11/06/2026
“Kamu mau kemana, Gi?” tanya Mami, melihat Regi mengambil tas dan menyampirkan jas di pundaknya.
“Mau ke kantor, Mi. Ada kerjaan yang harus aku selesaikan.”
“Sudah hampir jam makan siang.” Nina menggamit lengan kakaknya. “Kita makan bareng dulu yuk, Gi. Tadi aku lihat di dapur, menu makan siang hari ini enak-enak. Makanan kes**aan kamu semua.”
“Aku belum lapar.” Regi menepuk sayang puncak kepala Nina. “Kamu makan duluan saja sama Mami dan Papi.”
“Jangan biasakan makan telat, Gi. Mami nggak mau kamu kena penyakit lambung.”
Regi mengangguk. “Iya, Mi. Jangan khawatir Nanti di kantor aku suruh office boy untuk beli sandwich.”
Sambil melangkah cepat, otak Regi terus bekerja. Mencari jalan terbaik untuk mewujudkan rencananya. Sengaja ia tidak keluar rumah menggunakan pintu depan. Regi berbelok menuju pintu garasi. Sopirnya lebih sering duduk-duduk di sekitar area tempat parkir mobil. Jadi Regi bisa langsung cepat berangkat. Tidak perlu menunggu terlalu lama di pintu utama.
Saat baru saja keluar dari pintu samping, Regi tersentak melihat mobil yang tadi digunakan Risa pergi berbelanja terparkir dengan kondisi mesin menyala. Dari jendela mobil yang berwarna gelap, ia masih bisa melihat bayangan Risa yang duduk di kursi belakang.
Dahi Regi berkerut heran. Aneh. Menurut perhitungannya seharusnya Risa masih berbelanja di supermarket. Bergegas Regi mendekat dan mengetuk jendela mobil.
Jari-jari Risa mengepal erat ketika mendengar ketukan di jendela. Risa tidak menoleh tapi ujung matanya melihat bayangan wajah Regi di balik kaca mobil.
“Ada Pak Regi, Bu.” Didin menoleh, seakan ingin memastikan Risa masih belum menyadari kehadiran suaminya di luar mobil.
“Biarkan, Pak. Langsung saja tancap gas. Saya mau cepat-cepat sampai ke klinik. Sudah pusing banget,” perintah Risa nekat. Ini masalah nyawa, ia tidak punya pilihan lain, harus kabur secepatnya.
“Tapi… tapi… saya nggak berani, Bu. Takut dimarahin Pak Regi….”
Lemas tubuh Risa mendengar ucapan Didin. Apalagi setelah sopirnya itu malah mematikan mesin mobil. Meskipun kecewa, tapi dalam hati Risa tidak menyalahkan sopirnya itu. Ia bisa mengerti reaksi Didin. Pria setengah baya itu pasti tidak akan berani membantah perintah boss-nya. Melawan Regi bisa berakibat dipecat. Di masa sulit mencari pekerjaan seperti sekarang ini, tidak ada yang mau kehilangan status sebagai karyawan. Apalagi Didin yang masih harus mencari nafkah untuk keluarganya.
Dari luar Regi memberi kode agar Didin membuka kunci mobil. Didin menekan satu tombol. Dan klik! Kunci pintu mobil terbuka. Dengan satu tarikan tegas Regi membuka pintu.
“Loh kok kamu ada di sini, Sa? Katanya tadi mau belanja ke supermarket. Sudah selesai? Mana belanjaanmu?”
Mencelos hati Risa mendengar rentetan pertanyaan Regi. Seketika sekujur tubuhnya kaku. Gugup ia menoleh. Terlambat sudah. Ia tidak bisa kabur. Seperti robot Risa menoleh memandang Regi dan memaksakan senyum di bibirnya.
“Eh… itu… anu….” Risa kehilangan kata-kata. Apalagi melihat mata Regi menyipit curiga. Ucapan Regi di ruang kerja tadi terngiang lagi di telinga Risa: Pokoknya kalian semua harus membantuku menghabisi dia!
