Graha Kosmetik

Graha Kosmetik Tempat cerita-cerita dan skincare pilihan

ELENA DIJEBAK SUAMINYA HINGGA MASUK PEN JARATENTU SAJA DIA TIDAK TINGGAL DIAMELENA BERJUANG MEMBALAS____________________...
13/08/2026

ELENA DIJEBAK SUAMINYA HINGGA MASUK PEN JARA
TENTU SAJA DIA TIDAK TINGGAL DIAM
ELENA BERJUANG MEMBALAS

_________________________

PEMBALASAN ISTRI SETELAH DIPENJ4R4

Part 2

“Buka!!!” pria itu menggedor jendela mobil Elena.

Elena panik melihat empat pria bertubuh tegap mengepung mobilnya. Dengan tangan gemetar, buru-buru dia merogoh tasnya. Mencari-cari ponselnya. Jantungnya berdetak sangat cepat. Keringat dingin mengalir di punggungnya. Cepat telepon Alfian! perintah benaknya.

“Buka! Polisi!”

Elena membeku mendengar kata-kata itu. Apa katanya tadi? Polisi?

Perlahan, Elena melirik tanda pengenal yang menempel di jendela. Kartu identitas polisi. Elena bingung. Benarkah mereka polisi sungguhan? Tapi kelihatannya pria itu tidak segan memecahkan kaca jendela mobilnya kalau dia nekat bertahan tidak membuka pintu mobil.

Elena melirik ke kiri dan kanan, ketakutan. Tidak ada jalan untuk melarikan diri. Dia berharap ada mobil yang berhenti dan menolongnya, tapi harapannya sia-sia. Mobil-mobil yang lewat hanya sedikit melambatkan laju kendaraannya, menonton sesaat, lalu pergi tanpa peduli.

Satu gedoran keras membuat Elena terlonjak di kursinya. Reflek tangannya menekan tombol pembuka kunci otomatis. Bunyi klik lembut terdengar, disusul… Brakkkk!!!

Pria itu membuka pintu dengan kasar. “Keluar!” perintahnya dengan satu tangan berada di pinggang. Elena bisa melihat pist ol hitam tersembunyi di balik jaketnya yang sedikit tersibak.

Susah payah Elena berusaha berdiri. Rasa takut mencengkeram seluruh tubuhnya. Tulang kakinya lemas seperti agar-agar. Dia terhuyung dan hampir tersungkur mencium tanah. Untung dengan sigap pria itu menangkap tubuh Elena. Lengannya menahan agar Elena tetap berdiri, sementara tiga orang rekannya langsung memeriksa seluruh isi mobil.

“Ini, Ndan!” kata pria pendek gemuk dengan rambut sangat tipis itu. Dia mengulurkan kotak coklat yang Elena terima dari Alfian tadi pagi.

“Bawa ke kantor!” perintahnya.

“Ada… apa… ini…?” Elena memaksa kata-kata keluar dari bibirnya.

“Saya AKP Wira. Anda kami tangkap dengan dugaan kasus nark oba,” katanya lagi sambil memasang semacam borgol dari plastik di tangan Elena. Dia mencengkeram lengan Elena dan mendorongnya ke dalam mobil yang segera melaju membelah jalan raya.

Rasa panik dan takut mencengkeram Elena. Otaknya seperti beku. Dia tidak mampu berpikir. Kasus nark oba-kasus narko ba-kasus nar koba, kata-kata Wira itu terus berputar-putar dalam benaknya.

“Duduk,” perintah Wira.

Elena tersentak, baru menyadari dia sudah sampai di kantor polisi, masih bersama empat orang petugas yang menangkapnya.

Wira duduk di depan Elena. Dia membuka laptop-nya dan mulai mengetik sambil melontarkan pertanyaan yang dijawab Elena masih dalam kondisi setengah ling-lung.

“Anda tahu mengapa dibawa kesini?!’ tanya Wira lagi.

Elena menggeleng pelan. Tidak mampu berkata-kata. Gugup. Takut. Siapa sih yang tidak merasa begitu kala berhadapan dengan petugas yang garang?

"Anda dicurigai membawa benda terlarang."

"Benda terlarang?" ulang Elena tidak mengerti. Dia merasa tidak membawa apa-apa. Di dalam tasnya hanya ada ponsel, bedak, lipstik, tisu, yah perintilan standar yang biasa ada di tas wanita. Benda terlarang apa yang dimaksud Wira?

"Ya, nar k0 ba," ucap Wira dengan tegas. Matanya menatap Elena dengan tajam. Seolah ingin menilai apakah wanita di depannya ini berkata jujur atau bohong. Sekian lama dia bertugas sebagai polisi, hingga sudah terbiasa menghadapi dusta dari para pelaku kejahatan.

"Enggak mungkin saya membawa narkoba, Pak. Saya tidak pernah memakai benda itu. Apalagi menjualnya," bantah Elena dengan gemetar menahan emosi. Mengada-ada sekali tuduhan polisi ini. "Saya ini cuma ibu rumah tangga yang mau pergi arisan, Pak. Mana mungkin bawa-bawa barang seperti itu," ucap Elena dengan nada memelas. Berharap pengertian dari para petugas kalau mereka sudah salah tangkap.

"Lalu ini apa?" Wira bertanya sambil menggoncangkan paket titipan Alfian, nyaris di depan wajah Elena.

"Astaga..." Elena tidak tahu harus menangis atau tertawa. Masa' sih kotak kado itu dicurigai sebagai bahan terlarang?

"Suami saya punya toko suvenir dan kado, Pak. Kotak ini pesanan dari pembeli. Isinya boneka."

Tentu saja Wira tidak percaya begitu saja pada keterangan Elena. Dia memberi kode pada anak buahnya. “Periksa, Don.”

Seorang polisi muda dengan tubuh tinggi dan langsing mengeluarkan pisau lipat dari sakunya. Perlahan dia membuka kotak kado yang ditemukannya di mobil Elena.

“Saya sudah bilang ‘kan, Pak. Isinya cuma boneka," tutur Elena dengan lega melihat isi kotak itu ternyata boneka panda imut yang biasa dijadikan teman tidur anak-anak.

Elena melihat empat orang polisi itu bertukar pandang. Rupanya mereka belum selesai memeriksa. Wira mengangguk dan pisau lipat anak buahnya kembali beraksi.

Tanpa sadar Elena menahan napasnya menyaksikan pisau itu terhunus dan menusuk dada boneka, lalu bergerak merobek hingga bagian depan boneka itu terbuka lebar. Petugas menarik keluar dakron pengisi boneka.

