Graha Kosmetik

Graha Kosmetik Tempat cerita-cerita dan skincare pilihan

“Kamu mau kemana, Gi?” tanya Mami, melihat Regi mengambil tas dan menyampirkan jas di pundaknya.“Mau ke kantor, Mi. Ada ...
11/06/2026

“Kamu mau kemana, Gi?” tanya Mami, melihat Regi mengambil tas dan menyampirkan jas di pundaknya.

“Mau ke kantor, Mi. Ada kerjaan yang harus aku selesaikan.”

“Sudah hampir jam makan siang.” Nina menggamit lengan kakaknya. “Kita makan bareng dulu yuk, Gi. Tadi aku lihat di dapur, menu makan siang hari ini enak-enak. Makanan kes**aan kamu semua.”

“Aku belum lapar.” Regi menepuk sayang puncak kepala Nina. “Kamu makan duluan saja sama Mami dan Papi.”

“Jangan biasakan makan telat, Gi. Mami nggak mau kamu kena penyakit lambung.”

Regi mengangguk. “Iya, Mi. Jangan khawatir Nanti di kantor aku suruh office boy untuk beli sandwich.”

Sambil melangkah cepat, otak Regi terus bekerja. Mencari jalan terbaik untuk mewujudkan rencananya. Sengaja ia tidak keluar rumah menggunakan pintu depan. Regi berbelok menuju pintu garasi. Sopirnya lebih sering duduk-duduk di sekitar area tempat parkir mobil. Jadi Regi bisa langsung cepat berangkat. Tidak perlu menunggu terlalu lama di pintu utama.

Saat baru saja keluar dari pintu samping, Regi tersentak melihat mobil yang tadi digunakan Risa pergi berbelanja terparkir dengan kondisi mesin menyala. Dari jendela mobil yang berwarna gelap, ia masih bisa melihat bayangan Risa yang duduk di kursi belakang.

Dahi Regi berkerut heran. Aneh. Menurut perhitungannya seharusnya Risa masih berbelanja di supermarket. Bergegas Regi mendekat dan mengetuk jendela mobil.

Jari-jari Risa mengepal erat ketika mendengar ketukan di jendela. Risa tidak menoleh tapi ujung matanya melihat bayangan wajah Regi di balik kaca mobil.

“Ada Pak Regi, Bu.” Didin menoleh, seakan ingin memastikan Risa masih belum menyadari kehadiran suaminya di luar mobil.

“Biarkan, Pak. Langsung saja tancap gas. Saya mau cepat-cepat sampai ke klinik. Sudah pusing banget,” perintah Risa nekat. Ini masalah nyawa, ia tidak punya pilihan lain, harus kabur secepatnya.

“Tapi… tapi… saya nggak berani, Bu. Takut dimarahin Pak Regi….”

Lemas tubuh Risa mendengar ucapan Didin. Apalagi setelah sopirnya itu malah mematikan mesin mobil. Meskipun kecewa, tapi dalam hati Risa tidak menyalahkan sopirnya itu. Ia bisa mengerti reaksi Didin. Pria setengah baya itu pasti tidak akan berani membantah perintah boss-nya. Melawan Regi bisa berakibat dipecat. Di masa sulit mencari pekerjaan seperti sekarang ini, tidak ada yang mau kehilangan status sebagai karyawan. Apalagi Didin yang masih harus mencari nafkah untuk keluarganya.

Dari luar Regi memberi kode agar Didin membuka kunci mobil. Didin menekan satu tombol. Dan klik! Kunci pintu mobil terbuka. Dengan satu tarikan tegas Regi membuka pintu.

“Loh kok kamu ada di sini, Sa? Katanya tadi mau belanja ke supermarket. Sudah selesai? Mana belanjaanmu?”

Mencelos hati Risa mendengar rentetan pertanyaan Regi. Seketika sekujur tubuhnya kaku. Gugup ia menoleh. Terlambat sudah. Ia tidak bisa kabur. Seperti robot Risa menoleh memandang Regi dan memaksakan senyum di bibirnya.

“Eh… itu… anu….” Risa kehilangan kata-kata. Apalagi melihat mata Regi menyipit curiga. Ucapan Regi di ruang kerja tadi terngiang lagi di telinga Risa: Pokoknya kalian semua harus membantuku menghabisi dia!

“Ini aku baru saja sampai rumah, Gi.” Akhirnya Risa berhasil menyembunyikan cemas yang memenuhi hatinya. Dengan nada suara sedatar mungkin, ia berdusta untuk melindungi diri. “Tapi belum belanja. Maaf ya. Tadi begitu sampai ke supermarket, aku baru sadar kalau dompetku ketinggalan. Jadi aku balik lagi. Ini aku mau langsung pergi belanja. Mumpung masih siang. Makin sore supermarket biasanya lebih ramai.” Risa melontarkan alasan pertama yang melintas di benaknya.

“Kalau dompetmu ketinggalan, kamu kan bisa bayar pakai aplikasi di ponsel.” Alis Regi terangkat. Heran.

“Oh iya ya.” Risa menggaruk pelipisnya, gugup. “Aku nggak kepikiran tadi. Keburu panik, Gi. Ya sudah aku balik lagi ke supermarket ya. Mau beli jus titipan kamu.” Bibir Risa menyunggingkan senyum yang paling manis. Sungguh berbeda dengan suasana hatinya yang diselimuti rasa panik dan takut. Dalam pandangan Risa, Regi tidak lagi menjadi sosok suami idaman. Pria tampan itu lebih mirip mahluk pencabut nyawa.

“Nggak usah.” Regi menarik lembut lengan Risa. Mengajaknya keluar dari mobil. “Besok-besok saja belanjanya.”

“Eh kenapa memangnya?” Risa yakin suaranya sedikit bergetar. Regi memang menariknya lembut tapi cengkeraman tangan Regi terlalu kuat, seolah mencegah Risa melepaskan diri. Jangan-jangan dia sudah tahu Risa menguping pembicaraan mereka tadi? Gawat. Nyawa Risa benar-benar sudah berada di ujung tanduk.

