05/02/2020
Copas dari WA Bit.ly/MinyakKutusKutus:
MENGHADAPI S**A DUKA
M: Guru, bagaimana cara menghadapi s**a duka?
G: Hadapilah dengan pemahaman bahwa s**a duka itu berkah.
M: Bagaimana bisa begitu, Guru?
G: Apa yang salah dengan s**a duka, Muridku. Keduanya selalu silih berganti. Kau membutuhkan keduanya.
M: Jika s**a dibutuhkan, Aku memahaminya, Guru. Tapi bagaimana dengan duka? Bukankah semua orang menghindari duka?
G: Aku akan memberi suatu contoh. Dengarkan baik-baik, Muridku.
M: Baik, Guru.
G: Coba bayangkan jika kau tidak memiliki rasa sakit. Pada saat tubuhmu terluka, semakin luka dan tanpa disertai rasa sakit. Apa yang terjadi jika tubuhmu semakin terluka parah sementara kau tidak merasakan apa-apa. Bahkan ketika organ tubuhmu menjadi tak berfungsi.
M: Rasa sakit menjadi berguna jika berfungsi sebagai sinyal atau pertanda bahwa tubuh terluka.
G: Benar, Anakku. Kau mulai mengerti. Rasa sakit adalah pertanda bahwa ada yang salah dengan keadaan tubuhmu. Rasa nyaman dan sakit, keduanya, dibutuhkan agar senantiasa kita tidak berlebih dan selalu seimbang. Demikian juga dengan s**a dan duka.
M: Namun apakah rasa s**a itu membutuhkan rasa duka? Bukankah menghindari duka itu bertujuan untuk merasakan s**a.
G: Yang menjadi tujuan bukan keberpihakan pada sisi s**a atau duka. Namun melampauinya.
M: Aku masih belum memahami, Guru.
G: Sekarang kau perhatikan rasa s**a. Kau mungkin nyaman dalam kondisi tertentu. Namun perhatikan jika kau berdiam dalam keadaan nyaman tersebut dalam jangka panjang. Keadaan yang tadinya nyaman itu akan menjadi tidak nyaman. Seperti orang yang kelelahan membutuhkan tidur. Namun jika kau tidur terlalu lama, maka keadaan itu juga menjadi tidak nyamam. Kau membutuhkan keduanya. Itulah mengapa s**a duka itu menjadi berkah, Anakku. Kau tidak bisa berlama-lama pada satu kutub. Selalu keduanya silih berganti. Kau harus memahami jika ada dua kutub. Keduanya selalu naik turun. Namun ada kalanya berada pada titik seimbang. Namun tidak lama akan kembali bergerak.
M: Jika demikian s**a duka adalah tak terelakkan. Setiap orang mengalami keadaan ini. Kembali pada apa yang telah Guru singgung sebelumnya. Bagaimana cara melampui s**a duka?
G: Melampaui adalah menerimanya. Sama hal nya kau menerima sifat dari seorang sahabat. Bersahabat adalah seperti merangkul keadaan s**a duka. Semakin kau menolaknya, semakin panjang waktu penderitaan yang kau ciptakan.
M: Bagaimana mengatasi penolakan?
G: Penolakan itu di sebabkan oleh keberpihakan. Kau berpihak karena belum mengerti bahwa dua hal itu adalah dua persepsi pada kenyataan yang sama. Karena memiliki dua persepsi maka dengan mudahnya terpancing untuk berpihak pada satu sisi.
M: Persepsi? Bukankah s**a duka adalah apa yang dirasakan?
G: Semuanya persepsi, Anakku. Ketika kau hanya merasakan. Disitu tidak ada penamaan. Merasakan itu melupakan diri. Baru ketika kau kembali mengingat diri, gagasan akan s**a duka muncul kembali.
M: Apa itu berarti melampaui s**a duka adalah melupakan diri?
G: Benar, Anakku. Melupakan adalah tidak adanya kepentingan diri. Tanpa berurusan dengan kepentingan, maka s**a duka dapat dirangkul. Inilah yang dimaksud dengan bersahabat dengan keadaan.
081238178889
Bit.ly/MinyakKutusKutus