Mata Elena terbelalak melihat puluhan plastik klip bening dikeluarkan dari dalam boneka itu. Plastik-plastik berisi bubuk putih. Bibir Elena terbuka tapi tidak ada satu kata pun yang mampu dia ucapkan.

“Tidak! Ini tidak mungkin!” bisiknya pelan. Dingin mencengkeram hati Elena. Kalau bubuk putih itu benar-benar narkoba, pasti dia dalam kesulitan yang sangat besar. “Saya tidak tahu apa-apa, Pak,” Elena mulai menjerit. Tangisnya pecah. “Sumpah, saya tidak tahu!”

“Tenang, Bu. Kita periksa dulu semuanya.” Nada dingin dalam suara Wira menghentikan teriakan Elena. Dengan bibir terkatup dia menyaksikan anak buah Wira mengumpulkan plastik-plastik itu dan menulis laporan.

Proses interogasi dilanjutkan. Wira menanyakan bagaimana kotak itu bisa ada di tangan Elena. Terus-terang Elena menceritakan semuanya.

“Jadi suami anda yang minta kotak itu diantarkan?”

“Iya, Pak.” Elena memandang Wira. Mencari-cari keraguan di wajahnya. Tapi wajah perwira polisi itu datar saja. Tidak terbaca apapun di sana.

Proses interogasi masih berlangsung beberapa jam. Selepas tengah hari seorang pesuruh masuk dan meletakkan piring berisi nasi bungkus dan segelas es teh manis.

“Makanlah dulu.” Wira menyodorkan piring dan gelas itu ke depan Elena.

Elena melirik jam di dinding. Astaga sudah lewat jam makan malam. Berarti sudah berjam-jam dia berada di kantor polisi ini. Alfian pasti cemas, karena Elena pergi sampai malam tanpa memberi kabar. “Pak, saya minta izin untuk menelepon suami saya. Dia pasti cemas.”

“Kami sudah mengontak suami ibu. Dia sudah tahu, ibu ada di sini. Besok ibu bisa bertemu dengannya.”

Elena merasa tubuhnya kembali lunglai. Tapi ada sedikit harapan tumbuh di dadanya. Alfian tahu dia ada di kantor polisi. Alfian pasti bisa menjelaskan semuanya.

“Makanlah dulu,” kata Wira lagi.

“Terima kasih, Pak. Nanti saja. Saya tidak bisa makan.” Elena menggeleng. Dia tidak sanggup menelan makanan. Perasaannya masih campur aduk. Tegang, takut, cemas semuanya jadi satu.

“Kalau tidak makan, nanti ibu sakit.” Ada nada prihatin dalam kata-kata Wira. Dia memandang wanita di depannya ini. Wajahnya tampak pucat dan ketakutan. Wajar. Siapa yang tidak takut berada di kantor polisi dengan tuduhan memiliki narkoba. Bahkan prem an yang paling galak pun bisa gentar karena ancaman hukumannya tidak ringan. Apalagi wanita muda seperti Elena. Wira cemas jangan-jangan sebentar lagi Elena bisa pingsan.

Wira mengamati wajah yang tertunduk di depannya. Bentuk wajah oval dengan hidung mancung dan bibir sedikit tebal. Alisnya tampak natural dan berbaris rapi, bukan hasil lukisan atau sulam di salon-salon.

Tubuhnya ramping dan tidak terlalu tinggi. Tipikal ibu-ibu mudah yang biasa ditemui mengantar anak ke sekolah atau sedang berbelanja di mall. Tapi Wira tidak mau tertipu. Pengalaman mengajarkan orang-orang yang terlihat polos dan tanpa dosa pun bisa terlibat tindakan kriminal.

Elena tidak menyadari polisi di depannya sedang memandangnya dengan cermat. Dia masih sibuk dengan pikirannya yang berusaha mencerna semua kejadian ini.

Perhatian Wira pada Elena teralih, saat anak buahnya masuk. Elena ikut mengangkat wajahnya. Harap-harap cemas memandang polisi yang baru saja masuk. Masih berharap mendapatkan kabar baik dan bisa segera keluar dari kantor polisi ini.

“Barbuk (barang bukti) Positif, Ndan,” kata anak buah Wira dengan tegas setelah memberi hormat.

“Tes darah?” tanya Wira.

“Negatif.”

Tubuh Elena gemetar. Dia bisa menduga arah percakapan dua polisi ini. Wira kembali menatapnya. Elena menangkap sekilas sorot prihatin di mata Wira.

“Barang yang ada di dalam boneka tadi positif Nar k0 ba,” kata Wira dengan nada jelas dan tegas. “Tapi tes darah anda negatif. Tidak ada narkoba dalam darah anda.”

"Tes darah saya pasti negatif, Pak. Saya tidak pernah menggunakan barang-barang seperti itu. Soal boneka tadi..." Elena menggeleng-geleng. Tidak percaya dengan kata-kata yang baru saja didengarnya. Bagaimana bisa ada narkoba dalam boneka? Dengan bibir bergetar dia bertanya, “Jadi… jadi gimana, Pak?”

“Kasus ini akan kami proses. Anda kami tahan sampai duapuluh hari ke depan.”

“Apa…?!?!? Enggak mungkin, Pak. Saya enggak mungkin bawa nar k0 b4. Saya bukan pemakai. Pasti ada kesalahan.”

“Justru itu akan kami selidiki.” Wira menggerakkan kepalanya. Kode supaya Elena dibawa pergi. Dua orang polisi wanita masuk dan memegang lengan Elena.

“Lepasin saya, Pak! Lepasin….!!!” Elena meronta-ronta tapi dua orang polwan itu terlalu kuat baginya. “Saya enggak salah! Saya enggak salah!" jeritan itu keluar dari mulut Elena berulang-ulang. Jeritan yang terus terngiang-ngiang di telinga Wira, bahkan sampai sosok Elena sudah tidak terlihat.

Novel Pembalasan Istri Setelah Di
Bisa dibaca di KBM App
Akun dewi_muliyawan

DI PESTA REUNI, KANIA MENEMUKAN BUKTI PERSELI NGKUHAN SUAMINYAKANIA LANGSUNG BERTINDAK ______________________Cinta Rahas...
12/08/2026

DI PESTA REUNI, KANIA MENEMUKAN BUKTI PERSELI NGKUHAN SUAMINYA
KANIA LANGSUNG BERTINDAK
______________________

Cinta Rahasia Suamiku
Bab 6: Wanita dalam Foto

“Hei, ini kan Jenna…” tunjuk Sophie dengan nada tinggi. Telunjuknya menghujam foto yang kupegang.

