Dr Candra Ahmadi SKep Ners SH MHKes

Dr Candra Ahmadi SKep Ners SH MHKes Professional, Health Practicioner and Educator, Law Practicioner

29/03/2026

Part 2: FISABILILLAH GELAR MULIA PENUNTUT ILMU (Pesan Almarhumah Ibunda)

Genap sudah 33 hari dikebumikan sosok yg paling saya hormati dan segani yaitu Direktur Utama (Dirut) Perusahaan kami (saat itu saya masih Karyawan). Rasa berduka tentu belum hilang dari hati dan ingatan kami (papa dan saya). Papa berpikir bahwa masih ada jalan memperjuangkan apa yg sudah menjadi keputusan dari Dirut yaitu beasiswa buat saya melanjutkan pendidikan D3 sesuai profesi saya.

Kamis adalah hari pilihan papa untuk menyambangi kantor PT, tepat 33 hari meninggalnya sang Dirut. Papa mesti pagi-pagi sekali berangkat dari kampung, agar bisa menemui pengganti Dirut agar tidak terlalu siang. Kesibukan Manajemen PT saat siang hari, bukan waktu yg tepat untuk memfasilitasi tamu yg tanpa schedule atau pertemuan yg sudah diatur janji sebelumnya. Namun tetap berusaha sebagai bentuk kesungguhan menjemput harapan.

Papa berangkat bukan dengan kendaraan sendiri, tetapi transportasi umum Minibus L300 (superband) satu-satu pilihan utama untuk menjangkau kota pekanbaru dari kampung. Usia 62 tahun tidak sekuat dan selincah saat masih aktif sebagai PNS yaitu menjabat Kepala SDN. Papa kemana-mana menaiki Vespa Putih yg menjadi kebanggaan keluarga kami. Ibunda dan kami anak-anaknya sudah tidak mengizinkan papa berkenderaan lagi, apalagi menempuh waktu lama dan jarak yg jauh. Kegiatan pagi itu, membuktikan kata-kata kegigihan dan nasehat papa bahwa "berjuang adalah kewajiban setiap manusia untuk merubah nasib, bukan takdir" Filosofinya sangat tepat:

"Tidak akan berubah nasib suatu kaum, jika kaum tersebut tidak berusaha untuk merubahnya"

Sampai di Pekanbaru, papa bergegas mengajak saya menjumpai pihak manajemen PT, karena pengganti Dirut masih menerima tamu, kami berdua menunggu di kursi tamu. Ada suatu hal yg berbeda, saat sang Dirut masih hidup. Biasanya setiap tamu yg menunggu, akan disuguhkan minuman, sembari menunggu waktu bertemu manajemen. Ini perasaan dan pandangan sekilas aja, atau memang kesibukan para staff setelah sang Dirut tidak memimpin perusahaan ini lagi.

21 menit lebih kurang kami akhirnya dipersilahkan memasuki ruangan pengganti Dirut. Ada sedikit kekakuan yg saya lihat. Papa akhirnya berkisah tentang pertemuan kami sebelum Almarhum Dirut berangkat ke Jakarta, yg mengeluarkan putusan memberikan beasiswa penuh pendidikan buat saya, dengan syarat masih pendindikan sesuai profesi (artinya tidak boleh menyimpang atau berseberang dengan profesi saya). Papa terlihat tenang dan rinci menceritakan, history yg menjadi dasar kedatangan kami menghadap pengganti Dirut.

Apakah tanggapan pengganti Dirut? Penasaran kan? 😆 Kita lanjutkan...tenang gak langsung ke Part 3.

Pengganti Dirut, seorang mubaliqh, mestinya melihat sebuah keputusan yg sudah diambil oleh Almarhum Dirut adalah sebuah amanah yg harus dilanjutkan. Rasa tersambar petir di siang bolong, mendengar tanggapan pengganti direktur: "tidak bisa melanjutkan sebuah keputusan yg hanya dengan lisan, saat ini kami membutuhkan tenaga elektromedis, jika anak bapak ingin dibiayai kuliahnya, kami siap menyekolahkan ke D3 Elektromedis".

Artinya sudah sangat jelas, saya dipaksa untuk memilih Elektromedis jika ingin dibiayai penuh pendidikannya, jika untuk melanjutkan pendidikan sesuai profesi saya, maka tidak ada bantuan beasiswa. Pengganti Almarhum Dirut memberikan kesempatan untuk berpikir dan mengambil keputusan selama 3 hari ke depan. Hal ini menegaskan hari senin atau selasa adalah keputusannya.

