11/06/2026
Coba bayangkan pengalaman ini, mungkin Anda pernah mengalaminya dari sisi pasien, atau melihatnya dari sisi manajemen RS.
Pasien selesai dari poli. Dokter tulis resep di kertas. Pasien jalan ke farmasi.
Petugas farmasi membaca resep. Satu nama obat tulisannya tidak terlalu jelas, ia menelepon ke poli dulu. Sambil menunggu jawaban, ia cek stok. Ternyata salah satu obat kosong, tidak ada yang memberitahu sebelumnya karena pencatatan stok masih manual.
Ia kembali menghubungi dokter untuk minta substitusi. Pasien menunggu. Sudah 25 menit.
Setelah obat siap, pasien antre di kasir. Tapi data billing belum sinkron dengan resep — petugas kasir harus input ulang dari awal.
Total: 45 menit. Padahal pasien hanya butuh 3 jenis obat biasa.
Dan yang bikin frustrasi? Tidak ada satu pun orang yang "salah" dalam proses ini. Petugas farmasi sudah bekerja secepat yang bisa mereka lakukan. Kasir juga. Dokter juga.
Masalahnya ada di sistem yang memaksa semua orang bekerja secara terpisah — tanpa koneksi, tanpa informasi real-time, tanpa flow yang mulus.
Penelitian menunjukkan 70% dari waktu tunggu farmasi rawat jalan bukan soal kapasitas. Ini soal workflow yang tidak terhubung.
Dan yang paling menarik: ketika resep digital terhubung langsung ke farmasi, stok terpantau real-time, dan billing tersinkron otomatis — waktu tunggu bisa turun dari 45 menit menjadi 15 menit. Tanpa tambah petugas. Tanpa investasi besar.
Pertanyaan buat Anda yang kerja di RS atau pernah merasakan antri di farmasi:
Berapa menit biasanya Anda atau pasien di RS Anda menunggu obat setelah dari poli?
Ceritakan di komentar — saya ingin tahu apakah pengalaman ini umum, atau ada yang sudah berhasil memangkasnya.