Darul Akhyar

Darul Akhyar Kami menyediakan buku-buku islam syar'i serta pernak-pernik islam dan herbal

Bismillah...Ready Stok dalam jumlah banyak !!Persiapan ilmu menyambut bulan suci Ramadhan,,Bagi yang ingin mempelajari i...
22/05/2017

Bismillah...

Ready Stok dalam jumlah banyak !!

Persiapan ilmu menyambut bulan suci Ramadhan,,Bagi yang ingin mempelajari ilmu agama yang sesuai dengan Al Qur'an dan As Sunnah dengan pemahaman para sahabat dan salafus shalih,,kami sediakan berbagai macam kitab karya para ulama dan ustadz terkemuka dengan harga terjangkau,,DISKON 30% untuk semua buku yang kami jual!!
- Mahkota pengantin harga 82rb (belum diskon)
- Bulughul Maram harga 139rb (belum diskon)
- Riyadhus Shalihin harga 145rb (belum diskon)
- Mulia Dengan Manhaj Salaf harga 140rb (belum diskon)
- Syarah Aqidah Salaf harga 185rb (belum diskon)
- Sirah Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wasallam harga 110rb (belum diskon)
- Ritual Sunnah Setahun harga 180rb (belum diskon)
- Ensiklopedi Bid'ah harga 95rb (belum diskon)
- Syarah Hadits Arba'in An Nawawi harga 80rb (belum diskon)
- Harta Haram Muamalat Kontemporer edisi 15 harga 130rb (belum diskon)
- Syarah Aqidah Wasitiyyah harga 150rb (belum diskon)
- Talbis Iblis harga 110rb (belum diskon)

Bonus buku saku seputar Ramadhan selama persediaan masih ada

Bagi yang berminat silakan inbok/komen/WA kami di 0881 290 6088

Jazaakumullah khairan katsira

18/04/2017

Pengakuan Kyai Ketemu Nabi dalam Kondisi Terjaga ??. Ustadz Firanda Andirja MA

11/04/2017

Bismillah...

URGENSI AKIDAH SALAF : KOKOH DAN SELAMAT DARI PERUBAHAN

Oleh

Syaikh Prof.Dr. Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Badr

Segala puji bagi Allâh Rabb semesta alam. Kesudahan yang baik akan didapatkan kaum yang bertakwa. Shalawat dan salam terlimpahkan atas imam para Rasûl; yakni Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ; juga atas keluarga dan para sahabat beliau.

Amma ba’du;

Sungguh, akidah Islam yang murni dan bersih yang bersumber dari al-Kitab dan as-Sunnah, memiliki kedudukan luhur dan tinggi dalam agama ini. Kedudukan akidah Islam dalam agama ini layaknya pondasi bagi suatu bangunan; seperti hati bagi tubuh; atau bagaikan akar bagi suatu pohon. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allâh telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (kalimat tauhid) seperti pohon yang baik (yakni pohon kurma), akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. [Ibrâhîm/14:24]

Inilah kedudukan akidah; sebuah kedudukan yang begitu agung, begitu tinggi dan luhur. Perkara akidah ini harus terhunjam kuat dalam jiwa para pemegangnya; terpatri dalam hati mereka. Dari asas inilah mereka bertolak; atas dasar akidah tersebutlah mereka berpedoman dan mendasarkan segala sesuatu. Karena akidah p**a mereka berjuang.

Kedudukan akidah begitu agung dan tinggi dalam jiwa dan hati mereka, sehingga akidah ini menjadi kuat terhunjam dalam hati. Maka atas dasar itu, terwujudlah keshalihan dalam perilaku, istiqâmah (kelurusan) dalam manhaj, paripurna dalam amalan, bersungguh-sungguh dalam ketaatan dan ibadah, dan menjalankan perintah Allâh Azza wa Jalla . Semakin kuat akidah ini terhunjam dan bersarang dalam hati, maka itu akan semakin mendorong mereka untuk (menunaikan) setiap kebaikan; dan akan menopang mereka dalam (mewujudkan) setiap keberuntungan, keshalihan dan keistiqamahan.

Dari sinilah kita tahu, mengapa begitu besar perhatian mereka terhadap masalah akidah. Perhatian mereka terhadapnya terus dan semakin bertambah, mereka lebih mendahulukan masalah daripada perhatian terhadap hal-hal lain. Bagi mereka masalah akidah lebih urgen daripada makan, minum, pakaian dan semua urusan mereka yang lain. Karena akidah merupakan hakikat hidupnya hati mereka. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allâh dan seruan Rasûl apabila Rasûl menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu. [Al-Anfâl/8:24]

Akidah adalah hidupnya hati mereka secara hakiki. Ia adalah asas dari tumbuh kembangnya amal mereka; lurusnya perilaku mereka, bagusnya manhaj dan cara hidup mereka. Karena itulah sangat besar perhatian mereka terhadap masalah akidah, baik secara keilmuan, kekuatan hati dalam meyakini, dan juga konsekuensi yang ditimbulkannya berupa kesungguhan, keistiqamahan, dan upaya menjaga ketaatan kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala .

Sesungguhnya akidah Islam yang shahih lagi murni merupakan perkara penting yang paling urgen; sekaligus kewajiban yang paling ditekankan. Perhatian terhadapnya haruslah didahulukan di atas perhatian terhadap hal lain.

Bila dihayati kehidupan kaum salaf kita yang penuh dengan kebaikan –semoga Allâh merahmati mereka, menempatkan mereka di surga, dan membalas mereka dengan balasan terbaik atas jasa mereka untuk kaum muslimin-, kita bisa melihat betapa besar dan kuatnya perhatian mereka terhadap akidah. Mereka medahulukan perhatian dalam akidah daripada segala hal lainnya. Karena akidah adalah tujuan mereka yang paling agung; puncak dari maksud yang mereka inginkan, dan target mereka yang paling mulia.

