22/05/2026
Kisah ironis dan menyayat hati ini datang dari seorang putra jenius asal Manokwari, Papua, bernama Septinus George Saa. Pada tahun 2004, saat usianya baru menginjak 18 tahun, George sukses membuat para ilmuwan fisika di seluruh dunia tercengang. Ia berhasil menemukan sebuah rumus matematika dan fisika baru yang sangat brilian untuk menghitung nilai hambatan pada sebuah rangkaian resistor jaringan yang sangat rumit.
Karya jeniusnya tersebut tidak hanya diakui keakuratannya, tetapi juga berhasil mengantarkan George menjadi juara 1 dalam ajang sains bergengsi di Polandia, yakni First Step to Nobel Prize in Physics. Ia sukses menyingkirkan puluhan karya ilmiah ciptaan para peserta dari 73 negara di seluruh penjuru bumi. Berkat otaknya yang dianggap setara dengan ilmuwan kelas atas, ia mendapat beasiswa penuh untuk menempuh pendidikan teknik kedirgantaraan di Amerika Serikat dan melanjutkan studi master di Inggris.
Dengan segudang ilmu teknologi kelas dunia di tangannya, George akhirnya memutuskan pulang ke Indonesia. Ia memiliki niat yang sangat mulia untuk membangun tanah kelahirannya. Namun, bukannya disambut dengan karpet merah, diberikan fasilitas riset, atau dijadikan penasihat ahli, ia justru harus menelan pil pahit dari sistem rekrutmen negerinya sendiri. Saat George mencoba melamar pekerjaan di sebuah perusahaan minyak dan gas milik negara untuk memberikan kontribusi pemikirannya, lamarannya justru ditolak mentah-mentah! Kenyataan menyedihkan ini menjadi tamparan keras sekaligus ironi yang sangat memalukan, di mana seorang aset bangsa yang otaknya telah diakui oleh dunia internasional justru disia-siakan dan seolah tidak memiliki tempat di rumahnya sendiri.