“Nggak pa-pa. Lain kali kamu pergi ke supermarket. Kalau nggak ada jus, aku masih bisa minum minuman lain. Atau kamu suruh saja Bi Ikah bikin jus dari buah segar.” Sekilas Risa bisa melihat kilat kejam di mata Regi. Suaminya itu mendekatkan wajahnya, hingga Risa bisa menghidu aroma kopi dari napasnya. “Sekarang sudah hampir waktu makan siang, Sayang. Kita makan dulu yuk. Papi dan Mami sudah menunggu,” bujuknya merayu, seperti memancing Risa memasuki perangkap. Insting Regi membuatnya membatalkan niat makan siang di kantor. Ia curiga ada sesuatu yang terjadi pada Risa.

“Tapi, aku benar-benar perlu belanja sekarang, Gi. Tadi pagi aku cek di dapur persediaan telur, buah dan sayur juga mulai menipis. Aku juga perlu membeli keperluan para asisten rumah tangga, Kamu makan siang duluan saja. Bareng dengan Papi dan Mami. Biar aku makan di mall nanti.” Risa masih berusaha mengelak. Ia menggerakkan tangannya. Berusaha membebaskan dari cekalan Regi. Ia harus kabur secepatnya.

Tapi gelengan Regi memupus harapan Risa. “Kalau memang perlu banget, kamu suruh Ikah saja yang belanja. Kasih daftar barang-barang yang perlu dibeli. Biar Ikah ke supermarket diantar Didin.” Regi menyebut lagi nama asisten rumah tangga paling senior di rumah mereka. Memang wanita berusia lima puluh tahun itu paling dipercaya oleh Regi.

“Ah jangan, Gi. Ikah sering keliru membeli barang, biarpun sudah dikasih daftar belanja. Aku nggak s**a memakai aroma pembersih lantai yang dibelinya bulan lalu. Kamu ingat, dia juga salah memilih mentega kes**aanmu? Biar aku saja yang pergi ke supermarket ya. Aku mau memilih sendiri barang-barang yang harus kubeli.” Risa tidak mau kehilangan kesempatan untuk kabur menyelamatkan diri.

“Kalau begitu kamu bisa pergi besok atau lusa.” Seperti biasa, Regi tidak mau dibantah. “Pokoknya hari ini aku ingin ditemani isteriku makan siang.” Lengan Regi berpindah memeluk kuat bahu Risa. Terlalu kuat.

Novel Warisan Istri Ketiga
Bisa dibaca di KBM App
Akun dewi_muliyawan

Serafina harus menanggung akibat karena menjalin hubungan terlarang dengan suami orang ===================Novel Karma Sa...
11/06/2026

Serafina harus menanggung akibat karena menjalin hubungan terlarang dengan suami orang

===================

Novel Karma Sang Pelak or
Bab 8

“Halo sudah siap untuk pulang?” Dengan tersenyum lebar Taufan masuk ke kamar perawatan Serafina. Tangannya mendorong satu koper kecil untuk membawa barang-barang pribadi Serafina.

Serafina yang sejak pagi duduk menunggu di sofa langsung menyambut kekasih gelapnya itu dengan pelukan dan kecupan ringan di p**i. “Sudah dong… Dari pagi aku sudah siap-siap,” Serafina menyibakkan rambutnya yang masih setengah basah. Aroma sampo yang menyegarkan membelai indera penciuman Taufan. Membuat pria itu tidak bisa menahan diri dan membenamkan hidungnya di helaian-helaian rambut Serafina.

“Aku sudah enggak sabar pulang ke apartemen, Fan,” nada manja terdengar jelas pada suara Serafina. “Bosan rasanya di kamar ini terus menerus. Yang dilihat cuma tembok berwarna hijau ini.” Digandengnya lengan Taufan sampai ke sofa. Wajah Serafina sumringah karena sudah bisa pulang ke apartemennya.

Saking bersemangatnya, sudah sejak tadi pagi Serafina menyiapkan diri. Matahari baru saja terbit saat Serafina selesai mandi. Buru-buru dia mengeringkan rambutnya lalu memilih baju yang pas. Dengan riasan tipis, wajahnya tampak segar. Sudah tidak tersisa bekas kecelakaan tempo hari di wajahnya. Walau masih ada sedikit lebam di rusuk, dada dan punggungnya.

“Kenapa, sayang? Kok diam saja?” Serafina mengangkat alisnya dengan heran melihat Taufan yang memandangnya tanpa berkata-kata. Matanya yang memandang Serafina dengan mesra.

“Enggak pa-pa, cuma belum pernah aku melihat pasien rumah sakit secantik kamu," rayu Taufan sambil membelai p**i Serafina.

“Terima kasih, aku sayang… banget sama kamu, ” Serafina merebahkan kepalanya di dada Taufan.

Inilah salah satu kelebihan Taufan yang mampu memikat hati Serafina. Pria itu tidak pelit dengan pujian. Serafina bisa merasakan p**inya menghangat setiap kali Taufan memujinya. Berada dalam dekapan Taufan sudah memupus bayangan kecelakaan dan ancaman yang mengerikan itu. Tidak ada lagi rasa takut yang tersisa di hatinya.

Bagi Serafina yang terpenting saat ini adalah menikmati kedekatan dengan Taufan. Kecelakaan itu malah membuat Serafina takut kehilangan Taufan. Menyadarkan Serafina kalau dia ingin memiliki Taufan seutuhnya. Tidak mau lagi berbagi dengan wanita manapun. Tidak juga isteri sah Taufan.

Bila dulu hubungannya dengan Taufan hanya untuk bersenang-senang tanpa keinginan untuk bersatu dalam ikatan resmi, kini Serafina bertekad untuk menjadi satu-satunya isteri Taufan. Berarti Mareta harus disingkirkan apapun caranya.

Sayang Serafina memilih lawan yang salah. Kelak dia akan menyesal karena telah berniat menyingkirkan Mareta. Mareta terlalu tangguh untuknya.