Perhatian mereka terhadap masalah akidah cukup beragam, tertuang melalui bidang yang beraneka macam dan upaya yang bervariasi. Dan di antara bentuk perhatian mereka terhadap akidah –yang mana itu merupakan di antara sebab yang menjadikan akidah ini terjaga, kokoh dan langgeng- adalah dengan menyusun karya-karya tulis yang bermanfaat tentang akidah; kitab-kitab sarat faidah yang menetapkan masalah akidah, menjelaskan, menerangkan, dan menyebutkan bukti dan dalilnya; membela akidah ini dari segala tipu daya orang-orang yang berbuat makar, dari kelancangan orang-orang yang melampaui batas, dari ta’thîlnya orang yang berbuat ta’thîl (menafikan asma’ dan sifat-sifat-Nya), dan tahrîf (penyelewengan) orang-orang yang berlebih-lebihan, dan dari segala hal yang sengaja dirangkai seputar akidah untuk dijadikan sebagai target penyelewengan. Maka Ulama salaf pun –semoga Allâh merahmati mereka- bangkit dalam arena yang begitu agung ini dengan usaha dan amalan yang besar; dalam rangka untuk bekhidmat terhadap akidah, membelanya, dan menunaikan kewajiban agung terhadapnya.

Mereka telah menulis ratusan kitab berisi keterangan dan penjelasan tentang akidah; bahkan ribuan kitab, baik yang panjang lebar maupun yang ringkas; Baik kitab yang mencakup semua pembahasan akidah, maupun yang membahas satu sisi tertentu secara khusus; Baik itu kitab yang menetapkan dasar-dasar akidah yang hak dan benar, maupun kitab berisi bantahan terhadap paham yang menyelisihi dan penuh keraguan. Kemudian para Ulama yang datang kemudian mengambil akidah dari ulama yang terdahulu dengan sangat jelas gamblang, seperti terangnya matahari di siang bolong. Yakni akidah yang terang tak ada kerancuan dan kesamaran di dalamnya; karena dalil-dalilnya yang shahih, akurat dan kuat serta jelas. Lalu kaum mukminin yang ittiba’ kepada Rasûl pun mewarisinya generasi demi generasi, abad demi abad. Setiap generasi yang datang menjaga dan memeliharanya dengan upaya yang begitu besar. Kemudian mereka menyampaikannya kepada generasi selanjutnya sebagaimana keadaannya yang semula, tanpa ada perubahan, penggantian, penyelewengan, dan semacamnya. Lalu datanglah generasi setelah mereka, di mana mereka menaruh perhatian terhadap akidah tersebut dengan perhatian seperti yang diberikan oleh para pendahulu mereka; sehingga merekapun menjaganya seperti sedia kala. Dan demikianlah, kaum muslimin selama berabad-abad mewarisinya generasi demi generasi. Dan masih saja sekelompok dari umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di atas kebenaran dengan mendapat pertolongan Allâh. Orang yang menelantarkan dan menyelisihi mereka tidak akan memberikan mudharat terhadap mereka hingga tiba hari Kiamat.

Tema yang diangkat kali ini adalah tentang kokohnya akidah ini; yakni akidah yang dipegang oleh kalangan salafus shalih –semoga Allâh merahmati mereka-. Akidah yang selamat dari perubahan sepanjang bentangan masa. Ia tetap saja selamat dan kuat. Maka akidah yang dipegang oleh ahlus sunnah yang konsisten dengan al-Kitab dan as-Sunnah pada masa ini, ia tidak lain adalah akidah yang diserukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Ia adalah akidah yang dipegang oleh para Sahabat dan yang mengikuti mereka dengan bijak dan baik; di mana mereka menukilkannya satu sama lain di antara mereka. Mereka saling mewariskannya hingga sampai pada zaman kita sekarang ini, dalam keadaan murni dan terjaga.

Memang benar ada sekelompok orang yang tersesat. Banyak di antara mereka yang menyimpang, tercerai-berai dalam berbagai jalan. Mereka telah melenceng dari jalan lurus yang benar. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah mengisyaratkan bahwa hal seperti ini akan terjadi. Beliau bersabda:

إِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ فَتَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

Sesungguhnya orang yang hidup di antara kalian sepeninggalku, ia akan melihat banyak perselisihan. Maka peganglah oleh kalian sunnahku, dan sunnah para khulafa rasyidin yang mendapat bimbingan. Pegang eratlah ia dan gigit dia dengan gigi geraham. Dan jauhilah oleh kalian segala perkara yang diada-adakan. Karena sesungguhnya setiap hal yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.[1]

Dalam hadits lain beliau bersabda:

وَسَتَفْتَرِقُ هَذِهِ الأُمَّةُ عَلَى ثَلاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةً

Dan umat ini akan terpecah-belah menjadi 73 kelompok. Semuanya di neraka kecuali satu kelompok.[2]

Satu kelompok yang selamat agamanya, lurus manhajnya, dan benar keyakinannya. Karena mereka mengambilnya dari sumbernya yang murni, dari airnya yang tidak ternoda. Mereka mengambilnya dari Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya -semoga shalawat dan salam tercurah baginya-. Sehingga keberuntungan yang mereka dapatkan dalam hal akidah dan semua perkara agama mereka adalah selamat (dari pemahaman menyimpang), ilmu, hikmah dan keluhuran. Dan mereka inilah yang lebih berhak dan pantas untuk mendapatkannya. Karena mereka mengambilnya dari sumber dan mata airnya; yakni Kitabullah dan sunnah Nabi mereka. Allâh menyelamatakan mereka, sehingga mereka tidak tersambar oleh hawa nafsu; tidak terseret oleh arus syubhat. Dalam rangka untuk mencari keyakinan yang shahih, mereka tidak condong pada akal, pikiran, perasaan dan emosi mereka atau yang semisalnya. Akan tetapi mereka hanyalah bersandarkan pada Kitab Allâh dan Sunnah Rasûl-Nya.