“Iya, benar,” aku mengganggu pelan sembari menelan ludah. Pahit.

Sesaat pandangan kami berdua terpaku pada foto lama itu. Memandang dengan seksama pada wanita yang berfoto di samping Niko.

Memang profil wanita di foto itu agak berbeda dengan Jenna yang sekarang. Di dalam foto, wajahnya lebih polos tanpa make up berlebihan. Hidungnya tidak semancung sekarang, p**inya masih chubby dan dagunya belum runcing.

Foto ini adalah bukti kecanggihan sentuhan tangan para ahli kecantikan yang mampu membuat wajah Jenna sekarang jauh lebih cetar membahana daripada saat remaja dulu. Walau ada perbedaan, tapi masih terlihat kalau wanita di foto itu emang Jenna remaja.

Tidak mudah pastinya menerima kenyataan ini. Dadaku sesak menahan gejolak perusahaan. Seakan ada gelombang panas menerjang dadaku, melihat kemesraan Niko dan Jenna remaja dalam foto itu. Bahkan di mataku wajah remaja itu berganti dengan wajah mereka di usia sekarang.

Foto ini menjadi bukti kuat kalau Niko memang dekat dengan Jenna. Bisa jadi kedekatan itu terus terjali sejak dulu. Atau mereka baru bertemu sekarang setelah Niko menikah denganku.

Apapun yang terjadi, sungguh bukan alasan bagi Niko untuk menjalin hubungan di belakang punggungku. Kalau saja dia berterusterang, mungkin aku akan berlapang dada melepaskannya. Tapi dengan cara menikam dari belakang seperti ini, maka aku pun akan bermain cantik. Niko dan Jenna harus mendapat pelajaran bahwa ada pembalasan untuk setiap perbuatan. Apalagi perbuatan seperti pers3lingkuhan seperti ini pastinya akan mendapat balasan yang sama menyakitkannya.

“Ternyata mereka saling mengenal sejak remaja ya..." Kata-kata Sophie menarikku dari lamunan.

“So, sudah terbukti nih, Nia. Mereka memang memiliki hubungan akrab. Sejak mereka remaja lagi. Awet banget.”

Entah maksud Sophie memuji atau menyindir dengan mengatakan hubungan Niko dan Jenna awet.

“Rencanamu apa sekarang, Nia?” tanya Sophie lagi dengan nada prihatin. Mungkin dia jatuh kasihan melihat wajahku yang memucat dan bibirku gemetar. “Jangan nangis d**g, Nia.”

“Enggak lah.” Aku berkata tegas. “Enggak sudi aku menangis untuk mereka. Aku cuma masih terkejut….” kilahku berusaha terlihat tegar. Aku memaksakan senyum kecil hadir di bibirku, hanya agar kecemasan Sophie menghilang.

“Rencanaku adalah menangkap basah perlakuan mereka dan membalas perbuatan kejam mereka,” kataku dengan tekat yang kuat.

“Perlukah kita menangkap basah mereka, Nia? Bukankan semua bukti ini sudah cukup kuat?” Sophie berkata dengan nada membujuk. “Maaf, bukannya aku ingin menghalangi. Aku hanya tidak ingin kamu terluka lebih dalam.” Sophie menjelaskan maksud baiknya.

“Perlu sekali, Sophie. Aku tidak puas bila hanya melihat bukti-bukti tidak langsung seperti ini. Menangkap basah mereka akan menjadi pelipur sakit hatiku. Selain itu, Sophie, aku memerlukan barang bukti seperti foto, lebih bagus lagi bila berbentuk rekaman perbuatan mereka.”

“Untuk apa foto dan rekaman itu?” alis Sophie, yang indah, terangkat tinggi. “Kamu enggak bermaksud memviralkan mereka kan?”

“Kamu memang pandai membaca isi pikiranku,” aku memuji Sophie. “Ingat enggak Soph. Profesi Jenna sebagai selebritas yang sangat mengagungkan nama baik. Sedikit saja mereka melakukan kesalahan… Duar!!! Beritanya pasti meledak. Wartawan dan netizen akan mengorek semua kesalahan mereka.

“Jadi bukti-bukti itu akan aku gunakan untuk mempermalukan mereka. Aku ingin mereka berdua mendapatkan pembalasan atas perbuatannya,” suaraku bergetar menahan emosi.

“Aku mengerti, Nia…” Sophie mengusap-usap punggungku. Sekian lama bersahabat dia tahu sekali bagaimana meredakan gejolah emosi dalam hatiku. “Apapun yang kamu lakukan aku akan membantu sekuat tenaga.”

“Kalau begitu sekarang juga kita ke bandara. Kita susul Niko dan Jenna di sana.”

“Sekarang? Ke Singapura?” Shopie melongo heran.

Memang biasanya aku bukan orang yang s**a bertindak impulsif. Aku paling anti bergerak dadakan tanpa rencana. Tapi kali ini waktuku tidak banyak. Rencana menangkap basah memerlukan tindakan cepat dan tepat.

Aku mengangguk tegas. “Yup, sekarang juga!”

***

Seperti biasa penampilan Jenna selalu glamour dalam setiap kesempatan. Kali ini dia memakai busana dengan tema sporty. Celana hitam ketat memeluk kakinya yang jenjang. Blouse merah menjadi daya tarik utama penampilannya. Sepatu boot hitam selutut dan kaca mata hitam yang dipakainya, membuat banyak pria melirik kehadirannya.

Biasanya Jenna selalu menikmati menjadi pusat perhatian seperti itu. Tapi kali ini benaknya sedang kusut. Peristiwa pulpen pada arisan tempo hari dengan Kania sangat mengganggu pikirannya. Dia tidak ingin cerita cinta rahasianya ini terbongkar. Bahaya. Hidupnya bisa hancur. Pernikahan dan karirnya bisa berantakan.

Perkara ini berhasil membuat hidup Jenna resah. Dia jadi kehilangan konsentrasi saat bekerja. Di rumah juga emosinya tidak terjaga. Beberapa kali dia membentak suaminya yang tidak bersalah. Tentu saja buru-buru dia minta maaf. Bagaimanapun Jenna belum siap kehilangan suaminya yang jauh lebih kaya daripada Nico. Bagi Jenna, Nico adalah sumber cinta dan suaminya menyediakan harta. Dia tidak ingin kehilangan salah satunya.