***

Serafina dan Taufan masih melanjutkan kegembiraan mereka di apartemen. Mereka duduk berpelukan di atas sofa sambil menikmati dua gelas anggur.

Pemandangan dari balik jendela kaca besar di depan mereka sungguh memanjakan mata. Senja mulai turun. Kilau lampu jalanan serupa kunang-kunang di langit malam.

Serafina memutuskan inilah saat yang tepat untuk mendiskusikan kelanjutan hubungannya dengan Taufan. “Fan, sudah setahun kita menjalin hubungan ‘kan?” Jemari lentik Serafina meremas tangan Taufan. Mengalirkan getar hangat yang sensual. “Aku rasa sudah saatnya hubungan ini menjadi sesuatu yang lebih serius...”

“Kamu kan tahu, aku selalu serius sama kamu…” balas Taufan dengan santai. Tangannya membelai rambut Savannah yang halus. “Hubungan kita ini bukan untuk main-main,” lanjutnya lagi sambil memainkan rambut Serafina. Mata Taufan menatap wanita di depannya itu dengan penuh kekaguman. Dia harus mengakui kalau Serafina memang sangat menggoda. Matanya, bibirnya, bahkan satu sentuhan sederhana darinya saja sudah bisa memesona Taufan.

“Bukan itu maksudku,” sejenak Savannah terdiam. Dia mencoba memilih kata-kata yang bisa mengungkapkan isi hatinya dengan tepat. “Aku ingin hubungan kita diresmikan dalam satu ikatan yang lebih resmi.… Aku enggak ingin kehilangan kamu.”

Kata-kata Serafina sedikit mengagetkan Taufan. Ikatan resmi berarti pernikahan. Dalam kondisi Taufan yang sudah memiliki isteri berarti hanya ada dua pilihan: menikah diam-diam tanpa setahu Mareta atau menikah terang-terangan setelah menendang Mareta dari kehidupannya.

Taufan menghela napas. Dua-duanya bukan pilihan yang mudah. Perlu strategi yang matang supaya bisa mendapatkan pilihan itu. Tapi dia juga setuju dengan keinginan Serafina. Taufan juga tidak ingin kehilangan Serafina.

“Kok diam sih?” rajuk Serafina. “Keberatan ya dengan keinginanku ini?”

“Bukan sayang… aku hanya sedang memikirkan cara untuk meresmikan hubungan kita.”

Cepat Serafina menegakkan tubuhnya. Kini dia memandang tepat pada manik mata Taufan. Mencari-cari keseriusan di sana. “Sungguh? Kamu sudah memikirkan itu?” Serafina terharu, karena ternyata bukan cuma dia yang menginginkan hal ini.

“Tentu saja. Cepat atau lambat semua hubungan akan bermuara dalam ikatan. Kita enggak mungkin terus-terusan begini kan?” Taufan membelai p**i Serafina. “Cuma karena statusku seperti ini, aku enggak boleh gegabah dalam mengambil tindakan. Aku mau semuanya berjalan dengan mulus tanpa drama.”

Pesona Serafina benar-benar membius Taufan. Hingga pria itu tega menghapus sosok Mareta dari hati dan benaknya. Sepertinya Taufan lupa kalau Mareta lah yang mengangkat statusnya dari hanya karyawan biasa menjadi menantu konglomerat. Kini hanya ada nama Serafina dalam hati Taufan

“Maksud kamu… kita akan menikah? Kapan?” Serafina tidak sabar. Dia sudah jenuh menjadi simpanan. Banyak hal yang ingin dilakukannya bersama Taufan, jalan-jalan ke mall, menghadiri resepsi juga berlibur bersama.

"Kita bisa menikah sekarang juga kalau kamu mau,” Taufan menanggapi dengan santai.

“Aku tidak mau menikah di bawah tangan,” desah Serafina dengan nada manja. “Aku mau menjadi isterimu yang sah. Dibuktikan dengan surat nikah.” Sekali lagi Serafina meremas jemari Taufan.

“Oke, sayang," Taufan mengangguk dengan gaya meyakinkan. "Beri aku waktu untuk segera meresmikan hubungan kita,” hembusan napas Taufan membelai telinga Serafina.

“Lalu isterimu?” pancing Serafina setelah mendengar janji-janji Taufan untuk meresmikan hubungan mereka.

“Tenang saja sayang, sudah tentu dia akan aku singkirkan,” janji Taufan melukis senyum di bibir Serafina.

“Sungguh?” Hati Serafina berbunga-bunga. Angannya melambung tinggi. Sebentar lagi statusnya akan berganti menjadi nyonya Taufan.
"Aku bahagia sekali, sayang. Enggak sabar menunggu hari bahagia itu datang.” Serafina bersandar di dada Taufan. Merasakan detak jantung kekasih gelapnya itu.

“Sabar sayang… Beri aku waktu sedikit lagi. Sebelum kita meresmikan hubungan ada beberapa hal yang harus aku lakukan.” Jari-jari Taufan memainkan rambut Serafina.

“Apa itu?” Serafina mendongakkan wajahnya, memandang Taufan dengan mesra.

“Aku harus menguras harta Mareta lebih dulu. Aku harus pergi dari sisinya sebagai orang yang kaya raya.” Setiap kata diucapkan dengan seringai kejam di bibir Taufan. Haus akan kekayaan sudah merubahnya menjadi orang yang tidak punya hati. Dengan teganya Taufan berniat untuk merampas harta milik istrinya untuk perempuan lain.

“Bagus, sekali sayang. Aku setuju. Aku akan menanti, ” Serafina tambah bersemangat. Senang sekali hatinya mendengar rencana Taufan.

Keberhasilan rencana Taufan akan mengangkat derajat mereka berdua. Serafina membayangkan dirinya memililki dana tak terbatas untuk berbelanja. Dia bisa memiliki sepatu, baju dan tas dari merk-merk ternama. Outfit yang diperlukan agar bisa diterima dalam pergaulan kalangan sosialita.