Dan tidak diragukan lagi bahwa ada beraneka sebab yang menjadi faktor pendorong untuk langgeng dan selamat serta eksisnya akidah ini dalam jiwa para pemegangnya -berkat taufiq dari Allâh Azza wa Jalla -. Allâh Azza wa Jalla sematalah Yang memberi taufiq dan memberi karunia. Dan anugerah hanya ada di tangan-Nya, di mana Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allâh Azza wa Jalla mempunyai anugerah yang besar. Maka taufiq dari Allâh, bimbingan-Nya menuju yang benar, petunjuk dan pertolongan-Nya kepada mereka, itu adalah perkara yang paling besar di mana dengan hal tersebut keselamatan mereka benar-benar terwujud. Dan dengan sebabnya jugalah akidah ini tetap eksis dalam jiwa mereka. Dan Allâh adalah sebaik-baik yang menjaga, dan Dialah Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.

Karena itulah wajib bagi setiap muslim untuk memperkuat hubungannya dengan Allâh. Keharusan baginya untuk senantiasa meminta pertolongan, taufiq, kelurusan dan keselamatan. Karena segala perkara ada di tangan Allâh Azza wa Jalla .

وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allâh. Hanya kepada Allâh aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali. [Hud /11:88]

Tidak diragukan, banyak sebab –setelah taufiq dan penjagaan dari Allâh- yang ada di balik kokoh, langgeng dan eksisnya akidah ini dalam jiwa para pemegangnya; yang juga menjadi sebab selamatnya para pemegang akidah ini dari perubahan, dari ketidak konsistenan dalam bersikap, dan penyelewengan. Tidak diragukan p**a bahwa merupakan hal yang bermanfaat bagi seorang Muslim dalam kehidupannya, agar ia mengetahui hal-hal yang menjadi sebab kokoh dan selamatnya akidah; agar ia bisa menjaganya dalam dirinya; dan agar ia memeliharanya dengan sebaik-baiknya; dengan memohon pertolongan kepada Allâh Azza wa Jalla dalam segala hal tersebut.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XIX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] HR. Abu Daud 4607, at-Tirmidzi, 2676

[2] HR. Ahmad, 4/102, Abu Daud 4597. Hadits ini dinilai shahih oleh al-Albani dalam as-Silsilah Ash-Shahîhah, no. 203

Almanhaj.or.id

BismillahPERINGATAN ULAMA KIBAR TERHADAP JAMA’AH YANG GEMAR MENGHAJR DAN MENTABDI (JAMA'AH TAHDZIR)1. Syaikh Al-Allamah ...
14/03/2017

Bismillah

PERINGATAN ULAMA KIBAR TERHADAP JAMA’AH YANG GEMAR MENGHAJR DAN MENTABDI (JAMA'AH TAHDZIR)

1. Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz bin Baz

Al-Allamah, al-Mufti al-Alim, Samahatus Syaikh Abdil Aziz bin Abdullah bin Bazz – rahimahullahu- berkata, sebagaimana termuat dalam harian al-Jazirah, ar-Riyadh, asy-Syirqul Awsath, Sabtu 22/6/1412 H, sebagai berikut :
“Telah merebak di zaman ini tentang banyaknya orang-orang yang menisbatkan diri kepada ilmu (tholibul ‘ilm, pent.) dan terhadap dakwah kepada kebajikan (da’i, pent.) yang mencela kehormatan kebanyakan saudara-saudara mereka para du’at yang masyhur dan memperbincangkan kehormatan (menjelekkan, pent.) para thullabul ‘ilm (penuntut ilmu), para du’at dan khatib (penceramah). Mereka melakukannya secara sirriyah (sembunyi-sembunyi) di dalam majelis-majlis mereka, dan bisa jadi ada yang merekamnya di kaset-kaset kemudian disebarkan kepada manusia. Terkadang p**a mereka melakukannya secara terang-terangan di dalam muhadharah ‘am (ceramah umum) di masjid-masjid. Cara ini menyelisihi dengan apa-apa yang diperintahkan Allah dan rasul-Nya, dengan beberapa alasan :
Pertama.
Hal ini merusak hak-hak kaum muslimin, dan khususnya para penuntut ilmu dan da’i yang mengerahkan segenap usahanya di dalam mengarahkan manusia, menunjuki mereka dan membenahi aqidah dan manhaj mereka. Mereka bersungguh-sungguh di dalam mengatur/mengelola durus (pelajaran-pelajaran) dan muhadharaat (pengajian-pengajian) serta penulisan buku-buku yang bermanfaat.
Kedua.
Hal ini memecah belah persatuan kaum muslimin dan memporak porandakan barisan mereka, dimana ummat ini lebih membutuhkan kepada persatuan dan menjauhi dari berkelompok-kelompok dan berpecah belah serta menjauhi dari banyaknya qiila wa qoola (perkataan-perkataan yang tidak jelas, pent.) di tengah-tengah ummat. Khususnya kepada du’at yang dicela, padahal mereka adalah termasuk dari ahlis sunnah wal jama’ah yang dikenal akan sikap mereka dalam memerangi bid’ah dan khurofat, memerangi orang-orang yang menyeru kepada bid’ah dan khurafat, dengan cara menyingkapkan kesalahan-kesalahan dan kekurangan mereka (para penyeru bid’ah dan khurafat).
Kami tidak melihat adanya mashlahat (kebaikan) di dalam perilaku semacam ini (yaitu mencela para du’at), melainkan akan memberikan maslahat bagi musuh-musuh Islam dari kaum kuffar, munafik, dan ahli bid’ah serta kesesatan.
Ketiga.
Sesungguhnya perbuatan ini (yaitu mencela para du’at), akan membantu dan menolong orang-orang yang menyimpang dari kalangan kaum atheis, sekuler dan lainnya. Dimana mereka ini tersohor akan permusuhannya terhadap para du’at islam dan terkenal akan pengadaan kedustaan terhadap mereka dengan menghasut melalui buku-buku maupun kaset-kaset rekaman. Hal ini (mencela para du’at) bukanlah hak dalam persaudaraan dalam Islam bagi orang-orang yang dengki itu dengan membantu musuh-musuh mereka terhadap saudara-saudara mereka thullabul ‘ilmi dan para du’at.
Keempat.
Hal ini akan menyebabkan rusaknya hati umat ini secara umum dan mereka sendiri secara khusus, dengan menyebarkan dan mengedarkan kedustaan serta merebakkan kebathilan. Hal ini merupakan sebab berkembangnya ghibah, namimah (mengadu domba) dan pembuka pintu-pintu kejahatan bagi orang-orang yang jiwanya lemah, yang mana mereka ini akan menyebarkan syubuhat dan meluaskan fitnah serta mendorong mereka menghancurkan kaum mukminin.
Kelima.
Sesungguhnya kebanyakan perkataan-perkataan tersebut tidaklah berdasar. Sesungguhnya perkataan-perkataan tersebut hanyalah bersumber dari dugaan (imajinasi) yang Syaithan menghiasinya dan memperdayainya. Allah Ta’ala berfirman.
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah olehmu kebanyakan dari purbasangka, karena sesungguhnya sebagaian purbasangka itu adalah dosa.” [Al-Hujurat : 11-12]
Selayaknyalah bagi seorang muslim membawa ucapan saudaranya seislam pada sebaik-baik tempat (kepada makna yang paling baik). Sebagian Salaf berkata, “Janganlah engkau berprasangka buruk terhadap perkataan yang dilontarkan saudaramu sedangkan engkau dapat membawa perkataan tersebut pada makna yang baik.”
Keenam,
Apa yang didapatkan dari ijtihad sebagian ulama dan penuntut ilmu dari perkara-perkara yang memang memungkinkan di dalamnya berijtihad, maka orang tersebut tidak boleh disalahkan apalagi dicela, jika ia memang ahli ijtihad. Jika sekiranya ada orang lain yang menyelisihinya, selayaknyalah ia berdiskusi dengannya dengan cara yang baik, dengan mengharapkan memperoleh kebenaran dan dengan menolak waswas syaithan yang hendak memecah belah kaum mukminin. Jika hal ini tidak memungkinkan dan ia beranggapan harus menerangkan penyelewengannya, maka hendaklah dengan ungkapan-ungkapan yang baik dan ucapan-ucapan yang lembut tidak kasar tanpa celaan ataupun ucapan yang sia-sia yang dapat menyebabkan seseorang menolak kebenaran atau bahkan menjauhi kebenaran, juga tanpa menyebutkan perorangan atau menuduh niat atau menambah ucapan-ucapan yang tidak dimaksudkannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda tentang perkara ini, ‘mengapa ada kaum yang berkata demikan dan demikian??’*”.
Keterangan :
[*] Isyarat terhadap hadits yang diriwayatkan Sayyidah Aisyah Radhiyallahu ‘anha ketika berkata, ‘Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam jika menyampaikan sesuatu tentang seseorang beliau tidak berkata, ‘mengapa fulan berkata demikian’, namun beliau berkata, ‘mengapa ada kaum yang berkata demikian dan demikian?’.’ Hadits Shahih diriwayatkan Abu Dawud dalam bab al-Idznu wal Isti’dzan (izin dan meminta izin), lihat Silsilah ash-Shahihah no 2064

