisa meredup.
Kekuatan bisa melemah.
Tetapi ketaqwaan kepada Allah adalah bekal yang akan kita bawa ketika semua kemewahan dunia kita tinggalkan.

Maka ketika Allah memberikan kita kelebihan, jangan bertanya:
“Seberapa tinggi aku dibandingkan orang lain?”
Tetapi tanyakan:
“Apakah dengan semua ini aku semakin dekat kepada Allah atau justru semakin jauh dari-Nya?”

Semoga Allah menjaga hati kita dari kesombongan ketika berada di atas, dan memberikan kita kerendahan hati untuk tetap tunduk sebagai hamba-Nya. 🤲

Tinggi di mata manusia tidak berarti mulia di sisi Allah.
Kemuliaan sejati adalah ketika hati tetap rendah di hadapan Sang Pencipta.

Jiwa Tenang
Pendampingan Menuju Jiwa Yang Tenang

09/09/2026

Jangan mudah merasa bahwa sesuatu itu benar hanya karena sedang ramai diikuti banyak orang.

Zaman terus berubah.
Tren terus berganti.

Apa yang dahulu dianggap aneh, hari ini bisa dianggap biasa.

Apa yang dahulu dijaga, perlahan bisa dianggap ketinggalan zaman.

Tanpa sadar, kita pun ikut terbawa arus.

Awalnya hanya ingin tahu.
Kemudian ikut mencoba.
Lalu menjadi kebiasaan.
Hingga akhirnya hati terbiasa dengan sesuatu yang dahulu kita tahu sebagai kemaksiatan.

Karena itu, jangan hanya bertanya: “Apakah semua orang melakukannya?”
Tetapi tanyakan: “Apakah Allah meridhainya?”

Hati-hati memilih teman dan lingkungan.
Karena orang-orang yang sering berada di sekitar kita dapat memengaruhi cara berpikir, kebiasaan, bahkan arah hidup kita.

Hati-hati dengan siapa yang kita follow.
Apa yang setiap hari masuk ke mata dan hati kita tidak semuanya layak untuk diikuti.

Hati-hati dengan apa yang kita tonton.
Karena sesuatu yang terus-menerus dilihat dapat membuat kemaksiatan terasa biasa.

Hati-hati dengan apa yang kita dengar.
Tidak semua yang menghibur hati akan membawa hati lebih dekat kepada Allah.

Jangan sampai kita begitu sibuk mengikuti arus zaman, sampai lupa bertanya ke mana arus itu membawa kita.

Allah berfirman:
“Dan bahwa inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.”
(QS. Al-An'am: 153)

Allah memerintahkan kita untuk berpegang pada jalan-Nya yang lurus dan tidak mengikuti berbagai jalan yang menyimpangkan manusia dari petunjuk-Nya.

Maka jangan takut dianggap berbeda hanya karena memilih untuk menjaga diri.

Tidak semua tren harus diikuti.
Tidak semua kebiasaan mayoritas harus ditiru.
Tidak semua yang viral layak menjadi bagian dari kehidupan kita.

Seberapa pun deras arusnya, kita tetap harus tahu ke mana harus mengarahkan perahu kehidupan.

📖 Sebaik-baik petunjuk adalah Kitabullah, Al-Qur'an.
Dan ﷺ sebaik-baik teladan adalah Rasulullah ﷺ.

Jiwa Tenang
Pendampingan Menuju Jiwa Yang Tenang

03/09/2026

Sering kali yang membuat hati keras bukan karena kita tidak punya, tetapi karena kita terlalu takut berbagi apa yang kita punya.

Ada makanan yang sebenarnya cukup untuk dibagi, tetapi kita memilih menikmatinya sendiri.
Ada rezeki yang sebenarnya bisa meringankan orang lain, tetapi tangan terasa berat untuk mengeluarkannya.

Awalnya mungkin hanya ingin menyimpan sedikit lebih banyak.
Lalu menjadi terbiasa menahan.
Lama-lama hati merasa berat melihat orang lain membutuhkan.

Inilah yang perlu kita waspadai: sifat tamak dan enggan berbagi dapat mengikis kelembutan hati.

Allah mengingatkan:
“Dan barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Al-Hasyr: 9)
Artinya: keberuntungan bukan hanya tentang banyaknya harta yang terkumpul, tetapi juga ketika Allah menyelamatkan hati kita dari sifat kikir dan mencintai harta secara berlebihan.

Jangan menunggu menjadi kaya untuk belajar berbagi.
Berikan ketika ada makanan lebih.
Berikan ketika ada rezeki yang lapang.

Berikan meski sedikit.
Karena yang kita bagi mungkin terlihat kecil di mata kita, tetapi bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi orang yang menerimanya.

