28/09/2012
4 Hal yang Tidak Boleh Anda Katakan pada anak
Maksud hati ingin mendidik anak supaya
lebih disiplin, kuat dan bersikap baik di muka
umum akan tetapi kok hasilnya selalu gagal.
Sebenarnya kata-kata yang Anda pilih itu
memengaruhi anak buat mematuhi Anda atau
justru mengacuhkan.
1. "Jangan nangis"
Variasi kalimat yang lain: "Jangan sedih."
"Jangan cengeng." "Jangan takut." Tapi
anak-anak balita saat marah, takut, kesal
pun menangis. Mereka tidak bisa selalu
mengartikulasikan perasaan mereka dengan
kata-kata. "Hal yang sangat wajar bagi
orang tua ingin melindungi anak dari
perasaan seperti itu," kata Debbie Glasser,
Ph.D., direktur, Family Support Services di
Mailman Segal Institute for Early Childhood
Studies, Nova Southeastern University, Fort
Lauderdale, AS. "Tapi mengatakan jangan
tidak membuat anak merasa lebih baik, dan
dapat juga mengirim pesan bahwa emosinya
sesuatu yang terlarang."
Sebagai gantinya Anda bisa mengatakan,
"Kamu sedih tidak diajak bermain oleh
Bayu?" atau "Kamu marah mainanmu
direbut?" Dengan menamai perasaan, anak
Anda akan belajar memberinya kata-kata
untuk mengekspresikan dirinya. Sekaligus
tanpa sadar mengajarkannya buat berempati.
Pada akhirnya, dia akan menangis lebih
sedikit dan menggambarkan emosinya
sebagai gantinya.
2. "Coba contoh kakakmu/adikmu"
Mungkin tampak membantu jika anak Anda
dapat melihat contoh nyata dari saudara
kandungnya atau teman. "Rara pintar yah,
bisa pake sepatu sendiri." Anak-anak
berkembang dengan fasenya sendiri.
Membandingkan anak Anda kepada orang
lain menyiratkan bahwa Anda tak
menginginkannya serta merusak kepercayaan
dirinya. Sebaliknya, dorong prestasi dia saat
ini: "Wow, kamu mencuci tangan sebelum
makan tanpa mama minta, hebat!" Ingat
membandingkan dengan saudaranya hanya
akan memicu kekesalan dan membakar
perasaan iri. Jangan heran kalau Anda justru
dibuat pusing dengan pertengkaran mereka
tiap hari.
3. "Berhenti atau mama pukul!"
Dalam mendisiplinkan anak, ancaman itu
jarang efektif. Anda mengancam dengan
peringatan seperti "Ayo berani ulangi lagi,
Mama pukul!" Cepat atau lambat anak akan
belajar bahwa ancaman itu tak pernah
terjadi. Akhirnya ancaman Anda kehilangan
kekuatannya. Lebih buruk lagi justru
membuat Anda tambah frustasi, akhirnya
malah memukul. Akan lebih efektif jika
melakukan pengalihan. Caranya dengan
membawa anak pergi dari situasi tersebut.
Misalnya, ia mengamuk di toko mainan
karena tidak diturutin kemauannya. Daripada
Anda bereaksi dengan membentak,
mengancam, melotot, langsung saja ambil
tindakan dengan menggendong anak Anda
keluar dari toko, bawa ke tempat lain,
lakukan time out setelah tenang beri
pengertian. Cara ini terbukti lebih efektif.
4. "Tunggu sampai Ayah pulang!"
Pengasuhan tipe ini adalah jenis lain dari
tipe mengancam. Seperti halnya mengancam,
cara ini tidak efektif. Bila Anda ingin pesan
Anda sampai pada anak, disiplin harus
dilakukan saat itu juga, bukan nanti. Saat
anak Anda berulah, bersikap tidak baik,
langsung beri konsekunsinya. Disiplin yang
ditunda tidak mengajarkan konsekuensi
tindakan salah pada anak. Kemungkinan
besar yang terjadi saat si ayah pulang, anak
Anda sudah lupa kejadian yang tadi. Akibat
buruk lainnya, bila ini sering Anda lakukan,
Anda akan kehilangan otoritas di mata anak
Anda.