19/08/2022
Filosofi baju
Terdapat tiga bagian utama dari pakaian Pangsi yaitu “Tangtung, Nangtung, Samping”. Tangtung yang diambil dari “Tangtungan Ki Sunda Nyuwu Kana Suja”, dalam bahasa Indonesia artinya “Mempunya pendirian yang teguh dan kuat sesuai dengan aturan hidup”. Berikutnya adalah Suja atau Nangtung mengandung makna “Nangtung, Jejeg, Ajeg dina Galur. Teu Unggut Kalinduan, Teu Gedag Kaanginan”, dalam bahasa Indonesia artinya Teguh dan kuat pendirian dalam aturan dan keyakinan, semangat tinggi dan tidak mudah goyah”. Serta Samping yang mengandung arti “Depe Depe Handap Asor”, dalam bahasa Indonesia artinya “Selalu rendah hati dan tidak sombong”.
Selain dari ketiga makna tersebut, ada filosofi menarik lainnya dari kesederhanaan bentuk pakaian pangsi yaitu biasanya pada bagian baju atau Salontreng memiliki 5 atau 6 buah kancing. Bukan tanpa sebab namun hal tersebut merujuk pada agama Islam, 5 kancing menunjukan rukun Islam sedangkan 6 kancing menunjukan rukun iman. Sekilas, masyarakat ada yang mengkategorikan baju koko atau komprang dengan istilah Pangsi karena warnanya hitam padahal sebenarnya desainnya sangat berbeda.
Salah satu karakteristik desain Pangsi adalah adanya jahitan yang menghubungkan badan dan tangan posisi jahitan tersebut berada bagian tengah lengan atas dan biasa disebut dengan istilah beungkeut yang mengandung arti “Ulah suka-siku ka batur, kudu sabeungkeutan, sauyunan, silih asah, silih asih, silih asuh, kadituna silih wangi, asal kata dari nama kerajaan Sunda Siliwangi”. Dalam bahasa Indonesia dapat diartikan “Tidak boleh jahil dan licik kepada sesama, harus satu kesatuan dan kebersamaan dalam ikatan batin, saling memberi nasihat, saling mengasihi, dan saling menyayangi, selanjutnya saling mengharumkan nama baik”.
Order disini ⬇️
https://shope.ee/2psIt3etdZ