11/08/2026
Ibu Dulu Kalahkan Kanker Lidah, Kini Anak Lawan Kanker Payudara
Dua belas tahun yang lalu, Monika (nama samaran) menyaksikan perjuangan ibunya melawan kanker; kini, ia sendiri harus menghadapi pertarungan yang sama.
Pada bulan Oktober 2025, Monika yang berusia 34 tahun menjalani pemeriksaan kesehatan tahunan. Di usia muda dan penuh semangat dengan kehidupan yang harmonis, segalanya tampak berjalan lancar. Namun, hasil pemeriksaan medisnya datang bagaikan petir di siang bolong: ditemukan sebuah benjolan berukuran 1 cm tanpa rasa nyeri di payudara kanannya. Biopsi jarum mengonfirmasi adanya *Invasive ductal carcinoma*—subtipe Luminal B yang HER2-positif.
Setelah berkonsultasi dengan berbagai rumah sakit di Indonesia dan Singapura, kesimpulannya tetap sama: tindakan bedah (reseksi).
Monika enggan menjalani operasi. Ia tidak sanggup menanggung trauma fisik dan emosional akibat kehilangan payudara, di samping beban diagnosis penyakit itu sendiri. Terlebih lagi, mastektomi total merupakan prosedur yang sangat invasif, sehingga pemulihan pascaoperasi dan rekonstruksi payudara menjadi tantangan yang sangat berat. Ia pun bertanya-tanya apakah Guangzhou Fuda Cancer Hospital dapat menawarkan alternatif lain—seperti krioablasi.
Pemikiran ini bukan tanpa alasan. Dua belas tahun sebelumnya, ibunya didiagnosis menderita kanker lidah setelah mengalami sariawan yang tak kunjung sembuh. Di Fuda, ibunya menjalani prosedur krioablasi lokal yang dikombinasikan dengan kemoterapi intervensi. Setelah ukuran tumor mengecil, hanya diperlukan tindakan reseksi radikal lokal, sehingga kemampuan berbicara dan menelannya hampir tidak terganggu sama sekali. Kini, dua belas tahun kemudian, ibunya tetap sehat dan bebas kanker. Ditambah lagi dengan adanya rekomendasi dari teman-teman mengenai layanan onkologi khusus di Tiongkok, Fuda pun kembali menjadi pilihan utamanya.
Foto: Profesor Zeng Zongyuan, pakar onkologi kepala dan leher, sedang memeriksa ibu Monika.
"Saya yakin bahwa teknologi medis akan jauh lebih maju setelah 12 tahun berlalu," ujarnya. Setelah mendalami literatur mengenai krioterapi untuk kanker payudara dan menjalani konsultasi jarak jauh, Monika memesan tiket penerbangan ke Guangzhou.
Pada akhir April 2026, Monika dirawat di Bangsal 4 Rumah Sakit Kanker Fuda. Pemeriksaan menyeluruh mengungkap adanya tiga lesi pada payudara kanannya (semuanya dikategorikan sebagai BI-RADS 6), satu nodul BI-RADS 4a pada payudara kirinya, serta pembesaran ringan pada kelenjar getah bening aksila kanan.
Mengingat diagnosis yang jelas mengenai karsinoma duktal invasif pada payudara kanan dan tidak adanya bukti metastasis jauh, tim medis awalnya merekomendasikan tindakan bedah reseksi yang disertai dengan biopsi kelenjar getah bening sentinel. Namun, Monika tetap teguh pada keputusannya untuk menghindari operasi.
Setelah melalui diskusi mendalam, tim medis menyusun rencana penanganan komprehensif yang disesuaikan secara khusus untuknya:
• Kemoterapi Intervensional Neoadjuvan: Menghantarkan obat dengan konsentrasi tinggi secara langsung ke tumor untuk mengecilkannya;
• Krioablasi: Menargetkan dan membekukan sel tumor payudara secara presisi, disertai biopsi kelenjar getah bening aksila kanan (yang hasilnya negatif kanker);
• Kemoterapi Intervensional Pasca-operasi: Memperkuat hasil terapi;
• Terapi Target Sistemik: Memberikan dukungan berkelanjutan selama masa pengobatan.
Keseluruhan strategi dirancang layaknya operasi presisi, menyeimbangkan penanganan lokal dengan perawatan sistemik—dilakukan secara mantap, menyeluruh, dan metodis.
Foto: Dr. Zhang Ying, Dokter Penanggung Jawab Bangsal 4, sedang melakukan visitasi pasien.
Bahkan sebelum memulai kemoterapi, Monika sudah tahu bahwa kerontokan rambut adalah efek samping yang umum terjadi. Memasuki sesi perawatan kedua, rambutnya mulai rontok. Meski kerontokannya tergolong ringan, hal itu tetap membebani pikirannya. Didorong oleh semangat dari anaknya, ia pergi ke salon dan mencukur habis rambutnya yang tebal dan ikal. Di Indonesia, perempuan dengan kepala plontos adalah pemandangan yang jarang ditemui; namun, saat menatap cermin, ia justru merasakan kebebasan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Foto: Monika tersenyum ceria di kamar rumah sakitnya.
"Daripada terus menyaksikan rambut saya rontok hari demi hari, saya memutuskan untuk memulai segalanya dari awal." Sejak saat itu, pola pikirnya berubah. Ia berhenti mengandalkan makanan cepat saji, tidak lagi begadang, serta mulai menjaga pola makan, tidur nyenyak, dan menjalani hidup dengan lebih santai untuk menikmatinya. Kini, kesehatannya terus membaik secara bertahap.
Foto: Pimpinan rumah sakit menyerahkan Sertifikat Pejuang Penakluk Kanker kepada Monika.
Dari ibu ke anak, selama dua belas tahun, mereka berjuang di tempat yang sama, didorong oleh semangat pantang menyerah yang sama. Beralih dari sekadar saksi menjadi seorang penyintas, kepala Monika yang dicukur habis menjadi tanda kehormatan yang paling ia banggakan—bukan simbol kehilangan, melainkan bukti nyata keberaniannya.