Sama sekali tidak ada rasa bersalah yang menyusup dalam hatinya. Serafina malah senang sekali mendengar kemungkinan Mareta akan kehilangan hartanya. Kalau benar Mareta yang sudah mencelakakannya malam itu, maka inilah pembalasan darinya. Melalui Taufan, Serafina akan menguras harta Mareta.

“Demi kamu aku akan setia menunggu, sayang,” ucap Serafina mesra.

***

Karena Serafina tidak menceritakan soal telepon di malam kecelakaan itu, Taufan sama sekali tidak tahu kalau jejak-jejak perselingkuhannya telah tercium oleh Mareta. Kalau saja Taufan mendengar tentang telepon pastilah dia akan memilih strategi yang berbeda untuk menghadapi Mareta.

Untuk memuluskan niatnya merampas harta Mareta, Taufan berusaha untuk berlaku lebih mesra pada isterinya itu. Dia sudah berencana untuk menghujani Mereta dengan hadiah dan perhatian. Dan nanti saat Mareta lengah barulah dia akan membawa kabur isi brankas dan rekening mereka.

Hari ini Taufan berniat memulai rencana busuknya. Dia sengaja pulang dari kantor lebih awal. Dia menenteng sebuah buket bunga yang cantik. Di dalam saku celananya sudah ada kado berisi kalung bermata berlian.

Taufan tidak berkeberatan mengeluarkan uang untuk membeli hadiah mewah itu. Toh uang di rekeningnya juga berasal dari Matera. Dan juga anggap saja hadiah ini pancingan untuk mendapatkan aset yang lebih banyak.

“Sayang… kamu dimana?” sapanya sambil membuka pintu ruang perpustakaan. Biasanya sore-sore begini Mareta lebih s**a menghabiskan waktu dengan membaca buku atau mengetik sesuatu dengan laptop-nya. Tapi ruangan itu kosong. Kening Taufan berkerut. Berusaha menduga dimana Mareta ada.

Taufan sudah berjalan menuju tangga untuk pergi ke kamarnya saat melihat salah satu asisten rumah tangganya.

“Nik, ibu dimana?”

“Oh lagi di kolam renang, Pak,” terang Nunik dengan nada hormat.

Taufan menggumamkan terima kasih dan langsung menuju kolam renang dengan langkah lebar.

“Halo… sayang…” sapanya dengan sumringah melihat Mareta sedang berdiri menghadap kolam renang.

Mareta yang sedang bicara dengan seseorang melalui ponselnya langsung menoleh. Wajahnya sangat terkejut, buru-buru dia menekan tombol untuk mengakhiri percakapannya. Dalam hati berharap Taufan tidak mendengar percakapannya barusan.

“Aku kangeeen… sekali,” Taufan menarik tubuh Mareta dalam pelukannya lalu mengecup p**i kiri dan kanan.

Taufan terlalu fokus pada niatnya merayu Mareta hingga tidak menyadari tubuh Mareta begitu kaku seperti kayu. Tanda dia menolak kemesraan yang diberikan suaminya.

Bab lengkap di KBM App
Novel Karma Sang Pelakor
Dewi_muliyawan

Berangkat tanggal lima belas ya...
10/06/2026

Berangkat tanggal lima belas ya...

Tega sekali kau membuangnya Salina! Dia anakmu! Dar ah dagingmu sendiri!_______________“Cepat ke kantor sekarang. Kamu d...
10/06/2026

Tega sekali kau membuangnya Salina! Dia anakmu! Dar ah dagingmu sendiri!
_______________

“Cepat ke kantor sekarang. Kamu dipanggil Pak Elang.”

“Ha? Dipanggil Pak Elang? Nggak salah, Pak?” Wajah Salina kontan memucat. Seumur-umur bekerja di perkebunan ini belum pernah dia berurusan dengan para bos. Jangankan yang levelnya setinggi Elang, bicara dengan Pak Darma saja jarang. Biasanya ada buruh wanita senior yang mengatur kerja Salina dan teman-temannya.

“Hei, masa’ iya saya salah. Kan Pak Elang sendiri yang menyuruh saya manggil kamu.”

“Tapi…” Salina benar-benar ketakutan sekarang. Apa dia salah bicara kemarin hingga Pak Elang marah? Perasaan Pak Elang cuma bertanya namanya.

Aduh, Salina cemas setengah mati. Dia takut kehilangan pekerjaannya. Amit-amit, jangan sampai. Salina adalah tulang punggung keluarga. Penghasilannya yang diandalkan untuk makan sehari-hari.

Bagaimana nasib Salina dan neneknya, kalau dia dipecat? “Ada apa ya Pak? Saya salah apa sampai dipanggil tuan muda?”

“Sudah jangan banyak pertanyaan. Aku sendiri nggak tahu kenapa Pak Elang manggil kamu. Cepat kamu ke kantor sekarang. Jangan sampai Pak Elang marah karena kelamaan menunggu.”

“Eh, iya… iya… pak…” Salina langsung melemparkan gunting tanaman di tangannya. Kakinya melangkah cepat menuju gedung besar di ujung sana.

Napas Salina terengah-engah saat menjejakkan langkah di lantai keramik putih itu. Rasa sejuk terasa di telapak kakinya yang tanpa alas. Sejenak Salina celingukan. Tidak tahu kemana harus melangkah. Dimana gerangan kantor Elang?

Untungnya seorang karyawan wanita segera menghampiri Salina. “Salina ya?” Dia segera melanjutkan kata-katanya setelah melihat Salina mengangguk. “Saya T**i. Mari ikuti saya. Pak Elang sudah menunggu.

Salina mengekor di belakang T**i. Terkagum-kagum melihat penampilan wanita itu.

T**i memakai kemeja dan rok sepanjang betis. Sepatunya menimbulkan ketuk-ketuk anggun setiap kali beradu dengan lantai.

Salina melirik telapak kakinya yang melebar karena jarang menggunakan alas kaki. Diam-diam juga dia menghidu bagian depan bajunya. Merasa tidak percaya diri berada di belakang T**i yang menguarkan aroma wangi bunga.