2. Syaikh Al-Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Abani

Berkata Syaikh kami yang mulia, al-Muhaddits al-Ashr al-Mujaddid al-Faqih Muhammad Nashirudin al-Albani -Rahimahullah- di dalam kaset Silsilah al-Huda wan Nur ash-Shouthiyah no 784 side A, sebagai berikut :
“Syuf (perhatikan) wahai saudaraku! Aku menasehatkanmu dan para pemuda lainnya yang berada di jalan munharif (menyeleweng) sebagaimana tampak pada kami, wallahu a’lam, untuk tidak membuang-buang waktumu untuk mencela satu dengan lainnya dan sibuk dengan mengatakan fulan begini dan fulan berkata begitu. Dikarenakan, pertama, hal ini tidaklah termasuk ilmu sama sekali, dan yang kedua, uslub (cara) ini akan merasuk ke dada dan menyebabkan kedengkian serta kebencian di dalam hati. Wajib atasmu menuntut ilmu!!! Karena ilmulah yang akan menyingkapkan apakah perkataan ini yang mencela Zaid atau fulan dari manusia dikarenakan dirinya memiliki banyak kesalahan, apakah berhak bagi kita untuk menyebutkan shohibul bid’ah atau mubtadi’ ataukah tidak?? Apa yang harus kita lakukan dengan mendalami perkara ini?? Aku tidak menasehatkanmu untuk mendalami seluruh perkara ini dengan benar-benar, karena hakikatnya kita sekalian sedang mengeluhkan perpecahan ini yang terjadi di tengah-tengah orang-orang yang berintisab (menisbatkan diri) pada dakwah al-Kitab dan as-Sunnah, atau sebagaimana kita menyebutnya, Dakwah Salafiyah.!!!
Perpecahan ini, wallahu a’lam, penyebab utamanya adalah dorongan jiwa yang memerintahkan kepada keburukan (an-Nafsul ammarah bis suu`) dan bukanlah perselisihan pada sebagian pemikiran. Inilah nasehatku. karena telah sering aku ditanya, ‘apa pendapatmu tentang fulan?’, dan aku langsung faham bahwa ia (penanya) orang yang memihak atau memusuhi. dan terkadang orang yang ditanyakan adalah diantara saudara-saudara kita terdahulu yang dikatakan dia menyimpang, maka kami bantah penanya tersebut, apa yang engkau inginkan terhadap fulan dan fulan??
Berlaku luruslah sebagaimana engkau diperintahkan! Tuntutlah ilmu! Dengan ilmu engkau akan dapat memilah-milah mana yang thalih dan mana yang shalih, mana yang bathil dan mana yang haq.!!! Kemudian janganlah engkau ini mendengki terhadap saudara seislam dikarenakan ia jatuh kepada beberapa kesalahan. Kami tidak mengatakan salah, namun kami katakan ia menyimpang dalam satu, dua atau tiga perkara, dan perkara lainnya ia tidak menyimpang.
Kita dapati para Imam Ahli Hadits yang menerima haditsnya (orang yang menyimpang) dan disebutkan di dalam riwayatnya ia khariji atau murji`i atau lainnya. Ini semua adalah aib dan kesesatan, namun diperoleh pada timbangan tersebut yang mereka berpegang teguh padanya. Kita tidak menimbang beratnya keburukannya dari kebaikan-kebaikannya atau dua atau tiga keburukannya terhadap banyaknya kebaikannya, dan yang terbesar adalah syahadat Laa ilaaha illa Allah wa Muhammad Rasulullah.”
Syaikh juga berkata tentang definisi siapakah mubtadi’ itu di dalam kaset Silsilah Huda wa Nur ash-Shouthiyah no 785 side B, sebagai berikut :
“Atsar Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu bermanfaat untuk menunjukkan contoh dari terjatuhnya seorang alim kepada bid’ah tidaklah serta merta menjadikannya mubtadi’ dan jatuhnya seseorang kepada perbuatan haram, dengan pernyataan memperbolehkan apa-apa yang diharamkan secara ijtihad, tidak serta merta menjadikannya sebagai pelaku keharaman. Saya katakan, atsar Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu ini menunjukkan bahwasanya ia dulu berdiri menasehati manusia pada hari Jum’at sebelum sholat, berfaidah untuk menunjukkan contoh yang shahih, bahwa bid’ah yang terkadang terjatuh kepada seorang alim, tidaklah dengan demikian ia menjadi seorang mubtadi’.
Sebelum masuk ke jawaban yang lengkap, aku katakan, al-Mubtadi’ adalah berawal dari kebiasaannya mengada-adakan bid’ah di dalam agama, dan tidaklah orang yang mengada-adakan bid’ah, walaupun ia mengamalkannya bukan karena ijtihadnya, namun dari hawa nafsunya, tidak serta merta dikatakan dia mubtadi’!! contoh terjelas yang paling dekat dengan perkara ini adalah, seorang hakim yang dhalim yang terkadang berlaku adil pada sebagian hukum-hukumnya, tidaklah bisa disebut hakim adil, sebagaimana p**a seorang hakim yang adil yang terkadang melakukan kedhaliman di sebagian hukum-hukumnya, tidaklah dinamakan dirinya hakim dhalim. Hal ini berkaitan erat dengan kaidah fiqh islami yang menyatakan bahwasanya seorang manusia dilihat dari banyaknya kebaikan atau keburukannya. Jika kita telah mengetahui hakikat ini, maka kita dapat mengetahui siapakah mubtadi’ itu. maka, dengan demikian disyaratkan bagi mubtadi’ dua hal, yaitu pertama, dia bukanlah seorang mujtahid namun hanyalah pengikut hawa nafsu dan kedua, dia menjadikan bid’ahnya sebagai kebiasaan dan agamanya.”

3. Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Syaikh al-Imam Faqihuz Zaman, al-Allamah Muhammad bin Sholih al-Utsaimin -rahimahullahu- berkata saat Liqo`ul Babil Maftuh (Pertemuan terbuka) no 1322, sebagai berikut :
“Salafiyyah adalah ittiba’ terhadap manhaj Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya, dikarenakan mereka adalah salaf kita yang telah mendahului kita. Maka, ittiba’ terhadap mereka adalah salafiyyah. Adapun menjadikan salafiyyah sebagai manhaj khusus yang tersendiri dengan menyesatkan orang-orang yang menyelisihinya walaupun mereka berada di atas kebenaran, maka tidak diragukan lagi bahwa hal ini menyelisihi salafiyyah!!!
Kaum salaf seluruhnya menyeru kepada Islam dan bersatu di atas Sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, mereka tidak menyesatkan orang-orang yang menyelisihinya karena perkara takwil/penafsiran yang berbeda, Allahumma, kecuali dalam perkara aqidah, dikarenakan mereka berpandangan bahwa siapa-siapa yang menyelisihinya dalam perkara aqidah, maka telah sesat.
Akan tetapi, sebagian orang yang meniti manhaj salaf pada zaman ini, menjadikan manhajnya dengan menyesatkan setiap orang yang menyelisihinya walaupun kebenaran besertanya. Dan sebagian mereka menjadikan hal ini sebagai manhaj hizbiyah sebagaimana manhaj-manhaj hizbi lainnya yang memecah belah Islam. Hal ini adalah perkara yang harus ditolak dan tidak boleh ditetapkan. Dikatakan, ‘lihatlah kepada madzhab salafus shalih, apa yang mereka perbuat di dalam jalan mereka dan kelapangan dada mereka pada perkara khilaf yang memang diperbolehkan ijtihad di dalamnya, sampai pada taraf mereka berselisih di dalam perkara aqidah dan ilmu. engkau dapati mereka, misalnya, mengingkari Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melihat Rabbnya dan sebagian lagi menetapkannya, ada lagi yang berpendapat yang ditimbang pada hari kiamat nanti adalah anak dan sebagiannya berpendapat lembaran-lembaran amal-lah yang ditimbang õEngkau dapati p**a mereka berselisih di dalam masalah fiqhiyah, baik dalam masalah nikah, faraidh, iddah, jual beli dan lain-lain. Walaupun demikian, mereka tidak saling menyesatkan satu dengan lainnya.
Jadi, salafiyah yang bermakna sebagai suatu kelompok khusus, yang mana di dalamnya mereka membeda-bedakan dan menyesatkan selain mereka, maka mereka bukanlah termasuk salafiyah sedikitpun!!! Dan adapun salafiyah yang ittiba’ terhadap manhaj salaf baik dalam hal aqidah, ucapan, amalan, perselisihan, persatuan, cinta kasih dan kasih sayang sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, ‘permisalan kaum mukminin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau ikut sakit.’ [Hadits Riwayat Muslim], maka inilah salafiyah yang hakiki!!!”