Jenna berniat membicarakan hal ini dengan Niko. Karena itulah dia memerintahkan manajernya untuk membatalkan semua jadwal pekerjaannya hari ini dan menyusul Niko yang memang ada pekerjaan di negara tetangga ini.

Dari bandara, Jenna langsung menyewa sedan mewah untuk mengantarnya ke pusat kota Singapura. Mobil itu berhenti di sebuah gedung perkantoran elite. Niko sudah menunggunya di ruang privat dalam restoran yang terletak di lantai sembilan belas gedung itu.

“Halo sayang…” sapa Jenna mesra sambil memeluk Niko dari belakang. Bi birnya mengecup selintas p**i Niko yang sedang duduk menikmati secangkir kopi. Inilah yang dis**ainya dari Singapura. Di sini dia bebas melakukan apa saja. Tidak perlu takut bertemu dengan wartawan atau penggemar yang bisa mencuri-curi fotonya. Apalagi di ruangan privat seperti ini.

“Haiii… sayang, kok baru sampai, pesawat sempat delayed?” Niko membalikkan badannya, merengkuh pundak Jenna dan membimbingnya duduk di kursi di sampingnya.

Meja bulat di tengah ruangan privat restoran ini dilengkapi dengan enam kursi. Sebenarnya terlalu luas untuk digunakan hanya untuk mereka berdua. Tapi mau tidak mau Nico harus menyewa ruangan ini, karena tidak tersedia tempat yang lebih kecil.

“Biasalah, cuma terlambat sebentar sih. Enggak terlalu parah sih. Masih oke lah,” jawab Jenna dengan ringan.

“Kamu mau minum kopi dulu?” Niko menawarkan saat seorang waiter masuk membawa segelas orange juice sebagai minuman selamat datang untuk Jenna.

“Enggak usah, Yang, Orange juice ini sudah cukup. Aku cuma ingin cepat ngobrol sama kamu,” kata Jenna. Matanya memberikan kode agar Nico membuat waiter itu segera pergi.

Mengerti kode yang diberikan Jenna, Nico segera menyebutkan pesanan makan mereka, supaya tugas waiter itu selesai dan dia segera meninggalkan ruangan ini. Niko tidak perlu bertanya lagi karena sudah hafal makanan dan minuman kegemaran Jenna. Saat Nico bicara dengan waiter, Jenna memerhatikannya dengan pandangan mesra.

“So…” ucap Niko saat waiter itu sudah keluar ruangan. “Apakah ada hal penting yang membuat kamu tiba-tiba menyusulku ke sini? Atau hanya kangen saja?” tanyanya dengan nada menggoda.

“Iih… percaya diri banget menuduh aku kangen…” Jenna memonyongkan bibirnya yang sensual. Hasil dari suntik filler yang dilakukannya bulan lalu.

“Percaya diri lah. Selama ini juga setiap hari kamu selalu bilang kangen lewat pesan di ponselku.”

“Habis, kamu kalau aku enggak kirim pesan pasti lupa deh, seharian enggak kirim kabar. Jangankan telepon, pesan singkat saja enggak ada.”

“Iya deh, sayang… Aku ngaku… kalau lagi sibuk sama kerjaan s**a enggak sempat pegang ponsel. Jangan ngambek lagi ya…” Niko mencolek dagu runcing Jenna.

“Tapi janji, enggak begitu lagi…” rajuknya manja. Matanya mengerjap-ngerjap menggoda. Jenna tahu sekali gayanya yang manja telah memikat hati Niko. Dan dia selalu menggunakannya di setiap perjumpaan mereka.

“Janji doong…” Niko mengangkat dua jarinya, lalu menggenggam eret jemari Jenna. Gemas melihat kelakuan wanita cantik di depannya itu.

“Nik… ehmm… sebenarnya aku menyusul kamu ke sini karena ingin membicarakan sesuatu,” mendadak nada suara Jenna berubah serius. Senyum manjanya juga menghilang.

“Hei… ada apa… Kok mendadak muram begitu?” mau tidak mau Niko jadi kaget. Belum terbiasa dengan prilaku Jenna yang berubah sangat mudah. Sebentar manja lalu galak. Terkadang ceria dan berganti sedih.

“Ini soal Kania…”

Nico mengangkat wajahnya dan memandang Jenna dengan intens saat mendengar nama istrinya disebut. Firasatnya bilang Jenna akan menyampaikan berita buruk.

Bab lengkap di sini ya....

Novel Cinta Rahasia Suamiku
Di KBM App

Serafina harus menanggung akibat karena menjalin hubungan terlarang dengan suami orang ===================Novel Karma Sa...
10/08/2026

Serafina harus menanggung akibat karena menjalin hubungan terlarang dengan suami orang

===================

Novel Karma Sang Pelakor
Bab 2 Mulai Curiga

Semua kejadian ini berawal dari beberapa bulan lalu. Mareta mulai menaruh curiga pada Taufan karena merasakan perubahan perilakunya. Taufan mulai lebih sering p**ang larut malam. Biasanya jam delapan malam Taufan sudah sampai di rumah. Mereka masih bisa makan malam bersama, lalu menanti kantuk bersama dengan menonton televisi.

Tapi makin lama, Taufan p**ang lebih malam. Bahkan tidak jarang menjelang pagi baru dia sampai di rumah. Ada-ada saja alasannya. Lembur, menghindari macet, rapat dadakan dan seribu satu alasan lainnya.

Anehnya lagi setiap kali p**ang terlambat, ponselnya juga tidak bisa dihubungi. Pesan singkat yang dikirimkan Mareta juga tidak pernah terjawab. Tentu saja Taufan juga sudah menyiapkan beribu alasan untuk menjawab pertanyaan Mareta. Low batt dan meeting jadi alasan yang paling sering digunakannya.

Taufan yang biasanya selalu terbuka juga berubah jadi pribadi yang misterius. Penuh dengan rahasia Naluri Mareta bisa merasakan Taufan menyembunyikan sesuatu.

Satu hal yang paling aneh adalah Taufan tidak lagi membiarkan Mareta melihat ponselnya. Alat komunikasi itu seakan menempel di tubuhnya. Tidak pernah sekalipun Taufan menaruh ponselnya sembarangan. Dia bahkan akan sangat marah kalau Mareta menyentuh alat komunikasi itu.