“Tunggu di sini sebentar ya,” ucap T**i ramah sebelum mengetuk pintu. Sosoknya menghilang ke dalam ruangan itu sejenak. “Yuk, langsung masuk saja. Pak Elang sudah menunggu.”

Salina menelan ludah. Digosok-gosokkannya telapak tangan di roknya yang lusuh. Resah.

“Halo, Salina. Ayo masuk…” Elang berdiri meninggalkan kursinya yang terbuat dari kulit hitam. Dia mendekat Salina. Menyambut kedatangannya sambil mengulurkan tangan. Menawarkan jabat tangan.

Ragu Salina ikut mengulurkan tangan. Jantungnya berdebar keras kala jemarinya berada dalam pelukan telapak tangan Elang.

Genggaman pria itu begitu hangat, kukuh, melindungi. Salina menggelengkan kepalanya cepat. Mengusir pikiran aneh yang mendadak hinggap di kepalanya.

“Kamu mau minum apa?” Elang bertanya sambil mengarahkan Salina untuk duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu.

“M-minum?” Salina gelagapan, tidak sanggup menjawab pertanyaan sederhana itu. Minuman apa yang harus dia pilih? Air putih? Teh manis? Perasaan Salina campur aduk. Takut, gugup, senang, semua jadi satu dalam hatinya. Belum pernah dia berada sedekat ini dengan seorang pria setampan Elang.

“Mau kopi atau teh manis?” Elang yang mengerti kegugupan gadis di depannya berusaha mempermudah pertanyaannya.

“Mmmm… teh manis saja, Pak. Terima kasih.” Salina mengangkat wajahnya sejenak, lalu menunduk lagi. Dalam waktu yang sebentar itu dia bisa melihat tatapan Elang tertuju tepat padanya. Salina baru melihat mata yang begitu coklat. Bagus sekali.

“Tunggu sebentar ya,” Elang beranjak ke pintu dan meminta T**i membuatkan dua cangkir teh manis.

Ada keheningan yang canggung tercipta setelah Elang duduk kembali di sofa. Di samping Salina. Hanya berjarak satu tempat duduk. Begitu dekat hingga Salina kembali bisa menghidu keharuman.

Aroma yang berbeda dengan milik T**i. Sepertinya orang kota gemar memakai parfum. Ah, Salina juga jadi ingin memakai minyak wangi seperti T**i. Tapi uang darimana? Salina berjanji dalam hati akan berusaha menyisihkan uang untuk membeli parfum.

“Sudah berapa lama kamu bekerja di perkebunan ini, Salina?”

Salina menelengkan kepalanya mengingat-ingat. “Mmm… s-sekitar dua tahun, Pak.”

“Kamu betah bekerja di sini?”

Salina terdiam. Betah? Dia tidak pernah memikirkan apakah dia betah atau tidak. Bagi Salina bekerja adalah kewajiban. Tidak bekerja berarti tidak makan.

“Betah, Pak.” Salina memilih jawaban aman. Tidak mungkin kan dia bilang tidak betah?

“Good. Bagus.” Elang melemparkan senyum yang membuat jantung Salina kembali bergetar kencang. “Kamu tinggal dimana?”

“Di kampung dekat sini, Pak.”

“Jauh?”

“Sekitar satu jam jalan kaki.”

“Satu jam?” Elang membelalakkan matanya. Spontan memandang kaki Salina.

Malu, buru-buru Salina menarik kakinya, menyembunyikannya di bawah sofa.

Elang tersenyum merasa kelakukan Salina sangat imut. “Nggak capek jalan satu jam?”

“Nggak, Pak. Sudah biasa.”

“Nanti kamu pulang jam berapa?”

“Biasanya jam empat, Pak.”

“Oke, nanti jangan langsung pulang ya. Tunggu aku.”

“Oh, ada apa ya, Pak? Apa saya ada salah? Saya minta maaf kalau ada salah.” Salina jadi cemas. Apa maksud Elang?

“Nggak. Nggak ada apa-apa. Kamu nggak berbuat kesalahan apa-apa. Jadi nggak perlu minta maaf. Aku hanya ingin lebih mengenal daerah ini. Kamu bisa jadi penunjuk jalan kan?”

Ragu Salina mengangguk. “Bisa, Pak.”

Dalam hatinya bingung, mengapa Elang memilih dia sebagai penunjuk jalan? Bukankah ada Pak Darma atau pegawai lainnya yang lebih sering keliling-keliling daerah ini.

“T-tapi saya kurang tahu banyak tempat-tempat di sini, Pak. Selama ini saya jarang jalan-jalan. Saya cuma tahu jalan dari rumah ke perkebunan ini.”

“Nggak masalah. Kita jalan ke rumah kamu saja. Itu bisa jadi permulaan.”

Permulaan? tanya Salina dalam hati. Meski tidak bersekolah tinggi, Salina cukup cerdas. Kalau ini permulaan, berarti akan ada kelanjutannya? Ah entahlah, Salina pusing menebak-nebak arah pembicaraan bos-nya itu.

Good, pikir Elang puas setelah Salina pergi. Dia melemparkan pandangannya keluar jendela. Menatap hamparan hijau di sana.

Langkah awal yang mulus. Entah mengapa Salina sudah menarik perhatiannya sejak pertemuan pertama mereka.

***

“Yuk pulang, Lin,” ajak Wati sore itu. Mereka memang biasa pulang dan pergi kerja bersama karena rumah mereka searah. Hanya tempat tinggal Wati lebih dekat ke perkebunan.

“Duluan aja, Ti. Aku masih nunggu sesuatu.” Salina enggan berterus terang, bahkan pada sahabat karibnya sendiri. Malu.

“Nunggu apa? Atau…” Senyum jahil muncul di wajah Wati. “Nunggu cowok ya? Siapa sih? Kok pakai rahasia-rahasiaan…” Sekarang Wati tergelak. Melihat rona merah di p**i Salina, dia jadi yakin dugaannya benar. “Nunggu Kang Udin ya?” Wati menyebut nama pemuda yang sama-sama bekerja sebagai buruh di perkebunan itu.