4. Syaikh al-Allamah Bakr Abu Zaed

Asy-Syaikh al-Allamah Bakr Abu Zaed -hafidhahullahu- berkata dalam bukunya Tashnifun Naasi bain adh-Dhanni wal Yaqin hal 40-41, Cet. I, Darul ‘Aashimah, 1414 H.
“Dan upaya pemecahbelahan ini di tengah-tengah barisan Ahlus Sunnah, untuk kesekian kalinya sesuai dengan apa yang kita ketahui, ditemukan terjadi pada orang-orang yang berintisab (menyandarkan diri) sebagai Ahlus Sunnah sebagai orang-orang yang menentangnya, mereka menjadikan diri mereka menetapi ahlus sunnah dan menyandarkan bagian dari tujuannya untuk memadamkan ‘bara api’ ahlus sunnah. Mereka pun berdiri di jalan dakwah sembari melepaskan kendali lisan-lisan mereka dengan mengadakan kedustaan terhadap kehormatan para du’at, dan mereka temukan di jalan ahlus sunnah ini aral rintangan berupa fanatisme yang serampangan. Sekiranya anda melihat mereka! Orang-orang miskin yang memprihatinkan keadaan dan kerusakan yang ada pada mereka.
Mereka gemar ‘melompat’ dan ‘meloncat’, dan Allahlah yang lebih tahu tentang apa yang mereka upayakan. Anda akan benar-benar mendapatkan pada diri mereka sikap yang ceroboh dan sembrono dalam lamunan mereka yang melayang.
Mereka ‘mengibarkan’ perkara ini tanpa kaidah, seandainya anda berbantah-bantahan dengan salah seorang dari mereka, tatkala itu anda akan melihat modal semangatnya yang menggelegak tanpa bashirah. Yang mencapai akal-akal orang yang sederhana ini adalah semangat untuk menolong sunnah dan mempersatukan ummat, namun merekalah orang yang pertama kali akan menghancurkan sunnah dan mengoyak-ngoyak persatuan ummat…”

5. Syaikh al-Allamah Abdul Muhsin al-Abbad -hafidhahullahu- ditanya saat pelajaran (durus ) Sunan Abu Dawud, malam hari, 26 Shafar 1423 H, sebagai berikut :
Pertanyaan.
Jika seandainya ada seorang syaikh berbicara mengenai seseorang dan menganggapnya mubtadi’, apakah harus seorang pelajar (tholib) mengambil tabdi’ ini? Ataukah harus mengetahui sebab-sebab tabdi’ terlebih dahulu, dikarenakan terkadang tabdi’ ini dimutlakkan atas seseorang walaupun ia multazim dengan sunnah?
Jawaban.
Tidak setiap orang diterima perkataannya dalam perkara ini. Jika datang perkataan dari orang yang semisal Syaikh Ibnu Bazz atau Syaikh Ibnu Utsaimin, iya, mungkin untuk mempercayai ucapannya (mengambilnya, pent.). Adapun dari orang-orang yang ‘merangkak dan merayap’ (gemar menyebarkan desas-desus dan sembrono, pent.), maka tidak diambil perkatannya.
Pertanyaan.
Masalah lain, tentang menerima khobar (berita) tsiqoh (orang yang terpercaya), apakah diterima perkataannya secara mutlak tanpa tatsabut? Misalnya dikatakan, fulan tersebut mencela dan memaki shahabat, sebagai contoh, apakah wajib bagiku menerima perkataan ini (langsung) dan menghukuminya (sebagai pencela sahabat, pent.) ataukah aku harus tatsabut?
Jawaban.
(Anda) harus tatsabut!!!
Pertanyaan.
Walaupun yang berkata demikian adalah salah seorang masyaikh?
Jawaban.
Harus tatasabut!!! Orang yang berkata jika ia menisbatkan kepada kitabnya dan kitabnya eksis (maujud), sehingga memungkinkan ummat untuk merujuk kepada kitab ini. Adapun perkataan belaka yang kosong dari pokok (asas) yang disebutkan tentangnya terutama jika orang-orang tersebut masih hidup. Adapun jika ia termasuk dari para pendahulu kita dan dia memang dikenal dengan kebid’ahannya atau termasuk penghulu bid’ah, maka hal ini semua orang telah mengetahuinya, yaitu seperti Jahm bin Shofwan, dan demikianlah tiap-tiap orang yang berkata ia mubtadi’, maka sesungguhnya perkataannya benar, yaitu mengatakannya mubtadi’. Adapun terhadap orang-orang yang melakukan kesalahan sedangkan dia memiliki kesungguhan yang luar biasa dalam berkhidmat terhadap agama, kemudian dia tergelincir, maka seharusnya ummat ini menghukumi terhadapnya pada kesalahannya saja.
Pertanyaan.
Jika didapatkan pada seorang alim perkataan yang mujmal (global) di dalam suatu perkara, dan terkadang perkataan mujmal tersebut secara dhohirnya menunjukkan kepada suatu perkara yang salah, dan didapatkan lagi padanya perkataan yang lain yang mufashshol (terperinci ) pada perkara yang sama tentang manhaj salaf, apakah dibawa perkataan seorang alim yang mujmal tersebut kepada perkara yang mufashshol?
Jawaban.
Iya, dibawa kepada mufashshol, selama perkara tersebut adalah sesuatu yang masih samar, dan perkara yang jelas dan teranglah yang dianggap.