Pernah satu hari Taufan terburu-buru ke toilet, hingga terlupa membawa ponselnya. Mendadak gawai itu berdering nyaring. Dengan maksud membantu suaminya, Mareta membawa ponsel itu ke toilet.

“Fan, ada telepon nih…” Mareta mengetuk pintu kamar mandi. Matanya menangkap nama Fino di layar telepon. Mareta tidak kenal si Fino ini. Sepanjang pengetahuan Mareta tidak ada satu pun teman Taufan yang bernama Fino. Padahal Mareta kenal hampir semua teman Taufan.

Gubrak. Gubrak. Terdengar bunyi tutup closet dibanting.

“Fan… kenapa?” Mareta heran mendengar suara berisik itu. Jangan-jangan Taufan terpeleset dan jatuh. Ternyata...

Brak!!! Pintu toilet dibuka dengan kasar hingga membentur dinding dengan suara keras. Wajah Taufan mendadak muncul dengan ekspresi marah. Kulit mukanya sampai merah padam. Dengan cepat tangannya terjulur dan merenggut ponsel itu dari tangan Mareta. “Jangan usil mengambil ponselku!”

“Eh siapa yang usil?!” balas Mareta kesal. Maksudnya membantu Taufan, tapi malah mendapat respon seperti itu. “Aku cuma mau membantu kok. Siapa tahu itu telepon penting. Tapi kalau kamu tidak terima, ya sudah!” dengan menghentakkan kaki keras Mareta pergi dengan kesal.

Diam-diam timbul curiga dalam hatinya. Taufan tidak perlu semarah itu kalau dia jujur. Mareta langsung menduga pasti ada sesuatu yang Taufan sembunyikan dalam ponselnya. Dan bagi seorang pria, apalagi rahasianya kalau bukan wanita idaman lain.

Mareta pergi ke dapur dan menyeduh teh. Dia perlu ketenangan untuk bisa berpikir lebih jernih. Benaknya bekerja keras mencari cara untuk membuktikan kebenaran dugaannya. Membuka ponsel Taufan jadi satu jalan untuk mendapatkan barang bukti.

Sejak saat itu Mareta selalu mencari-cari kesempatan untuk mengambil ponsel Taufan.
Bukan hal yang mudah untuk mengambil dan membuka ponsel Taufan tanpa ketahuan pemiliknya. Kesempatan itu datang juga tanpa diduga. Hari Sabtu itu, pagi-pagi sekali Taufan sudah rapi.

“Mau kemana sih, hari libur begini?” Mareta melontarkan protes lembut. Wajar saja dia keberatan. Sejak Senin hingga Jumat, Taufan seperti sibuk sendiri saja, masa’ Sabtu dan Minggu dia mau pergi juga.

“Aku ada urusan,” terang Taufan sambil menyisir rambutnya. Lalu… srot… srot… dia menyemprotkan parfum dalam jumlah berlebihan. Aroma rempah yang hangat langsung memenuhi ruangan.

Centil sekali, batin Mareta. Di matanya tingkah laku Taufan serupa dengan remaja yang baru merasakan puber pertama. Atau ini yang dinamakan puber kedua? Kondisi yang sering dialami seorang pria di usia pertengahan tigapuluhan?

“Makan pagi dulu, Fan,” desak Mareta. Sudah terlalu lama mereka tidak pernah lagi makan bersama.

Malas berdebat, Taufan mengikuti permintaan Mareta. Apalagi dilihatnya nasi goreng yang mengepul di atas meja. Salah satu makanan favoritnya. Sambil makan, Taufan memainkan ponselnya. Sama sekali tidak berminat untuk berbincang dengan Mareta. Kelakuannya membuat Mareta kesal.

“Aduh aku terlambat!” seru Taufan tiba-tiba setelah melirik jam di pergelangan tangannya. Terlalu asyik makan sambil bermain ponsel telah membuatnya lupa waktu. “Gimana sih, kamu kok enggak mengingatkan aku?”

“Bagaimana aku bisa mengingatkan?” Balas Mareta kesal. “Kamu tidak memberitahu akan pergi kemana dan jam berapa.”

Taufan mendengkus kesal, lalu pergi begitu saja. Begitu buru-burunya Taufan hingga tidak sadar kalau ponselnya di atas meja. Spontan bibir Mareta bergerak, hendak mengingatkan Taufan, mendadak Mareta membatalkan niatnya dan membiarkan saja ponsel itu tergeletak. Justeru dia mengikuti langkah Taufan ke garasi.

Mendengar langkah Mareta di belakangnya, Taufan makin mempercepat gerakannya. Sepintas mereka seperti sedang bermain kejar-kejaran.

Begitu sampai di garasi, tangan Taufan dengan cepat menekan kunci mobil. Dari beberapa mobil yang ada di garasi itu, dia memilih menggunakan sedan sport yang paling mahal. Mobil yang dihadiahkan orangtua Mareta pada hari ulangtahun pernikahan mereka.

Sedan berwarna biru mengilat itu hanya memiliki dua tempat duduk. Biasanya Taufan menggunakannya untuk bepergian bersama Mareta. Tapi kali ini Mareta hanya bisa memandang marah saat mobil itu menderu pergi. Sungguh dia tidak rela ada wanita lain yang menempati tempat duduk di samping Taufan. Di dalam mobilnya.

Bergegas Mareta berbalik. Kembali ke meja makan dan menyambar ponsel Taufan. Dibawanya ponsel itu ke dalam kamar. Mareta mengunci pintu supaya lebih aman. Dia ingin konsentrasi membuka ponsel itu. Tidak ingin terganggu asisten rumah tangganya yang pasti sering mondar-mandir dalam rumah.

Perasaan panik dan tegang membuat jari Mareta bergetar. Sejenak dia menarik napas supaya lebih tenang. Disentuhnya layar ponsel itu. Ah, dikunci. Desahnya kesal. Tenang Mareta, coba tebak kata sandi yang digunakan Taufan.

Dengan pesimis, Mareta mengetikkan tanggal lahir Taufan. Gagal. Tentu saja. Siapa juga yang nekat menggunakan tanggal lahir sebagai kata kunci. Percobaan kedua Mareta mencoba menggunakan tanggal pernikahan mereka.

Yes!!! Mata Mareta berbinar saat ponsel Taufan terbuka. Mareta menggelengkan kepala, tidak menyangka Taufan akan menggunakan tanggal pernikahan mereka sebagai kata kunci.

Jantung Mareta berdetak cepat saat jarinya menyentuh simbol galeri. Segera saja ratusan foto terbuka di sana.