Udin yang rajin mengirim salam untuk Salina, meski tak pernah berbalas. Salina belum ingin punya hubungan istimewa dengan lelaki manapun.

“Nggak. Ish jangan menyebar gosip. Aku nggak nunggu siapa-siapa. Tadi Pak Darma bilang aku suruh tunggu sebentar sepulang kerja. Nggak tahu buat apa.”

“Ah, kalau sebentar, aku tunggu saja. Malas jalan pulang sendirian. Sepi. Nggak ada teman ngobrol.” Wati malah duduk di atas batu besar.

Salina bingung setengah mati. Bagaimana caranya meminta sahabatnya itu untuk pergi? Salina tidak mau ketahuan punya urusan dengan Pak Elang.

“Jangan. Belum tentu urusan ini sebentar. Kalau lama bagaimana? Bisa-bisa kamu pulang kemalaman.”

“Ish, kalau aku kemalaman pasti kamu lebih parah. Rumah kamu kan lebih jauh.” Wati keras-kepala. “Eh, ada big boss tuh.”

Wati berpaling. Menyembunyikan wajahnya supaya tidak dikenali oleh Elang. Padahal sungguh usaha yang sia-sia. Elang tentu saja sudah mengenali Wati.

“Hai, Lin. Maaf nunggu lama ya. Tadi aku sudah mau keluar kantor, tapi mendadak ada telepon dari kantor pusat.” Elang memberikan penjelasan yang sesungguhnya tidak perlu.

Bagi Salina, kata-kata Elang malah membuka rencana mereka pulang bersama. Lihat saja Wati langsung membelalakkan matanya lebar. Bibirnya terbuka tapi tidak ada suara yang keluar dari sana. Hanya pandangannya yang bicara akan segera meminta penjelasan dari Salina begitu kesempatan memungkinkan.

“Oh… eh… nggak pa-pa, Pak.”

“Wati mau ikut pulang bareng?” Murah hati Elang menawarkan.

Nyaris Salina menepuk dahinya. Kenapa tidak terpikirkan dari tadi ya. Pulang bertiga dengan Wati pastinya lebih menyenangkan daripada hanya berdua dengan Elang.

“Iya, Ti. Bareng aja yuk…” ajak Salina bersemangat. Kehadiran Wati pasti mampu mengurangi kecanggungannya pergi berdua saja dengan Elang.

Part 5

Novel Maafkan Bunda
Bisa dibaca di KBM APP
Akun dewi_muliyawan

‎NIAT BAIK LETISHA MENOLONG SAHABATNYA MALAH JADI PENYEBAB HANCURNYA RUMAH TANGGA‎‎___________________‎‎SAHABAT YANG MER...
10/06/2026

‎NIAT BAIK LETISHA MENOLONG SAHABATNYA MALAH JADI PENYEBAB HANCURNYA RUMAH TANGGA

‎___________________

‎SAHABAT YANG MEREBUT SUAMIKU

‎Bab 2 Mutiara Kembali

‎Aku ingat sekali, hari itu hujan turun sangat deras. Butir-butir air bagaikan dicurahkan dari langit. Air mulai menggenangi jalanan karena saluran air tidak mampu lagi menahan derasnya arus.

‎Aku sedang dalam perjalanan menuju klinikku yang pertama. Mobilku melintas dengan hati-hati. Seperti biasa jalanan jadi macet saat hujan seperti ini. Aku memanfaatkan waktu terjebak dalam kemacetan ini dengan bekerja menggunakan laptopku.

‎“Sudah sampai, Bu,” ujar sopirku dengan nada sopan.

‎Aku mengangkat pandanganku dari layar laptop. Astaga benar juga. Saking seriusnya aku bekerja, sampai tidak sadar kalau mobilku sudah berhenti di depan lobby klinikku.

‎Dari jendela mobil, sekilas kulayangkan pandangan ke tempat parkir. Hmmm… lumayan banyak mobil berjajar di sana. Berarti pelanggan yang menggunakan jasa di klinikku juga lumayan banyak. Ternyata hujan deras ini tidak menghalangi para wanita untuk merawat kecantikannya. Seulas senyum puas terlukis di bibirku membayangkan omset klinik hari ini. Pasti di atas target yang telah ditetapkan.

‎Aku turun tanpa takut air hujan membasahi tubuhku. Ada atap yang melindungi bagian depan lobby dari panas dan hujan.

‎“Selamat siang, Bu,” greeter yang siap di depan pintu memberi salam hormat sambil menahan daun pintu agar tetap terbuka.

‎“Siang, sudah makan?” tanyaku berusaha menunjukkan perhatian. Senyum lebar terlihat di wajah pegawaiku itu.

‎“Sudah, Bu,” jawabnya riang.

‎Aku mengangguk dan juga tersenyum sebelum melangkah masuk. Karpet tebal yang melapisi lantai klinik meredam suara high heels-ku.

‎Langkahku terhenti beberapa meter di depan counter resepsionis. Ada pemandangan yang ganjil di sana. Seorang wanita dengan baju basah kuyup berdiri di depan counter. Dua orang anak kecil berdiri di samping kanan dan kirinya. Baju mereka sama basahnya dengan wanita itu.

‎Jelas dia bukan pelanggan klinikku. Bajunya yang basah menandakan dia tidak menggunakan mobil untuk datang ke sini. Padahal semua pelangganku selalu menggunakan mobil, paling tidak taksi, karena memang biaya perawatan di klinikku ini tidak murah. Aku memang membangun klinik eksklusif untuk melayani para wanita kelas atas.

‎Apalagi dia datang membawa anak. Dua orang. Selama ini belum pernah ada pelangganku yang membawa anak ke sini. Biasanya melakukan perawatan wajah dan tubuh menjadi me time mereka. Sudah tentu para pelangganku lebih s**a datang sendiri atau paling tidak bersama teman-teman mereka.

