16/01/2017
Pada akhirnya, kita akan mengerti bahwa semua nikmat dunia itu sama saja rasanya...
Mobil pabrikan Jerman. Sedan seri 320i. Ketika mengendarai untuk pertama kali, sensasinya memang beda. Namun tidak berapa lama selanjutnya rasanya sama saja.
Ketika berpindah ke model ferari, tadinya ingin merasakan sensasi yang berbeda. Namun ternyata rasanya sama saja. Begitu-begitu saja.
Kata orang, Alphard itu sensasinya beda. Faktanya, _nggak_ ada yang berbeda. Rasanya sama.
***
Demikian p**a tentang makanan. Makan di restoran mewah, dengan panganan dan menu yang wah, konon ada sensasi berbeda. Harganya _sih_ pasti iya. Namun, berapa lama? Seminggu? Sehari? Tidak. Tidak pernah lama. Hitungan menit saja. Setelah itu, sensasi itu akan berubah menjadi rasa yang sama saja dengan jika kita makan di rumah makan biasa, warung tegal atau makan di rumah dengan _chef_ pasangan hidup kita walau dengan menu ala kadarnya. Sensasinya memang sesaat beda, namun rasa yang timbul selanjutnya sama. Rasa kekenyangan.
***
Mungkin melihat rumah luas dan mewah berlantai tiga itu ada sensasi yang berbeda. Furnitur yang wow lengkap dengan barang elektronik yang serba canggih konon bersensasi luar biasa.
Namun, tanyalah kepada yg pernah atau sedang memilikinya. Sensasi mewah itu akan berubah dengan cepat saja. Tidur di kasur busa dengan di kasur berharga puluhan juta sama saja memejamkan mata.
Makan dengan sendok perak dengan makan dengan sendok plastik, sama-sama memasuki mulut yang sama.
***
Rasanya sama dengan rumah biasa. Milik sendiri atau pun menyewa. Begitu seterusnya dan lain sebagainya.
***
Demikianlah kenikmatan dunia. Semuanya hanya menawarkan sensasi. Namun semuanya akan berakhir pada rasa yg sama. Itulah kenapa seringkali diingatkan bahwa kenikmatan dunia itu menipu. Palsu.
Artinya, memiliki atau tidak memiliki. Dititipi ataupun tidak dititipi. Mestinya kita tinggal mengelola rasa saja. Karena semuanya akan berakhir dengan hal yang sama, ketiadaan.
Jika boleh dianalogikan, segala hal tentang dunia adalah ibarat donat. Panganan bulat yg berlubang di tengahnya. Sensasinya memang ada, namun hanya di pinggiranmya saja. Setelahnya, hampa. Kosong saja. Tiada.
***
Bahwa jika pada akhirnya, kita akan mengerti bahwa semua nikmat dunia itu sama saja rasanya. Maka, bersyukur (menerima, merasa cukup, berterimakasih, dan berbagi) adalah jawaban atas segala permasalahan tentang sensasi dan rasa pada segala sesuatunya tentang dunia.
***
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yg melalaikan, perhiasan, dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak.
Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur.
Dan di akhirat ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.
***
Jangan lupa like & share, terimakasih, semoga bermanfaat, salam Potret Islami...