28/07/2026
Alhamdulillah, hari ini dapat cerita yang bikin senyum sendiri. 😄
Pasien saya kali ini usianya 47 tahun. Beliau bilang, seumur hidup baru pertama kali mencoba bekam. Dari dulu sebenarnya penasaran, tapi rasa takutnya selalu menang.
Beliau cerita, "Dulu sering lihat orang dibekam di pasar. Ramai-ramai, pakai tanduk, darahnya kelihatan banyak. Nah, bayangan itu yang nempel terus di kepala. Jadinya malah takut."
Saya cuma senyum. Memang dulu banyak orang mengenal bekam dari cerita atau pemandangan seperti itu, jadi wajar kalau muncul rasa khawatir.
Padahal, beliau termasuk langganan pijat capek dan pijat urut. Di dalam hati ternyata masih ada pertanyaan, "Bekam itu rasanya bagaimana, ya?"
Sampai akhirnya ada teman kantor yang memberikan nomor saya.
"Mas, bekam bisa ke rumah?"
"InsyaAllah bisa, Pak."
Singkat cerita, jadilah hari itu bekam perdana beliau.
Lucunya, sebelum mulai wajahnya masih tegang. Setelah selesai malah langsung berubah.
"Lho... ternyata cuma begini, ya? Saya kira rasanya serem."
Saya langsung bercanda, "Nah, Pak... bekam itu memang lebih serem dilihat daripada dirasakan. Kalau sudah coba sekali, biasanya yang susah itu bukan mulai... tapi nahan pengin bekam lagi." 😄
Beliau langsung tertawa.
Setelah selesai bekam, muncul pertanyaan yang sering juga ditanyakan pasien baru.
"Mas, kan darah keluar terus. Disedot, tusuk jarum sedikit, disedot lagi. Kalau sebulan sekali bekam, kadang tiga minggu sekali... darahnya ora entek ta? Darahnya nggak habis?"
jawab sambil guyon supaya gampang dipahami.
"Pak... selama Bapak masih doyan makan, masih doyan minum, masih sehat beraktivitas, insyaAllah darah tidak akan habis."
Beliau langsung memperhatikan.
lanjutkan lagi, "Ibaratnya begini, Pak. Tubuh kita itu bukan galon isi ulang yang kalau diambil terus kosong. Tubuh kita itu seperti dapur yang setiap hari masak lagi. Selama bahan bakunya masuk—makan dan minum yang baik—insyaAllah tubuh akan terus membentuk darah baru."
Beliau langsung mengangguk.
"Oh... gitu ya, Mas."
"Iya, Pak. Justru yang perlu dijaga itu pola hidupnya. Kalau makan sembarangan, sering begadang, kurang olahraga, ya tubuh lebih mudah menumpuk hal-hal yang tidak baik. Makanya jaga makan, jaga minum, dan jaga istirahat."
Beliau tersenyum sambil mengangguk lagi.
"Alhamdulillah... sekarang saya jadi paham."
Saya memang sering menjelaskan dengan bahasa sederhana dan sedikit guyon. Bukan karena saya paling pintar, tapi supaya ilmu yang disampaikan lebih mudah dipahami dan tidak bikin pasien tambah tegang.
Alhamdulillah, bekam pertama beliau berjalan lancar. Semoga Allah selalu memberikan kesehatan, keberkahan, dan menjadikan setiap ikhtiar pengobatan sebagai jalan kebaikan. Aamiin.
Anda bisa menambahkan penutup seperti ini:
📸 Foto hanya pemanis cerita,. 😊
Barokah Bekam, Barokah Sehat, Barokah Silaturahmi. 🤲