“Ini aku baru saja sampai rumah, Gi.” Akhirnya Risa berhasil menyembunyikan cemas yang memenuhi hatinya. Dengan nada suara sedatar mungkin, ia berdusta untuk melindungi diri. “Tapi belum belanja. Maaf ya. Tadi begitu sampai ke supermarket, aku baru sadar kalau dompetku ketinggalan. Jadi aku balik lagi. Ini aku mau langsung pergi belanja. Mumpung masih siang. Makin sore supermarket biasanya lebih ramai.” Risa melontarkan alasan pertama yang melintas di benaknya.
“Kalau dompetmu ketinggalan, kamu kan bisa bayar pakai aplikasi di ponsel.” Alis Regi terangkat. Heran.
“Oh iya ya.” Risa menggaruk pelipisnya, gugup. “Aku nggak kepikiran tadi. Keburu panik, Gi. Ya sudah aku balik lagi ke supermarket ya. Mau beli jus titipan kamu.” Bibir Risa menyunggingkan senyum yang paling manis. Sungguh berbeda dengan suasana hatinya yang diselimuti rasa panik dan takut. Dalam pandangan Risa, Regi tidak lagi menjadi sosok suami idaman. Pria tampan itu lebih mirip mahluk pencabut nyawa.
“Nggak usah.” Regi menarik lembut lengan Risa. Mengajaknya keluar dari mobil. “Besok-besok saja belanjanya.”
“Eh kenapa memangnya?” Risa yakin suaranya sedikit bergetar. Regi memang menariknya lembut tapi cengkeraman tangan Regi terlalu kuat, seolah mencegah Risa melepaskan diri. Jangan-jangan dia sudah tahu Risa menguping pembicaraan mereka tadi? Gawat. Nyawa Risa benar-benar sudah berada di ujung tanduk.
“Nggak pa-pa. Lain kali kamu pergi ke supermarket. Kalau nggak ada jus, aku masih bisa minum minuman lain. Atau kamu suruh saja Bi Ikah bikin jus dari buah segar.” Sekilas Risa bisa melihat kilat kejam di mata Regi. Suaminya itu mendekatkan wajahnya, hingga Risa bisa menghidu aroma kopi dari napasnya. “Sekarang sudah hampir waktu makan siang, Sayang. Kita makan dulu yuk. Papi dan Mami sudah menunggu,” bujuknya merayu, seperti memancing Risa memasuki perangkap. Insting Regi membuatnya membatalkan niat makan siang di kantor. Ia curiga ada sesuatu yang terjadi pada Risa.
“Tapi, aku benar-benar perlu belanja sekarang, Gi. Tadi pagi aku cek di dapur persediaan telur, buah dan sayur juga mulai menipis. Aku juga perlu membeli keperluan para asisten rumah tangga, Kamu makan siang duluan saja. Bareng dengan Papi dan Mami. Biar aku makan di mall nanti.” Risa masih berusaha mengelak. Ia menggerakkan tangannya. Berusaha membebaskan dari cekalan Regi. Ia harus kabur secepatnya.
Tapi gelengan Regi memupus harapan Risa. “Kalau memang perlu banget, kamu suruh Ikah saja yang belanja. Kasih daftar barang-barang yang perlu dibeli. Biar Ikah ke supermarket diantar Didin.” Regi menyebut lagi nama asisten rumah tangga paling senior di rumah mereka. Memang wanita berusia lima puluh tahun itu paling dipercaya oleh Regi.
“Ah jangan, Gi. Ikah sering keliru membeli barang, biarpun sudah dikasih daftar belanja. Aku nggak s**a memakai aroma pembersih lantai yang dibelinya bulan lalu. Kamu ingat, dia juga salah memilih mentega kes**aanmu? Biar aku saja yang pergi ke supermarket ya. Aku mau memilih sendiri barang-barang yang harus kubeli.” Risa tidak mau kehilangan kesempatan untuk kabur menyelamatkan diri.
“Kalau begitu kamu bisa pergi besok atau lusa.” Seperti biasa, Regi tidak mau dibantah. “Pokoknya hari ini aku ingin ditemani isteriku makan siang.” Lengan Regi berpindah memeluk kuat bahu Risa. Terlalu kuat.
Novel Warisan Istri Ketiga
Bisa dibaca di KBM App
Akun dewi_muliyawan