25/04/2017
MINUM SUSU KAMBING ADALAH LIFE STYLE RASULULLAH
Jakarta, Aktual.com β Susu kambing merupakan susu yang kaya akan gizi seperti susu sapi pada umumnya. Sering kita mendengar atau membaca literatur kesehatan, bahwa banyak orang yang mengalami masalah kesehatan setelah minum susu sapi. Namun, jarang ada yang bermasalah pasca mengonsumsi susu kambing.
Bagi Anda yang memiliki alergi terhadap susu sapi, susu kambing bisa menjadi pilihan menu. Di dalam suatu riwayat, Rasulullah SAW bersama sahabatnya lebih banyak minum susu kambing. Pertanyaannya, benarkah, susu kambing itu merupakan sunah?
Dalam mempelajari ajaran atau agama Islam, seorang Muslim harus mencontoh atau meneladani gaya hidup (Lifestyle) Rasulullah SAW yang menjadi teladan bagi seluruh umat Islam seperti yang juga diperintahkan oleh Allah SWT.
Praktek meneladani Rasulullah SAW ini tidak hanya sikapnya yang bijaksana dan beriman. Namun, juga termasuk dengan kebiasaan makan dan minumnya, dan bahkan perilaku keseharian Rasulullah SAW.
Untuk diketahui, bahwa Rasulullah SAW menyukai minuman susu kambing segar sebagai menu favoritnya. Dan, susu ini langsung diminum setelah melalui proses perahan dari kambing.
Alasan mengapa susu kambing Sunah Rasul yang dilupakan umat Islam karena ditemukan hanya beberapa persen saja dari warga Muslim di dunia yang mengonsumsi susu kambing terlepas dari kondisi ekonomi mereka.
Bahkan, sedihnya tidak banyak umat Islam sendiri yang tahu akan manfaat dari mengonsumsi susu kambing dan malah lebih sering minum susu sapi. Menurut data yang ada, negara-negara dengan produksi susu kambing tertinggi yaitu berada di Eropa Timur dan Barat.
Namun sayang, Indonesia dan Pakistan menjadi dua negara yang dengan produktivitas sangat rendah terkait manfaat dari minum susu kambing. Jadi boleh dikatakan, bahwa susu kambing sunah rasul yang terlupakan oleh sebagian besar umat Islam.
Konsumsi susu kambing justru lebih besar di negara-negara non muslim ketimbang negara-negara Muslim sendiri. Lantaran, negara seperti Turki, Sudan, Irak, serta Aljazair pun masih kalah bila dibandingkan dengan produktivitas negara non Islam, seperti Yunani, Spanyol, Italia, Belanda, Belgia, Rusia, dan Prancis.