29/07/2026
Melihat foto bangunan sederhana di Jagang Notoprajan ini, kita diajak mundur ke tahun 1923, saat sebuah ide besar kerap dianggap mustahil. K.H. Sudja’ dan [K.H. Ahmad Dahlan] mendirikan PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem) bukan dari kemewahan modal, melainkan dari limpahan kepedulian terhadap kaum dhuafa yang kala itu kesulitan mendapat akses kesehatan. Di klinik sewaan yang bersahaja ini, para perintis menerapkan strategi menyentuh hati: memberikan makanan terlebih dahulu hingga kenyang sebelum pasien miskin diperiksa dan diberi obat, karena mereka paham rasa lapar adalah akar dari banyak penyakit kaum papa.
Gerakan kemanusiaan yang tulus ini sejak awal mengusung nilai inklusivitas yang luar biasa melampaui sekat agama dan bangsa. Ketika PKO belum memiliki dokter Muslim bumiputera, dr. J.E. van Gorkom, seorang dokter berkebangsaan Belanda dan non-Muslim, dengan sukarela hadir menjadi dokter pertama demi misi universal memanusiakan manusia. Seiring waktu, nama lembaga ini disesuaikan demi tuntutan zaman, mulai dari desakan politis di zaman Jepang yang mengubahnya menjadi Penolong Kesejahteraan Oemoem, hingga transformasi di era Orde Baru menjadi Pembina Kesejahteraan Umat (PKU) yang menegaskan visi keberlanjutan untuk tidak sekadar menolong saat sakit, tetapi aktif membina kesejahteraan masyarakat.
Siapa sangka, dari teras rumah sewa yang sempit itulah cikal bakal jaringan kesehatan raksasa yang berdiri megah di seluruh penjuru Indonesia hari ini dilahirkan. Langkah keikhlasan yang dimulai dari satu klinik sewaan mini kini telah berlipat ganda menjadi 140 hingga 150 Rumah Sakit operasional, 20 rumah sakit baru yang sedang dibangun, serta lebih dari 231 Klinik Pratama (termasuk 45 klinik mandiri 'Aisyiyah). Foto ini adalah pengingat abadi bagi kita semua hari ini: jangan pernah meremehkan langkah kecil yang dimulai dengan keteguhan hati, karena dari sanalah sejarah perubahan besar selalu diukir.