Jari Mareta bergerak lagi. Mencari folder yang memiliki nama mencurigakan. Folder kantor, friends dan rumah segera dilewatinya. Sampai dia melihat folder Fino.

Hei, itu kan nama orang yang menelepon Taufan tempo hari? Mengapa sampai dibuatkan folder tersendiri? Siapakah Fino?

Dengan tangan bergetar, Mareta berusaha membuka folder kump**an foto di ponsel itu.

Bab lengkap di KBM App
Novel Karma Sang Pelakor
Dewi_muliyawan

SAAT RUMAH TANGGA EVA GOYAHRICKY HADIR SEBAGAI MANTAN TERINDAH_________________MANTAN TERINDAH UNTUK EVABab 1: Pertemuan...
10/08/2026

SAAT RUMAH TANGGA EVA GOYAH
RICKY HADIR SEBAGAI MANTAN TERINDAH
_________________

MANTAN TERINDAH UNTUK EVA

Bab 1: Pertemuan

Terik sinar matahari seperti memanggang kepala dan wajah Eva. Titik-titik peluh muncul di dahi dan p**inya, juga mengalir di punggung dan dada, hingga baju dan rambutnya basah.

Wajah Eva kusam tanpa bedak dan bibirnya pucat, tanpa p**asan lipstik. Sendalnya yang tipis tak mampu melindungi telapak kakinya dari panas aspal. Kedua tangannya kaku, menahan berat belasan kotak nasi pesanan Bu Andi. Bebannya masih ditambah dengan menggend**g Alya yang baru genap berusia setahun bulan depan. Sedangkan Lisa, anak pertamanya, berjalan di samping sambil memegang ujung rok Eva.

Pandangan Eva nanar menatap sedan-sedan mewah yang silih-berganti melintas di jalan. Terbayang nyamannya berada di salah satu sedan itu. Pasti udara panas ini tak terasa, berganti dengan sejuknya hembusan angin AC.

Ah, tak usahlah sedan mewah, Eva akan sangat senang seandainya saja punya ongkos untuk menumpang ojek atau angkot. Sayang tak sepeserpun u@ng ada di dompetnya. Sejak suaminya tak lagi bekerja, usaha membuat nasi box inilah yang menjadi tumpuan hidup keluarga kecil Eva.

Pembayaran dari Bu Andi nanti sangat Eva harapkan untuk ongkos p**ang. Bahkan Eva sudah berjanji dalam hati, setelah mendapatkan ua@ng nanti, dia akan membelikan kue-kue dan minuman untuk Alya dan Lisa. Pasti mereka senang. Mereka anak-anak yang pintar dan sangat mengerti beban kedua orangtuanya. Sama sekali tidak rewel bahkan ketika harus berjalan kaki sejauh ini di tengah hari.

“Bun, haus…” Lisa menarik baju Eva perlahan.

Eva menghela napas. Dia meletakkan plastik besar di atas trotoar, lalu merogoh tas slempangnya. "Ini, sayang...,” Dia menyodorkan botol berisi air putih.

Lisa meneguknya cepat. Kelihatan sangat menikmati air yang membasahi bibirnya." Sudah, Bun. "

Eva sedang memasukkan botol ke dalam tas, saat sebuah sedan hitam mengilat berhenti tepat di sisinya.

Jendela mobil berwarna gelap itu terbuka. Seraut wajah muncul. " Eva, ya...?” tanya pria itu ragu.

Eva tertegun mendengar namanya dipanggil. Perlahan dia mengangkat wajahnya. Belum pernah Eva sekaget ini. Wajah itu sangat dikenalnya. Wajah yang pernah mengisi hatinya bertahun-tahun yang lalu.

Eva mengerjapkan mata beberapa kali. Barangkali panas matahari ini menimbulkan efek halusinasi atau fatamorgana? Entah apa namanya, yang jelas kondisi melihat sesuatu yang sesungguhnya tidak ada. Tapi tidak, setelah matanya terbuka kembali wajah itu masih ada. Raut yang sangat dikenalinya. Paras yang tidak berubah, bahkan setelah lima tahun mereka tak saling berjumpa. Wajah seorang pria dengan hidung yang tinggi, rahang yang kokoh dan tarikan bibir tegas, dihiasi mata yang selalu berbinar ramah. Ah, bukankah dia tinggal nun jauh di Amerika sana?

“Ricky...?”

“Ya, ampun. Eva, apa kabar,” Ricky segera turun dan menjabat tangan Eva erat.

"Kabar baik." Eva berusaha menyembunyikan rasa gugupnya. Ini sungguh waktu yang sangat tidak tepat untuk bertemu dengan mantan pacar.

“Kamu mau kemana?” tanya Ricky lagi dengan tangan masih menggenggam jemari Eva.

“Eh… aku… mau ke.. Jalan Wijaya Kusuma,” Eva berusaha fokus. Dia menarik pikirannya kembali ke dunia nyata. Mengusir bayang-bayang masa lalu yang sekejap mampir di benaknya. Dengan halus dia berusaha membebaskan tangannya dari pelukan jemari Ricky.

“Ayo aku antar. Kebetulan kita searah. " Senyum mengembang di wajah Ricky. Wajahnya sumringah seperti orang yang menemukan sebongkah berlian. Senyum yang dulu sangat lekat di hati Eva.

Keraguan mampir di hati Eva. Sungkan rasanya harus semobil dengan Ricky. Tapi dengan menerima tawarannya, berarti ia bisa sampai lebih cepat di rumah Bu Andi. Lebih cepat p**a menerima pem bayaran pesanannya. Dan anak-anaknya tidak perlu susah berjalan di tengah panas matahari lagi. Eva bimbang.

Inikah yang dinamakan dejavu? Pikir Eva dalam hati saat duduk di dalam mobil Ricky. Dia merasa terlontar kembali ke masa lalu. Saat-saat manis kala dia dan Ricky masih menjalin hubungan istimewa. Semua teman-temannya menjuluki Eva dan Ricky sebagai pasangan yang tidak pernah terpisahkan. Semua kegiatan mereka lakukan bersama, belajar di kampus, jalan-jalan ke mall, olahraga, semuanya.

Seingat Eva, hubungan mereka berjalan sangat mulus. Tidak ada ganjalan yang berarti. Mereka hampir tidak pernah bertengkar. Cemburu? Ada sesekali rasa itu datang saat Ricky melihat Eva bicara terlalu akrab dengan teman-teman prianya. Juga kala Eva merasa Ricky terlalu sibuk dengan hobinya bermain game. Tapi semua itu hanya bumbu pemanis hubungan cinta mereka. Bukan pertengkaran hebat yang mengundang tangis.

