23/11/2021
Masyarakat pecinta durian kini memiliki harapan melawan dominasi durian montong, dengan bersenjatakan durian Bawor. Tapi bagaimana durian Bawor ini dilahirkan?
Penamaan Bawor sendiri tak lepas dari ikon rakyat Banyumas. Bawor adalah sebutan bagi sosok punakawan Bagong, adik dari Petruk. Nama Petruk sendiri sudah ngetop sebagai durian lokal asal Jepara. Nama-nama itu di Jawa Tengah adalah representasi nama rakyat sebagai 'perlawanan' nama bangsawan.
Sejarah penemuan Durian Bawor, tak lepas dari nama Sarno Ahmad Darsono. Sarno adalah seorang guru sekolah dasar di Alas Malang, Kemranjen, Banyumas. Sejak lahir Sarno sudah dianugerahi kemampuan naluriah menilai durian.
Menurut Managing Director Ad Glow, Aji Fauzi, naluri bawaan Sarno terhadap durian begitu kuat. Cukup melihat bijinya, ia tahu jenis durian itu. Pengalamannya semasa kecil menemani sang ayah mencari durian hingga ke pelosok desa membuat Sarno Ahmad Darsono terobsesi pada durian.
"Rata-rata durian pohonnya sangat tinggi dengan buah tak begitu besar. Yang tak bisa memanjat harus menunggu durian itu runtuh," kata Aji.
Penjelajahan batin Sarno menjadikannya nekad memadukan 20 jenis durian lokal dengan teknik okulasi. Waktu tunggu durian hingga berbuah biasanya delapan tahun, ia obsesikan menjadi tiga hingga empat tahun.
"Dengan memegang dan menimbangnya, ia tahu durian yang ada di tangannya telah matang atau belum, berkulit tebal atau tipis. Ketajaman penciumannya sangat membantu dia memilah durian yang puket (manis, berlemak, dan beralkohol) atau bukan," kata Aji.
Sarno kemudian membongkar tabungan ingatan dan koleksinya tentang durian unggul. Dia menguber informasi dari berbagai buku tentang teknik okulasi. Saat itu internet belum merakyat seperti sekarang.
"Percobaan pertama, langsung okulasi 20 varietas unggul. Untuk mendapatkan ukuran besar, beliau memilih durian Kumbakarna, untuk rasa, tekstur, aroma menggunakan varietas lain," kata Aji.
Setelah berselang tiga-empat bulan, okulasi pohon primer dengan sekunder mulai melekat. Sarno lalu mencoba membuat okulasi lagi pada pohon-pohon sekunder, dengan melukai pohon-pohon itu untuk menempelkan pohon durian lokal berkualitas sedang sebagai pohon tersier.
Banyaknya pohon durian yang digunakan untuk okulasi membuat pohon primernya tumbuh menyerupai pohon bakau yang akarnya mencuat dari tanah.
Tingkatan pada okulasi itu berguna untuk menjamin ketersediaan makanan yang lebih banyak untuk pohon primer. Adapun fungsi pohon sekunder adalah mempengaruhi kualitas buah yang dihasilkan pohon primer.
"Akhir tahun 2000, pohon hasil percobaannya sudah menghasilkan 30-40 buah durian oranye yang berbeda dari aslinya. Kulitnya tipis, daging lebih tebal, warna daging buah lebih merah seperti durian kuning mas, rasa lebih puket, dan beralkohol seperti durian petruk. Ukurannya sebesar durian kumbakarna dengan berat bisa lebih dari 12 kilogram," kata Aji.