Dan ingat…
Rezeki yang kita tahan tidak akan menjadi milik kita selamanya.
Tetapi kebaikan yang kita keluarkan karena Allah, itulah yang kita harapkan menjadi bekal ketika kembali kepada-Nya.

Ya Allah, lembutkan hati kami. Jangan jadikan harta yang Engkau titipkan membuat kami menjadi tamak dan kikir. Ringankan tangan kami untuk berbagi dan jadikan apa yang kami keluarkan di jalan-Mu sebagai pemberat amal kebaikan kami.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir.” 🤲

Semoga Allah menjaga hati kita dari sifat yang membuat kita berat berbagi, meskipun sebenarnya kita mampu.

Jiwa Tenang
Pendampingan Menuju Jiwa Yang Tenang

30/08/2026

Banyak yang tidak sadar…

Awalnya, niat kita mungkin benar-benar karena Allah.
Bekerja untuk mencari nafkah yang halal.
Membangun usaha untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Mengejar keberhasilan agar bisa lebih banyak bersedekah.
Mengumpulkan harta untuk menjadi bekal menuju akhirat.

Namun perlahan, tanpa terasa…
Setan menggeser arah hati.
Yang awalnya mencari rezeki, berubah menjadi mengejar kekayaan.
Yang awalnya ingin mencukupi kebutuhan, berubah menjadi mengejar gaya hidup.
Yang awalnya ingin menjadi orang bermanfaat, berubah menjadi haus pengakuan.
Yang awalnya menjadikan dunia sebagai sarana menuju akhirat, akhirnya menjadikan dunia sebagai tujuan di hati.

Allah mengingatkan:
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan…”
(QS. Al-Hadid: 20)

Allah mengingatkan bahwa kehidupan dunia dengan segala kesenangan, perhiasan, kebanggaan dan perlombaannya dapat membuat manusia terlena. Bukan berarti kita dilarang mencari dunia, tetapi jangan sampai dunia membuat kita lalai dari kehidupan akhirat.

Kita tetap berlari.
Tetap sibuk.
Tetap bekerja keras.
Tetapi tanpa sadar, kita hanya berputar di tempat yang sama.

Pagi mengejar dunia.
Siang mengejar dunia.
Malam memikirkan dunia.
Sampai akhirnya waktu untuk Allah hanya tersisa ketika kita sudah lelah.

Allah juga berfirman:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia…”
(QS. Al-Qashash: 77)

Islam tidak mengajarkan kita meninggalkan dunia. Kita tetap boleh bekerja, berusaha dan menikmati rezeki Allah. Tetapi semua itu seharusnya diarahkan menjadi sarana untuk mencari kebahagiaan akhirat, bukan membuat kita melupakan tujuan akhir perjalanan.

Maka sesekali berhentilah dan tanyakan kepada diri sendiri:
“Untuk apa sebenarnya aku melakukan semua ini?”

Apakah dunia sedang berada di tangan kita sebagai sarana, atau sudah masuk terlalu dalam hingga menjadi tujuan di hati?

Karena bukan salah memiliki dunia.
Bukan salah bekerja keras.
Bukan salah menjadi kaya dan sukses.

Yang perlu ditakuti adalah ketika dunia yang seharusnya kita genggam justru mulai menggenggam hati kita.

Perbarui niat.
Luruskan kembali arah.
Jangan sampai perjalanan yang awalnya kita niatkan untuk mencari ridha Allah, perlahan berubah menjadi perjalanan panjang mengejar sesuatu yang pada akhirnya akan kita tinggalkan.

Jangan hanya sibuk berlari. Pastikan kita tahu sedang menuju ke mana.

🤲 Semoga Allah menjaga hati kita agar dunia tetap berada di tangan, bukan bertahta di hati; dan menjadikan setiap usaha kita sebagai jalan menuju ridha-Nya dan bekal untuk kehidupan akhirat.

Jiwa Tenang
Pendampingan Menuju Jiwa Yang Tenang

28/08/2026

Jangan pernah merasa dosa-dosamu terlalu banyak hingga membuatmu malu untuk kembali kepada Allah.

Jika hari ini engkau merasa begitu jauh.
Jika dosa-dosa masa lalu terus menghantui.
Jika berkali-kali berjanji untuk berubah, namun kembali terjatuh dalam maksiat yang sama.

Tetapi jangan biarkan dosa membuatmu berputus asa dari rahmat Allah.

Allah berfirman:
“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”
(QS. Az-Zumar: 53)

Perhatikan… Allah tidak mengatakan, “Jangan berputus asa selama dosamu sedikit.”
Tidak.