Bisa dibayangkan bagaimana kagetnya Eva ketika hubungan mereka berakhir begitu saja. Ya bahkan tanpa kata putus. Ricky menghilang begitu saja satu minggu setelah wisuda. Tiba-tiba saja Eva tidak bisa menghubungi pria itu. Ponselnya mendadak tidak aktif. Teman-temannya tidak tahu kemana Ricky pergi. Bahkan kala mendatangi rumah Ricky, Eva hanya melihat rumah tidak berpenghuni.

Entah apa yang terjadi saat itu. Hingga kini terkadang tanya itu masih mampir ke hati Eva. Hatinya hancur. Kesedihannya seperti tak berujung. Tak habis pertanyaan muncul di hatinya tentang penyebab kepergian Ricky. Apakah karena ada wanita lain? Atau Ricky sudah mulai bosan? Tentu saja tidak ada satupun yang terjawab. Eva hanya bisa pasrah dan membiarkan waktu menyembuhkan luka hatinya. Masih berharap satu hari nanti dia bisa kembali bertemu Ricky untuk mencari jawaban atas pertanyaannya.

Dan kini saat bertemu kembali dengan Ricky, bibirnya sama sekali tidak kuasa untuk berkata-kata tentang masa lalu mereka.

Eva baru menyadari kalau bertemu kembali dengan mantan pacar ternyata rasanya sama sekali tidak indah. Mantan adalah mantan, dia sudah bukan pacar lagi. Apalagi setelah bertahun-tahun tidak bertemu, kemesraan sudah menghilang, bahkan keakraban tidak lagi terasa. Yang tersisa hanyalah rasa canggung dan salah tingkah. Itulah yang dirasakan Eva saat ini saat bersama Ricky. Kalau saja tidak melihat dua putrinya yang sangat lelah pasti Eva akan menolak menerima tawaran Ricky. Dia merasa tidak nyaman berada dalam satu mobil dengan pria itu. Padahal mereka tidak berdua seperti dulu, ada Taryo supir Ricky dan tentu saja Alya serta Lisa.

Udara panas dan terik matahari tidak lagi terasa di dalam mobil. Hembusan angin sejuk dan wangi langsung menyambut Eva dan dua putrinya. Kenyamanan yang mengundang rasa kantuk Alya dan Lisa yang sudah lelah berjalan.

“Lisa, geser sedikit, nak,” Eva berusaha memperbaiki posisi duduk Lisa yang bersandar di lengan Ricky.

“Enggak pa-pa, Va,” cegah Ricky. “Kasihan nanti dia terbangun.”

Tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan. Eva dan Ricky sama-sama tertegun. Hening terjadi saat pandangan mereka bertemu membuat kecanggungan di antara mereka terasa makin kental. Buru-buru Eva mengalihkan pandangannya pada Alya yang tertidur di pangkuannya. Jari-jarinya membelai rambut Alya yang basah oleh keringat.

“Jadi sekarang kamu berb isnis catering?” tanya Ricky berbasa-basi untuk mencairkan suasana.

Eva mengangkat wajahnya dan tersenyum sopan. “Iya, baru merintis sih, Rick. Masih usaha kecil-kecilan.”

“Semua usaha juga awalnya kecil, Va. Aku yakin catering kamu ini akan berkembang pesat.”

“Aamiiin, terimakasih doanya.”

“Dan boleh d**g kalau kantorku pesan makanan ke kamu? Kamu bisa buat kue-kue untuk rapat kan?”

“Bisa, bisa, Rick. Cuma kalau bisa pesanannya jangan terlalu mendadak ya. Maklum deh semuanya masih aku kerjakan sendiri. Apalagi aku masih harus bagi waktu dengan mengurus anak-anak,” tawaran Ricky membangkitkan semangat bisnis Eva. Setiap peluang adalah rezeki untuk anak-anaknya.

“Pasti. Aku akan kasih kabar beberapa hari sebelumnya. Aku minta telepon kamu ya, biar gampang kalau mau pesan makanan.”

Eh? Eva terdiam sejenak. Bertukar nomer telepon berarti membuka lagi jalur komunikasi di antara mereka. Rasa tidak nyaman menyelinap di hati Eva mengingat status mereka di masa lalu. Apakah dia harus meminta izin suaminya?

Ah, Ferdi pasti tidak keberatan. Antara Eva dan Ricky sudah tidak ada sesuatu yang istimewa lagi. Pria itu meminta nomer teleponnya semata untuk urusan bisnis.

Dengan pertimbangan itu Eva menyebutkan deretan angka nomer teleponnya, yang langsung direkam Ricky dalam ponselnya.

“Maaf, Bu. Di depan belok kanan ya?” tanya Pak Taryo, supir Ricky.

“Oh, iya, Pak. Enggak jauh dari perempatan ini ada rumah tingkat warna biru muda,” Eva melanjutkan memandu Pak Taryo menuju rumah Bu Andi.

“Biarkan saja anak-anak tidur di mobil,” bisik Ricky saat mobil sudah berhenti di rumah tujuan. Suaranya pelan karena tidak mau membangunkan Alya dan Lisa.

Eva mengangkat wajahnya heran. “Tapi…”

“Biar dijaga Taryo.” lanjut Ricky meyakinkan Eva. “Kamu tidak lama kan?”

Ricky memerintahkan Taryo untuk membuka kaca mobil sedikit sebagai jalan untuk oksigen masuk. Setelah itu Taryo membantu menurunkan box-box makanan dari bagasi, lalu berdiri di samping pintu mobil, menunggu.

“Yuk,” ajak Ricky. Sementara Eva masih terpana karena di depannya berdiri pria berpenampilan rapi lengkap berdasi dengan dua tangan menenteng box makanan.

“Tidak usah, Rick,” kata Eva melihat Ricky ikut menenteng box makanan.

“Kenapa? Ini enteng kok, biar aku bantu biar cepat selesai. Jadi kamu enggak perlu bolak-balik ke mobil.”

Bahkan Bu Andi juga ternganga melihat Eva datang bersama seorang pria tinggi dan tampan. Wanita setengah baya itu buru-buru membuka pintu pagar rumahnya. “Ah, Mbak Eva sudah datang, ayo silakan masuk,” sapanya ramah sambil melirik-lirik sedan biru mengilap yang parkir tepat di depan pagar. “Mobil baru nih?” Mata Bu Andi membelalak penuh selidik.