‎Suara perdebatan terdengar dari counter itu. Segera kulangkahkan kaki ke sana. Sebenarnya aku yakin, Ayu sebagai petugas resepsionis bisa mengatasi masalah ini. Hanya rasa ingin tahu yang mengundangku mendekat. Juga karena sebaiknya wanita itu segera meninggalkan ruangan ini. Beberapa pelanggan yang baru datang tampak melirik kehadirannya dengan wajah terganggu.

‎“Ada apa ya?” tanyaku dengan nada datar.

‎“Maaf, Bu Tisha. Ini ada yang ingin bertemu dengan ibu, tapi belum membuat janji. Saya sudah bilang untuk tunggu konfirmasi dari ibu, karena ibu belum datang. Tapi beliau ngotot ingin segera bertemu…”

‎Dahiku berkerut mendengar penjelasan Ayu. Jadi perempuan berbaju lusuh yang basah kuyup ini ingin bertemu denganku? Untuk apa? Segera kualihkan pandanganku dan menatapnya lebih intens. Bagaimanapun berbedanya wajah dan postur tubuhnya aku segera mengenali.

‎“Mutiara…?” suaraku tersendat oleh rasa haru.

‎“Tisha…” balasnya pelan.


‎Novel Sahabat yang Merebut Suamiku
‎Bisa dibaca di KBM app
‎Dewi_muliyawan

STRATEGI KANIA UNTUK MEMERGOKI SUAMINYA BERSAMA WANITA LAINPart 9Cinta Rahasia Suamiku “Jenna, kamu harus segera pergi d...
10/06/2026

STRATEGI KANIA UNTUK MEMERGOKI SUAMINYA BERSAMA WANITA LAIN

Part 9
Cinta Rahasia Suamiku

“Jenna, kamu harus segera pergi dari sini!” tanpa sadar Nico bicara keras pada Jenna. Terlalu keras. Sampai Jenna tersentak karena merasa tiba-tiba Nico membentaknya tanpa alasan.

“Kok bicaramu kasar sih?!” tegur Jenna dengan judes. Dia tidak sudi dibentak-bentak seperti itu oleh siapapun, termasuk Nico.

Cepat Nico memperbaiki kekeliruannya. “Sori… sori. Aku enggak bermaksud kasar sama kamu, sayang. Aku cuma sedikit kaget dan panik saja mendengar Kania akan menyusul ke sini.”

“Iya, sih. Tapi kan bisa bicara baik-baik. Enggak usah ngegas kayak begitu.”

“Oke deh…. Jenna sayang… Kayaknya pertemuan kita harus berakhir lebih cepat deh, karena Kania sedang menuju ke sini. Kamu enggak mau kita dipergokin Kania kan…”

“Norak!” Dengan kasar Jenna berdiri, begitu cepat hingga kursinya terguling.

“Sori deh sayang…” Nico merasa sudah keterlaluian menggoda Jenna. Ditangkapnya lengan wanita cantik itu. “Begini saja. Kamu langsung belanja atau check in di hotel dulu. Aku akan usahakan supaya Kania segera pulang hari ini. Kalaupun menginap, aku akan atur supaya dia menginap di hotel yang berbeda. Setelah dia pulang, kita bisa bebas bersenang-senang, bagaimana?”

“Benar nih? Kamu serius…?” mata Jenna langsung berbinar-binar mendengar usul cemerlang yang dilotarkan Nico.

“Serius banget dong.”

“Tapi kalau Kania menolak pulang duluan? Dan tetap menunggu di sini sampai pekerjaan kamu selesai?”

“Tenang saja. Di setiap kesulitan pasti ada kesempatan,” kata Niko sambil mengedip nakal. “Seperti biasa kita akan memanfaatkan waktu kerjaku. Aku bilang ke Kania pergi bekerja padahal mampir ke hotel kamu.”

“Nah gitu dong…” Jenna menggelendot manja di pundak Nico. “Baru namanya pria idaman wanita.”

Niko terbahak. “Sudah ya, sayang. Jangan lupa Kania sudah OTW ke sini. Singapura kan kecil, waktu yang diperlukan dari bandara ke sini cuma beberapa menit saja. Lebih baik kamu segera istirahat ke hotel atau belanja ke mal. Yang penting kita enggak terlihat berdua di sini.”

“Oke deh sayang. Ingat janjimu ya… untuk mampir ke hotelku.”

Beriringan Jenna dan Niko keluar dari ruang makan private, tanpa tahu kalau Kania dan Sophie sudah berada di restoran itu.

***

“Eh, lihat tuh, mereka keluar,” Sophie memberi peringatan begitu ujung matanya melihat sosok Nico dan Jenna berjalan menuju pintu depan restoran.

“Aku labrak saja ya sekarang…” tiba-tiba gelombang emosi membuatku lupa dengan rencana yang sudah tersusun rapi. Aku sudah siap hendak berdiri. Amarah membakar hatiku. Panas menyaksikan suamiku berjalan beriringan berdua dengan wanita lain.

“Hei sabar dulu…” Sophie mendesisi mengingatkan. Tangannya mencekal kuat lenganku. “Jangan gila deh. Masa kamu mau melabrak suamimu di restoran seramai ini. Di negara orang lagi. Bisa repot kalau kita nanti berurusan dengan kepolisian Singapura. Enggak ada becking-an kita.”

“Ya, tapi masa’ aku biarkan Nico berduaan begitu dengan perempuan lain.”

“Sabar dulu, say. Kalau kamu bikin keributan di sini dengan mudah Nico bakal mengelak. Apa buktinya coba kalau dia berselingkuh seperti tuduhan kamu?”

Aku terdiam, berusaha mencerna ucapan Sophie. “Iya sih…” kataku terpaksa mengakui kebenaran kata-kata Sophie. “Enggak bisa ya memakai barang bukti foto mereka berdua?”

“Nico akan mengelak dengan alasan itu foto lama.”

“Lalu pulpennya yang berada di tangan perempuan itu?” usulku lagi.

“Kania… agak sulit menghubungkan pulpen itu dengan perselingkuhan Nico. Dia bisa beralasan kebetulan bertemu dengan Jenna yang lalu meminjam pulpennya.”