Allah membuka pintu ampunan bahkan bagi mereka yang merasa dirinya telah terlalu jauh.

Setan ingin kita berpikir:
"Aku sudah terlalu kotor untuk bertaubat."
"Aku sudah terlalu sering mengulang dosa."
"Percuma aku memohon ampun, nanti aku jatuh lagi."

Jangan percaya bisikan itu.
Selama nyawa belum sampai di tenggorokan, pintu taubat masih terbuka.

Jika terjatuh, bangkitlah.
Jika kembali berbuat dosa, bertaubatlah lagi.
Jika hatimu kembali lemah, datanglah lagi kepada Allah.

Jangan menunggu menjadi manusia yang sempurna untuk bersujud.
Justru datanglah kepada Allah karena kita adalah manusia yang penuh kekurangan.

Mungkin tanganmu pernah melakukan maksiat…
tetapi tangan yang sama masih bisa diangkat untuk berdoa.
Mungkin lisanmu pernah mengucapkan dosa…
tetapi lisan yang sama masih bisa beristighfar.
Mungkin kakimu pernah melangkah menuju kemaksiatan…
tetapi kaki yang sama masih bisa melangkah menuju ampunanNya.

Jangan biarkan masa lalu menentukan akhir perjalananmu.
Allah tidak membutuhkanmu untuk datang tanpa dosa.
Allah memintamu untuk kembali.

Maka saat ini, jika engkau merasa penuh dosa, jangan menjauh.
Ambillah wudhu.
Bentangkan sajadah.
Tundukkan kepala.

Dan katakan dengan hati yang jujur:
“Ya Allah, aku telah banyak berbuat salah. Aku malu menghadap-Mu, tetapi aku tidak punya tempat kembali selain kepada-Mu. Ampunilah aku dan jangan biarkan aku mati sebelum sempat benar-benar bertaubat kepada-Mu.”

🤲 Selama Allah masih memberimu kesempatan untuk hidup, jangan pernah menganggap perjalanan p**ang sudah terlambat.

Jiwa Tenang
Pendampingan Menuju Jiwa Yang Tenang

27/08/2026

Ada kehilangan yang tidak mudah diterima.

Bukan karena kita tidak tahu bahwa semua akan kembali kepada Allah… tetapi karena pernah ada sesuatu yang begitu kita cintai, begitu kita jaga, lalu tiba-tiba harus kita lepaskan.

Kita masih ingin menggenggamnya.
Masih ingin mengulang waktu.
Masih bertanya, “Mengapa harus pergi?”

Padahal sejak awal, Allah tidak pernah menjanjikan bahwa apa yang Dia titipkan akan menjadi milik kita selamanya.

Allah berfirman:
“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.’”
(QS. Al-Baqarah: 156)

Tadabbur Al-Baqarah: 156
Perhatikan kalimat “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.”
Kita sering mengucapkannya ketika kehilangan seseorang atau sesuatu. Namun ayat ini mengajarkan sesuatu yang jauh lebih dalam:
Kita bukan pemilik. Kita adalah milik Allah.

Jika diri kita saja milik Allah, maka orang yang kita cintai, harta yang kita miliki, kesehatan, pekerjaan, kesempatan, bahkan segala sesuatu yang membuat kita bahagia—semuanya hanyalah titipan-Nya.

Maka ketika Allah mengambil kembali sesuatu yang pernah Dia titipkan, hati memang boleh bersedih. Tetapi jangan sampai kesedihan membuat kita lupa kepada siapa semua itu akan kembali.

Kehilangan bukan selalu tanda Allah sedang menghukum. Kadang kehilangan adalah cara Allah mengembalikan hati kita kepada-Nya.

Yang kita cintai adalah titipan.
Harta adalah titipan.
Orang-orang yang kita sayangi adalah titipan.
Bahkan waktu bersama mereka pun adalah titipan.

Maka ketika titipan itu kembali kepada Pemiliknya, menangislah jika memang harus menangis. Berduka bukan berarti lemah.

Namun perlahan, ajarkan hati untuk berkata:
“Ya Allah, dulu Engkau titipkan kepadaku. Kini Engkau mengambilnya kembali. Aku memang terluka, tetapi aku percaya Engkau lebih tahu apa yang terbaik untukku.”

Tidak semua yang pergi harus diganti.
Tidak semua kehilangan harus segera dilupakan.
Ada yang cukup kita kenang dengan doa…
lalu kita relakan dengan ikhlas.

Sebab “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” bukan sekadar ucapan ketika kehilangan.
Ia adalah pengingat bahwa apa pun yang kita cintai pada a

Address

Tangerang

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Menuju Jiwa Tenang posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Menuju Jiwa Tenang:

Share