Rasa disambar petir di siang bolong, perasaan sedih, kecewa dan kesal atas keputusan pengganti Almarhum Dirut. Pupus sudah harapan untuk melanjutkan pendidikan. Ada semacam nyali sedang diuji, kehormatan rasa tertantang. Dalam hati bertekad, tidak akan melanjutkan kuliah jika di luar profesi. Rezeki Allah SWT maha luas, jika kita bersungguh-sungguh maka pasti ada jalannya. Ingin rasanya disaat itu juga memberi keputusan langsung kepada pengganti Almarhum Dirut, tetapi etika ketimuran masih istiqomah dijalankan. Rasa kacau beliau di hati, hanya papa dan saya simpan baik, dan langsung pamit.

Next Part 3, Kuliah D3 dari Swadaya Mandiri👍

11/01/2026


Part 1:FISABILILLAH GELAR MULIA PENUNTUT ILMU (Pesan Almarhumah Ibunda)

"Teruslah berjuang, walaupun sendirian, rezekimu tidak berpintu"

Entah kenapa tiba2 terlintas lagi sebuah pesan almarhumah ibunda, puluhan tahun yang lalu pernah menguatkan langkahku memutuskan melanjutkan pendidikan ke Diploma 3, saat itu aku bekerja di RSI Ibnusina Pekanbaru.

Ya...pasti ada alasan kuat kenapa disaat itu aku dikuatkan dengan nasehat ibunda yg juga berprofesi sebagai guru sekolah dasar. Beliau adalah orang tua dan sekaligus guru kehidupanku, disaat itu aku baru saja diterima bekerja di sebuah Rumah Sakit Islam satu2nya di Pekanbaru. Alhamdulillah, gaji sebagai pegawai orientasi/training 325rb. 6 bulan setelah itu dikontrak selama 2 tahun dengan gaji 1,3jt. Pasti ada yg kepo, tahun berapa tu? Jawbannya: tahun 2002, tepatnya bulan september, awal penandatanganan kontrak kerja selama 2 tahun kedepan.

1 Oktober 2004, adalah ditetapkannya menjadi Karyawan Tetap setelah melewati assesment untuk upgarde menjadi Karyawan Tetap, karena inilah goal puncak menjadi karyawan di RSI Ibnusina. Keinginan kuat muncul untuk melanjutkan pendidikan ke Diploma 3, karena haus akan ilmu dan pengembangan diri. Tapi biaya pendidikan jurusan kesehatan sangat tinggi dan tidak terjangkau. Akhirnya keinginan tersebut disimpan dalam2, fokus pada pekerjaan dan mulai merintis bisnis yg dimentori oleh abang tertua yg sudah berbisnis semenjak beliau kuliah.

Jatuh, bangkit, jatuh, bangkit lagi...terus berusaha bangkit, tapi keadaan mengubur harapan untuk melanjutkan ke Diploma 3, tahun 2007 awal akhirnya mencoba putar arah peminatan ke S1 Psikologi, dasarnya sederhana, biaya kuliah terjangkau, dan masih bisa diaplikasikan di pelayanan kesehatan. Sebagai anak tentu minta pendapat dengan orang tua, dan pada prinsipnya orang tua setuju, Namun orang tua balek nanya: apakah tidak ada peluang pendidikan sesuai profesi sekarang?

Akhirnya kami setuju mencari bantuan beasiswa dari perusahaan, dan Alhamdulillah permohonan bantuan dikabulkan dengan catatan tidak boleh alih profesi lain. Qadarullah Dirut perusahaan, dipanggil Allah SWT, 2 hari setelah mengabulkan permintaan untuk bantuan pendidikan. Rasa sedih dan rasa berduka karena orang baik seperti beliau terlalu cepat perginya. Selain rasa itu, muncul rasa putus asa untuk melanjutkan pendidikan yg memang belum dimulai, karena pendaftaran belum dibuka.

2 minggu setelah kami berduka, Orang tua saya tidak tinggal diam, karena memang beliau saat itu adalah saksi hidup bahwa secara nyata saya diberikan beasiswa pendidikan lanjut ke Diploma 3 sesuai profesi, sebenarnya masih ada satu orang lagi staff Dirut perusahaan yg sangat tau persis dan juga sebagai saksi hidup kedua, saat permohonan bea siswa dikabulkan.

Penasaran cerita fakta selanjutnya: bagaimana kegigihan saya dan orang tua menagih janji perusahaan?

Silahkan Simak Part 2

Professional, Health Practicioner and Educator, Law Practicioner

Address

Jalan Sumatera I Perumahan Nusantara A/10
Pekanbaru
28284

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Dr Candra Ahmadi SKep Ners SH MHKes posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share