04/09/2023
Cerita di kolam renang
Entah mengapa tetiba saya ingin berenang di sore hari. Padahal biasanya saya lebih s**a melakukannya saat pagi. Karena minggu lalu 'skip' tidak sempat berenang, saya paksakan minggu ini mulai lagi. Target saya, minimal 2x seminggu..
Seperti biasa saya memilih lintasan horizontal (lebih pendek), karena di tengah2 lebih sepi, maka saya memilih di perbatasan antara kedalaman 1.3 m dan tempat yang lebih dalam. Nah, saat saya menggunakan gaya bebas, seperti biasa kecenderungannya arah pergerakan tidak lurus, melainkan miring ke kiri. Mungkin karena kayuhan tangan kanan lebih kuat dibandingkan tangan kiri.
30 menit berlalu, kacamata renang (lensa memang agak gelap) mulai berkabut dan pencahayaan di malam hari sangat redup, sedang melaju dengan gaya bebas - samar2 terlihat arah garis di dasar kolam tidak searah dengan pergerakan saya, tersadar arah berenang miring cukup jauh sampai ke tempat yang dalam. Deng d**g...! Mulai panik, 'gelagepan'. Sempat tertelan air... Ada seorang guard yang melemparkan pelampung, dan seorang ibu mendekat.. wah lega rasanya... (Itu sebabnya saya lebih s**a berenang pagi hari)
Ibu tadi menyarankan saya beristirahat, bersyukur saya pun langsung tenang. Akhirnya kami berbincang sedikit. Ternyata mereka rutin berenang, 4-5x seminggu. Wow! Dari raut wajahnya sepertinya mereka berusia sekitar 60 tahun. Senang melihat mereka, melakukan kegiatan positif bersama-sama. Sang suami terlihat antusias memberi semangat pada isterinya (belakangan baru tahu saat di ruang ganti, si ibu bercerita kalau suaminya lebih rajin berolahraga dibandingkan dirinya).
Saya keluar dari kolam lebih dulu, berpamitan sambil mengucapkan terimakasih kepada mereka, karena jari-jari mulai berkerut kedinginan, tandanya sudah cukup lama berada di dalam air. Saat masuk ruang bilas, ada 3 orang wanita yang bersiap untuk mandi, dari pembicaraan yang terdengar sepertinya mereka para mahasiswi.
Karena obrolan mereka terdengar di ruang bilas sebelah, saya tidak tahu pasti siapa yang bicara dan memang tidak berniat mendengarkan, tapi ini kurang lebih yang terdengar.
"Loe anak ke berapa?"
"Gue anak tunggal, tapi bokap gue nikah lagi, dan dia punya anak. Jadi gue punya adik, kelas 8 sekarang.
"Eh, gue gak kebayang loh mau 'married' umur berapa.."
"Haha..Gue maunya punya anak, tapi gak usah married. Mau spe**a cowoknya aja. Karena gue s**a anak kecil"
"Kalo gue, gak mau married. Harus komitmen"
"Gue mau married tapi gak mau punya anak"
Hmmmm.....Memang jaman sudah berubah. Dulu, di usia mereka, pemikiran tentang menikah atau menjadi single sudah ada. Tapi tentang ide 'child free' atau niat mengandung dan melahirkan anak tanpa harus terikat dalam lembaga perkawinan, rasanya sama sekali tidak terbayang.
Saya pun termenung sepanjang perjalanan pulang. Apa yang mendasari pemikiran2 tersebut. Apakah relasi orang tua yang mereka saksikan sehari-sehari memberi gambaran beratnya sebuah perkawinan?
Hubungan yang nyata antara suami - isteri, orang tua - anak tidak seindah seperti dalam cerita keluarga cemara?
Atau nilai2 individualistis dan simple life 'lebih membahagiakan' daripada sebuah cinta yang butuh pengorbanan, kompleksitas dan komitmen di dalamnya?
"Banyak anak = banyak biaya?"
Ternyata di negara barat pun, sebagian mempunyai alasan tersendiri tentang 'child free', yaitu mereka berusaha meminimalisir emisi bumi!
Entahlah.. saya tidak dalam porsi menilai/menghakimi. Setiap orang berhak memiliki harapan dan menentukan pilihan hidupnya.
Saya pribadi memilih mengenang bagaimana suami isteri yang saya jumpai tadi, BERUSAHA menghabiskan masa tuanya dalam kebersamaan, sehat bersama, saling mendukung dalam hal positif (sambil berkhayal...kapan ya bisa berenang bareng suami lagi 😉)
Bagaimana dengan Anda?