“Jadi bagaimana dong…” Aku tidak mampu menyelesaikan kata-kata karena terpaksa menelan ludah melihat Nico dan Jenna berdiri di depan restoran, menunggu taksi yang akan menjemput Jenna.

Perlahan tangan aku bergerak mengarahkan ponsel diam-diam ke arah mereka. Biarpun Niko dan Jenna tidak menampakkan gestur mesra, setidaknya aku punya barang bukti bahwa mereka berdua telah bertemu di Singapura.

“Nah, bagus tuh,” puji Sophie. “Daripada marah-marah dan mendamprat mereka, lebih baik kamu mengambil foto mereka. Siapa tahu bisa digunakan sebagai barang bukti nanti.”

“Untung kamu mengingatkan, Soph. Kalau tidak aku sudah terbakar emosi tadi. Bisa kacau semua urusan kalau aku langsung memaki mereka di sini. Soalnya aku benar-benar harus mendapatkan bukti kuat yang menunjukkan perselingkuhan Nico."

“Untuk menguatkan tuntutan perceraianmu nanti?” tanya Sophie dengan nada prihatin.

“Bukan itu saja. Ada satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya,” jawab Kania dengan wajah muram.

“Apa itu?”

Aku menatap wajah Sophie dengan ragu. Dia menghela napas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya. “Sebenarnya sebelum menikah, aku dan Nico sudah menandatangani perjanjian pra nikah…”

“Wah…” desah Sophie dengan tegang.

Sebenarnya memiliki perjanjian pra nikah adalah sesuatu yang sudah sewajarnya dilakukan para konglomerat seperti Niko untuk melindungi harta mereka dari para wanita pemburu harta. Walaupun tentu saja aku bukanlah wanita seperti itu. Walau berasal dari keluarga sederhana, aku bukanlah sosok yang gila harta.

Jadi… “Apa isi perjanjian itu?” tanya Sophie tegang. "Jangan-jangan isinya merugikan kamu." katanya dengan nada curiga.

"Merugikan seperti apa?"

"Ya, misalnya kamu tidak akan mendapatkan harta gono-gini, yah seperti itulah."

“Hmmm... Aku rasa justru isi perjanjian itu sangat adil. Secara yang tercantum adalah siapapun yang berselingkuh harus keluar dari rumah hanya membawa baju di badan, alias tidak berhak mendapatkan harta gono-gini sedikitpun.”

“Astaga! Astaga!” Sophie tidak bisa menahan rasa terkejutnya mendengar keteranganku. “Gila, itu brilian banget. Darimana kamu bisa dapat ide itu? Bayangkan kamu bisa mendapatkan semua harta Niko karena dia berselingkuh. Hah, biar tahu rasa cowok pengkhianat itu.”

Aku mengangkat bahu. Bagiku mendapat harta Niko tidak mampu mengurangi rasa nyeri di hatinya. “Ide itu justru datang dari Niko.”

“Kok bisa, dia sebodoh itu?” cepat Sophie menutup bibirnya karena sudah keceplosan bicara. “Eh, maaf Nia. Bukan maksudku mencela suamimu.”

Aku melambaikan tangan. “Santai saja, Soph. Itu Nico lakukan dulu untuk meyakinkanku agar mau menikah dengannya. Kamu tahu kan dulu aku ragu dengan kesetiaan Niko, karena dia pl***oy, s**a berganti-ganti pacar. Tapi ketika melamarku, dia berjanji akan setia. Dia membuat perjanjian itu sebagai jaminan kesetiaannya. Tentu saja aku percaya dan menerima lamarannya.”

“Tentu saja kamu pantas percaya. Bayangkan seluruh kekayaan Niko akan jatuh ke tanganmu kalau dia terbukti selingkuh…” Sophie menggosok-gosok tangannya dengan ekspresi girang. “Mungkin dia mengira kamu tidak akan mengetahui kelakuannya di luar sana. Sekaranglah saatnya dia menuai hasil dari perbuatan curangnya.”

“Yang sulit adalah menahan emosiku supaya bisa memergoki Niko dan Jenna. Setiap kali melihat mereka berdua rasanya ingin kumaki mereka habis-habisan.” keluhku dengan nada sendu.

“Aku mengerti perasaan kamu. Tapi nyatanya sekarang kamu bisa menahan emosi. Ingat-ingat saja aset Niko yang segunung setiap kali amarah kamu naik. Bayangkan bisa liburan keliling dunia kapan saja, belanja barang-barang bermerk tanpa batas dan hal-hal yang menyenangkan lainnya setelah kita merampas harta milik Niko, pasti emosi kamu langsung reda.”

Aku tertawa kecil. Kadang-kadang cara bicara Sophie bisa sangat menggelitik. “Ada-ada saja usul kamu. Tapi ada benarnya juga sih. Aku harus lebih menggunakan logika daripada perasaan untuk menyelesaikan masalah ini. Aaah… ini Niko sudah menelepon,” bisikku saat melihat layar ponselnya yang baru saja berdering.

“Nah, angkat saja. Bilang kamu baru saja sampai di lobby restoran.”

“Terus kamu kemana kalau aku harus bersama Niko?”

“Kamu cari tahu hotel tempat Jenna menginap. Aku akan check in dan menginap di hotel yang sama supaya bisa mengawasi mereka.”

“Aaah… Sophie kamu memang sahabat terbaik.” Aku merangkul bahu Sophie dengan penuh terima kasih.

“Yes, jangan lupa traktir aku belanja kalau kamu sudah benar-benar jadi nyonya bos pemilik perusahaan multi nasional.”

“Siiip…” Aku mengacungkan jempol, lalu menerima panggilan telepon dari Nico. “Halo sayaaang…” suara lembutku menyapa Nico lewat ponselnya.

NOVEL CINTA RAHASIA SUAMIKU
DEWI MULIYAWAN
Bisa dibaca di KBM App

Bab lengkap di sini ya....

Address

Tangerang
Banten
15820

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Graha Kosmetik posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Graha Kosmetik:

Share