6. Asy-Syaikh al-Allamah Sholih Fauzan al-Fauzan

Asy-Syaikh al-Allamah Sholih Fauzan al-Fauzan -hafidhahullahu- berkata saat pengajian tentang Aqidah dan Dakwah (III/69) sebagai berikut :
“Diantara kerusakan-kerusakan perpecahan yang demikian ini adalah mengakibatkan perpecahan di tengah-tengah kaum muslimin, disebabkan disibukkannya mereka satu dengan lainnya dengan mentajrih (mencela) dengan gelar-gelar yang buruk. Tiap-tiap mereka menghendaki memenangkan diri mereka dari yang lainnya dan merekapun menyibukkan kaum muslimin dengan perihal mereka. Yang mana hal ini menjadi melebihi mempelajari ilmu yang bermanfaat. Sesungguhnya banyak dan banyak dari para penuntut ilmu yang bertanya sampai kepada kami bahwa semangat dan kesibukan mereka hanyalah memperbincangkan manusia dan kehormatan mereka, baik di majelis-majelis maupun perkump**an mereka, sembari menyalahkan ini dan membenarkan itu, memuji ini dan menyatakan itu sesat… Tidaklah mereka ini disibukkan melainkan hanya memperbincangkan manusia..”
Syaikh al-Allamah ditanya saat pengajian tentang Aqidah dan Dakwah (III/57) sebagai berikut :
Pertanyaan.
“Apa pendapat yang mulia tentang merebaknya celaan-celaan baik yang tertulis maupun yang didengar yang merebak di kalangan para ulama?? Tidakkah Anda memandang bahwa duduknya mereka untuk diskusi adalah lebih mulia?? Karena betapa banyak aturan-aturan islam yang rusak karena hal ini!!”
Jawaban.
“Para ulama yang mu’tabar (dikenal keilmuannya) tidak ada pada diri mereka sedikitpun dari apa yang disebutkan dalam pertanyaan. Mungkin hal ini terjadi diantara para penuntut ilmu dan pemuda yang bersemangat, kami memohon hidayah dan taufiq Allah untuk mereka. Kami menyeru mereka untuk meninggalkan perbuatan tercela ini dan supaya mereka saling bersaudara di atas kebajikan dan ketakwaan, serta mengembalikan kepada para ulama terhadap perkara-perkara yang mereka sulit menentukan kebenarannya, dan agar mereka -para ulama- menjelaskan kepada mereka mana yang benar, dan supaya mereka tidak memberikan pengaruh pada fikiran dengan syubuhat sehingga mereka berpaling dari manhaj yang benar. Namun, janganlah difahami dari hal ini, meninggalkan bantahan terhadap kesalahan dan penyimpangan yang terdapat di sebagian buku-buku termasuk bagian nasehat bagi ummat.”
Syaikh ditanya p**a saat pengajian Aqidah dan Dakwah (III/332) sebagai berikut:
Pertanyaan.
“Syaikh yang mulia, apakah nasehatmu bagi para pemuda yang meninggalkan menuntut ilmu syar’i dan berdakwah kepada Allah dengan menceburkan dirinya ke dalam masalah perselisihan diantara pada ulama tanpa ilmu dan bashirah??
Jawaban.
“Aku nasehatkan kepada seluruh saudara-saudaraku dan khususnya para pemuda penuntut ilmu agar mereka menyibukkan diri dengan menuntut ilmu yang benar, baik di Masjid, sekolah, ma’had maupun di perkuliahan. Agar mereka sibuk dengan pelajaran-pelajaran mereka dan apa-apa yang bermashlahat bagi mereka. Dan supaya mereka meninggalkan menceburkan diri kepada perkara ini -perselisihan ulama-, dikarenakan tidak ada kebaikannya dan tidak bermanfaat masuk ke dalamnya… hanya membuang-buang waktu saja dan merisaukan fikiran…
hal ini termasuk penghalang amal shalih, termasuk mencela kehormatan dan menghasut kaum muslimin. Wajib bagi kaum muslimin umumnya dan para penuntut ilmu khususnya, supaya meninggalkan perkara ini dan agar mereka mengupayakan perdamaian (ishlah) semampu yang mereka bisa. Allah Ta’ala berfirman, ‘Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah kedua golongan saudara kalian tersebut, bertakwalah kepada Allah semoga engkau dirahmati.” (al-Hujurat : 10). Terhadap orang-orang yang anda lihat melakukan kesalahan, maka wajib bagi anda menasehatinya dan menjelaskan kesalahnnya secara empat mata, dan memohon kepadanya agar ia mau rujuk (kembali) kepada kebenaran. Inilah yang dibutuhkan nasehat.
Syaikh Hafidhahullahu berkata saat pengajian Dhahiratut Tabdi’ wat Tafsiq wat takfir wa Dhawabithuha, sebagai berikut :
“Oleh karena itu, wajib bagi para pemuda Islam dan penuntut ilmu untuk mempelajari ilmu yang bermanfaat dari sumbernya dan dari ahlinya yang dikenal akan keilmuannya. Kemudian setelah itu, mereka akan tahu bagaimana berbicara dan bagaimana meletakkan sesuatu pada tempatnya, karena Ahlus Sunnah dulu maupun sekarang mampu menjaga lisannya dan mereka tidaklah berucap melainkan dengan ilmu..”