Eva tahu pasti sebentar lagi beritanya datang diantar pria bermobil mewah akan tersebar.

“Ah bukan mobil saya, Bu,” jawab Eva tersipu. “Itu mobil teman saya.”

“Oh begitu,” Bu Andi melempar senyum ke Ricky.

“Ayo silakan duduk dulu, Mbak. Saya sediakan minum ya. Mau minum apa nih? Teh manis dingin atau hangat?”

“Tidak usah, Bu,” tolak Eva karena merasa tidak nyaman dengan keramahan Bu Andi yang berlebihan. Sungguh, biasanya Bu Andi tidak pernah seramah ini. Apakah ini efek dari kehadiran Ricky? Evan tidak tahu. “Kebetulan saya buru-buru. Itu anak-anak tidur di mobil.”

“Yah, padahal saya masih pengen ngobrol-ngobrol dulu,” Bu Andi tampak kecewa, dia masih ingin mengorek informasi tentang pria tampan di sampingnya itu.

“Maaf ya, Bu. Mungkin lain kali, kalau sedang senggang saya datang lagi.”

“Benar ya. Janji lo datang ke sini lagi. Jangan lupa ajak Mas ini.”

Wajah Eva memerah mendengan kata-kata Bu Andi. Dia melirik Ricky dengan pandangan meminta maaf, tapi pria itu hanya tersenyum lebar, tidak tampak terganggu dengan kata-kata Bu Andi.

“Maaf, ini kwitansinya, Bu,” Eva ingin segera menyelesaikan urusannya dengan Bu Andi. Makin lama dia di rumah ini, Bu Andi akan leluasa menyalurkan hasratnya mencari informasi.

“Oh ya ya, hampir lupa. Ini ua@ ngnya ya,” dari dompetnya, Bu Andi mengeluarkan beberapa lembar limapuluh ribu dan menyerahkannya ke tangan Eva.

“Terima kasih, Bu. Ditunggu pesanan selanjutnya,” Eva menerima uang itu dan dengan hati-hati menyimpannya dalam tasnya yang sudah lusuh.

“Pasti, pasti, nanti kalau saya ada acara lagi pasti pesan sama Mbak Eva,” Bu Andi menjawab tanpa memandang wajah Eva. Matanya terpaku pada Ricky. Cepat-cepat Eva pamit.

“Sekarang kamu mau kemana, Va?” tanya Ricky saat mereka berjalan beriringan menuju mobil.

“Pulang, Rick.”

“Aku antar ya?”

“Aduh jangan nanti merepotkan. Aku biasa naik kendaraan umum kok. Apalagi sekarang tidak perlu membawa box makanan itu. Lebih mudah.”

“Sudah tanggung, sekalian saja. Kasihan anak-anak, pasti masih tidur.”

“Memang kamu enggak ada keperluan lain?”

Ricky tertawa, “Tenang saja kalau urusanku gampang diatur. Yang penting kamu bisa p**ang ke rumah dengan cepat dan selamat.”

Lagi-lagi dengan pertimbangan anak-anak, Eva menyetujui usul Ricky untuk mengantar mereka p**ang. Tentu saja dia kaget ketika mobil Ricky berjalan menyimpang dari jalur yang seharusnya.

“Enggak lewat jalan sini. Rick.”

“Memang,” senyum lebar tergambar di wajah Ricku. “Kita mampir makan sebentar ya. Sudah lewat jam makan siang. Anak-anak belum makan kan?”

“Tapi…” sebenarnya Eva memang sudah berniat mengajak anak-anak mampir ke warung makan setelah mendapat pembayaran dari Bu Andi.

Mobil memasuki tempat parkir restoran ayam goreng.

“Anak-anak s**a makan di sini kan?” Ricky bertanya lagi.

Eva mengangguk ragu. Ayam goreng berbalut tepun itu selalu jadi makanan kes**aan anak-anaknya. Apalagi di restoran itu tersedia tempat bermain untuk anak-anak. Makanan enak dan tempat bermain jadi daya tarik kuat restoran ini. Tidak heran bila Lisa dan Alya sering merengek, mengajak Eva untuk mampir menikmati hidangan ayam goreng di sini. Tentu saja Eva jarang sekali bisa mengabulkan permintaan mereka. Uang di dompetnya sangat terbatas. Biasanya Eva akan membujuk Alya dan Lisa untuk membuat sendiri ayam goreng seperti itu. Lebih murah pasti, meski rasanya tidak sama.

Terbit kagum dalam hati Eva akan perhatian Ricky pada anak-anaknya. Bagaimana dia tahu kalau anak-anak s**a ke restoran semacam itu?

“Horeeee…!” baru saja mobil berhenti di tempat parkir, Lisa sudah bangun dan bersorak. Matanya membulat kegirangan menatap bagian depan bangunan restoran itu. Mata Eva menghangat melihat kegembiraan di mata puterinya.

“Yuk," ajak Ricky mengulurkan tangannya. Menuntun Lisa turun. “Mari aku bantu,” ujarnya dengan ringan mengambil Alya dari pangkuan Eva.

“Biar aku saja, Rick. Berat.”

Ricky tersenyum lebar. “Rasanya aku lebih kuat dari kamu. Lebih baik kamu mengawasi Lisa saja. "

Eva mengikuti pandangan Ricky dan langsung menjerit tertahan. Lisa sudah berlari masuk ke restoran. “Lisa, tunggu mama,” Eva segera berjalan cepat ke arah Lisa yang sudah berdiri di pintu masuk. Tidak tahan untuk segera bermain di area playground dalam restoran

“Silakan masuk, Bapak, Ibu,” sapa waiter yang kebetulan sedang berdiri di dekat pintu masuk. “Puterinya cantik sekali,”

Eva tersipu mendengar sapaan itu, dia melirik Ricky. Pria itu tampak tampak tidak keberatan dengan kata-kata yang dilontarkan waiter. Ricky malah tersenyum lebar, seperti senang sekali karena waiter itu mengiranya suami Eva dan ayah anak-anaknya. Mereka memang mirip gambaran ideal keluarga bahagia, ibu dan bapak serta dua orang anak.

Novel Mantan Terindah untuk Eva
Bisa dibaca di KBM App
Akun dewi_muliyawan

Address

Tangerang
Banten
15820

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Graha Kosmetik posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Graha Kosmetik:

Shortcuts

Share