7. Syaikh Nashir bin Abdul Karim al-Aql

Asy-Syaikh Nashir bin Abdul Karim al-Aql -hafidhahullahu- berkata saat pengajian Syarh Mujmal I’tiqod Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagai berikut :
“Orang-orang beriman seluruhnya adalah wali Allah dan bagi seluruh mukmin diberikan wala’ (loyalitas) sebatas tingkat keimanannya, demikian p**a sebaliknya (diberikan baro’ah (kebencian/berlepas diri) sebatas tingkat kemaksiatannya, pent.).
Orang-orang kafir, seluruhnya adalah wali Syaithan dan tidak ada wala’ sedikitpun bagi orang kafir. Akan tetapi, mukmin yang bermaksiat, diberikan baro’ah kepadanya menurut kadar kemaksiatannya, demikian p**a para pelaku bid’ah dari kaum muslimin, diberikan baro’ah menurut tingkat kebid’ahannya, dan bagi mereka wala’ sebatas keimanannya. Oleh karena itu, sesungguhnya orang kafir tidak terkumpul padanya wala’ dan baro’ sekaligus.
Seorang mukmin yang kholish (murni) yang berjalan di atas as-Sunnah, baginya wala dan kecintaan yang sempurna. Jika ditemukan padanya kemaksiatan atau kebid’ahan maka terkumpul padanya dua perkara: yaitu kita berwala’ terhadap kebaikan dan iman yang dimilikinya dan kita membenci terhadap kemaksiatan dan kebid’ahannya. Dengan demikian, mayoritas kaum mukminin pelaku kemaksiatan dan kebid’ahan yang tidak sampai mengeluarkan dari agama… mayoritas mereka… bahkan seluruhnya dari para pelaku kemaksiatan dan bid’ah yang kecil, bagi mereka kecintaan dan wala’ sebatas keimanan dan amal shalih yang ada pada mereka serta baro’ dan kebencian sebatas kemaksiatan dan kebid’ahan mereka.
Kaidah ini jarang dipegang oleh kebanyakan orang-orang yang lemah ilmunya dan dangkal pemahaman agamanya serta bodoh dengan manhaj salaf, sampai-sampai sebagian orang yang mengaku sebagai salafiy juga jatuh kepada hal ini, yaitu mereka memusuhi bid’ah dengan permusuhan yang kamil (sempurna), walaupun terkadang bid’ahnya tidak sampai tingkatan mengeluarkan pelakunya dari agama, dan terkadang p**a kebid’ahan tersebut hanya sebagian kecil saja tidak menyeluruh pada seseorang. Sebagaimana p**a mereka memusuhi kemaksiatan dengan permusuhan sempurna, atau memusuhi suatu penyelewengan dan kesalahan dengan permusuhan yang sempurna.
Sekarang kita perhatikan dampak dari penerapan perilaku ini, yang marak terjadi di tengah-tengah ahlus sunnah, yang menimbulkan keprihatinan dan percekcokan di dalam permasalahan agama, perkara Ijtihadiyah dan seputar dakwah kepada Allah. Kita dapatkan mereka saling berselisih tentang hal ini dan menerapkan kepada musuh dan lawan mereka sesama ahlus sunnah, baro’ah yang sempurna, sampai mereka membenci mereka, memperbolehkan menjelekkan mereka, menyebarkan aib mereka, mereka berniat karena Allah mendakwahi lawan mereka namun mereka menyebarkan aib mereka dan mentahdzir mereka.
Hal ini menyelisihi ushul (pokok) syariat. Iya memang, jika mereka melakukan kesalahan diperingatkan kesalahan-kesalahannya, namun tetap dengan mengakui keutamaan dan kemampuan yang mereka miliki. Ini adalah perkara dharuri (yang wajib dilakukan) atau jika tidak. akan timbul fitnah di tengah-tengah kaum muslimin. Demikian p**a seorang yang menyimpang, wajib diberitahukan padanya, bahwa dirimu selaras dengan kebenaran dalam perkara yang memang benar dan dirimu menyelisihi kebenaran dalam perkara yang memang menyelisihi kebenaran. Dan janganlah mengobarkan kebencian di dada-dada kaum muslimin satu dengan lainnya sebagaimana cara yang dilakukan oleh orang-orang bodoh tadi. Bahkan saya katakan, tidak terlarang, di sini aku contohkan sedikit… termasuk tabiat dan adab islami jika anda berselisih dengan salah seorang saudara anda dan anda memandang ia melakukan kesalahan atau kebid’ahan yang cukup besar, anda memberikannya udzur setelah anda tidak mampu lagi memuaskan dirinya (dengan dalil), dan senantiasa berwala’ seraya mengatakan ‘aku mencintaimu karena Allah terhadap kebaikan dan kelurusan yang anda miliki’… (hal ini) tidak terlarang!!!
saudara-saudaraku yang kucintai karena Allah, hingga sampai-sampai jika ditemukan padanya kesalahan… (maka tidak apa-apa melakukan sebagaimana contoh di di atas, pent.)… yang dengan cara ini akan mendamaikan hati dan menghilangkan kebencian dan kedengkian yang dimiliki kaum mukminin satu dengan lainnya.
Sampai-sampai orang-orang bodoh tadi melupakan baro’ kepada orang kafir dan pelaku bid’ah yang berat, dimana mereka palingkan nash-nash tentang baro’ kepada saudara-saudara mereka. Aku takut mereka akan ditimpa -jika mereka tidak mau taubat dan kembali kepada kebenaran dan manhaj yang lurus- sebagaimana yang disifatkan nabi kepada salah satu kelompok ahlul bid’ah, ‘yang mereka ini memerangi ahlul islam dan membiarkan ahlul awtsan (penyembah berhala)’ yang datang dari hadits shahih ketika mensifatkan sebagian kelompok ahlul bid’ah.
Tentu saja, baro’ yang kamil (sempurna) merupakan jalan kepada peperangan. Seorang manusia yang baro’ kepada saudaranya muslim dengan baro’ yang sempurna berimplikasi terhadap penghalalan darahnya. Walaupun tidak terjadi saat ini saat ini, namun wajib bagi kita untuk berhati-hati dari sikap yang dapat mengeruhkan keadaan ini. Kita perlu tahu bahwa ahlus sunnah terkadang berselisih diantara mereka, terkadang ditemukan pada sebagian ahlus sunnah kesalahan pada manhajnya, akan tetapi tanpa maksud/kesengajaan -dikarenakan ijtihad-, terkadang p**a ditemukan pada mereka ketergelinciran yang besar, akan tetapi tanpa kesengajaan yang tidak menyebabkan mereka berpecah belah, dan terkadang p**a didapatkan pada sebagian ahlus sunnah suatu kebid’ahan, namun tidak banyak dan tidak termasuk bid’ah yang kategori berat.
Namun, tetap wajib bagi kita menyalahkan terhadap kesalahan yang ada pada mereka, namun kita tetap menganggap mereka, mencintai dan berwala’ terhadap mereka dari perkara-perkara yang benar jika mereka termasuk ahlus sunnah.

Wallahu a’lam. Semoga Sholawat senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan seluruh sahabat-sahabatnya.”
[Dinukil dan di alih bahasakan oleh Abu Salma bin Burhan dari kutaib Aqwalu wa Fatawa Ulama fi tahdzir ‘ala Jama’atil Hajr wat Tabdi’]

Dari Almanhaj.or.id

Address

Surakarta
Surakarta
57142

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Darul Akhyar posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Darul Akhyar:

Share