15/08/2026
🩸 AWALNYA TAKUT, TAPI LAMA-LAMA KETAGIHAN 😅
Sebuah cerita kecil dari perjalanan bekam hari ini
Bismillah...
Sebelum cerita ini dimulai, izinkan saya kenalan sebentar.
Saya ini sebenarnya content creator pemula, masih belajar.
Dan kebetulan saya juga pembekam pemula, yang sampai hari ini masih terus belajar.
Jadi kalau ada yang bilang,
"Wah, sudah ahli ya?"
Saya jawab dalam hati:
"Ahli membawa tas bekam keliling mungkin iya... ahli ilmunya, masih jauh sekali." 😅
Banyak ilmu yang saya dapat bukan hanya dari buku, tetapi dari para senior, guru-guru, grup WhatsApp, grup belajar, seminar, dan berbagai pelatihan yang pernah saya ikuti.
Alhamdulillah...
Dari sana bukan hanya ilmu yang saya dapatkan, tapi juga saudara.
Saudara yang sama-sama membawa p***a bekam.
Saudara yang tasnya kadang lebih berat daripada isi dompetnya. 😂
Saudara yang kalau bepergian bukan bertanya,
"Mau ke mana?"
Tapi:
"Bawa alat bekam nggak?" 😅
Semoga Allah memberikan kesehatan, umur panjang, dan keberkahan kepada seluruh guru, senior, para terapis, serta panitia-panitia pelatihan yang telah menjadi jalan tersebarnya ilmu ini.
Karena lewat merekalah saya dulu mengenal bekam.
Lewat pelatihan.
Lewat grup.
Lewat promosi.
Lewat pertemuan dengan orang-orang yang sebelumnya bahkan tidak saya kenal.
Semoga setiap ilmu yang mereka ajarkan menjadi amal jariyah yang terus mengalir.
Aamiin ya Rabbal 'alamin.
---
📖 EMPAT TAHUN YANG LALU...
Cerita ini bermula sekitar empat tahun yang lalu.
Ada seorang bapak sudah cukup lama mengalami sakit.
Hampir sembilan tahun.
Usianya sudah sekitar enam puluhan, seorang pensiunan.
Tapi ada satu masalah besar...
Beliau takut bekam.
Bukan takut biasa.
Belum pernah dibekam, tetapi sudah takut duluan. 😅
Akhirnya tibalah hari yang dijanjikan.
Saya datang membawa perlengkapan bekam.
Dalam hati mungkin beliau berpikir:
"Ini orang kok datang membawa p***a segala..." 😂
Saya mencoba menenangkan.
Saya beri sedikit wejangan:
"Sabar ya, Pak. Jenengan sudah puluhan tahun menikmati sehat. Sekarang mungkin Allah sedang memberikan ujian lewat sakit. Kita ikhtiar, kita sabar, kita istiqamah."
Kemudian...
Mulailah saya pasang bekam.
P***a pertama...
P***a kedua...
Beliau langsung:
"Aduh Mas... tarikannya kekencengan!" 😅
Saya jawab:
"Sabar, Pak. Cuma sebentar."
Padahal...
Baru dua kali p***a. 😂
Saya pun menunggu.
Saya biarkan beliau beradaptasi dulu.
Lama-lama tarikan yang awalnya terasa asing mulai terasa biasa.
Saya pikir:
"Nah, sudah aman ini."
Kemudian saya lanjutkan.
Baru satu titik ditusuk...
Beliau langsung:
"Aduh... kok sakit, Mas?"
Saya:
"Wes waya, Pak... sabar dulu. Sebentar lagi selesai." 😂
Padahal baru satu cup.
Kalau waktu itu bekamnya punya kaki, mungkin sudah lari duluan. 😅
Alhamdulillah akhirnya selesai juga.
Saya lihat wajah beliau...
Jujur saja, dari raut mukanya seperti orang yang sedang berkata:
"Cukup sekali ini saja, Mas. Jangan datang lagi." 😂
Sebelum pamit saya hanya berpesan:
"Pak, memang awalnya terasa sakit. Tapi insyaAllah kalau sudah terbiasa dan dilakukan dengan sabar serta istiqamah, rasanya akan lebih ringan. Kita tetap berikhtiar."
Saya pun p**ang.
Dalam hati:
"Kayaknya ini bekam pertama sekaligus terakhir." 😅
---
🩸 TAPI TERNYATA SAYA SALAH...
Hari berganti.
Minggu berganti.
Bulan berganti.
Yang awalnya takut...
Yang awalnya mengeluh...
Yang awalnya baru dua kali p***a sudah bilang:
"Kencengan, Mas!"
Pelan-pelan mulai terbiasa.
Dan ternyata...
Beliau terus melanjutkan bekam.
Sampai akhirnya kami rutin bertemu sekitar sebulan sekali.
Bahkan sekarang sudah berjalan lebih dari dua tahun.
Dan bagian paling lucu dari cerita ini adalah...
Dulu istrinya yang bertanya:
"Pak, mau bekam?"
Anaknya yang mengingatkan:
"Pak, kapan bekam lagi?"
Sekarang?
Beliau sendiri yang menentukan jadwal. 😂
Yang dulu takut melihat p***a...
Sekarang malah seperti menunggu:
"Mas, kapan bekam lagi?"
MasyaAllah...
Dari takut menjadi terbiasa.
Dari terbiasa menjadi nyaman.
Dan akhirnya...
"Nagih." 😅
---
❤️ YANG PALING MENYENTUH BUKANLAH DARAHNYA...
Bagi saya, bagian paling berharga dari cerita ini bukan soal banyaknya cup.
Bukan soal berapa kali p***a.
Bukan p**a soal seberapa banyak darah yang keluar.
Tapi ketika beliau bercerita tentang apa yang dirasakan setelah rutin melakukan terapi.
Beliau mengatakan bahwa meskipun penyakitnya tentu tidak serta-merta hilang 100%, beliau merasa lebih bersemangat menjalani hari.
Makannya lebih semangat.
Pegal-pegal terasa berkurang.
Badan terasa lebih ringan.
Tidurnya lebih nyenyak.
Dan yang paling membuat saya tersenyum...
"Setelah bekam kok rasanya nagih, Mas." 😄
Saya pun ikut tersenyum.
Karena saya teringat...
Dulu dua kali p***a saja sudah minta berhenti. 😂
Sekarang malah saya yang harus siap-siap kalau beliau sudah waktunya bekam.
---
🌿 DARI CERITA INI SAYA BELAJAR...
Kadang manusia memang begitu.
Sebelum mencoba, takutnya luar biasa.
Setelah dijalani, ternyata bisa terbiasa.
Dan ketika sudah merasakan manfaat dari sebuah ikhtiar, justru ingin mengulanginya lagi.
Tapi saya juga belajar satu hal:
Kita sebagai terapis hanyalah perantara.
Kita berusaha.
Kita belajar.
Kita memberikan pelayanan sebaik mungkin.
Namun kesembuhan tetap milik Allah.
Karena itu saya tidak pernah ingin mengatakan bahwa bekam adalah obat segala penyakit.
Tidak.
Bekam adalah bagian dari ikhtiar.
Dan kesembuhan adalah hak prerogatif Allah.
Semoga Allah memberikan kesehatan kepada beliau.
Semoga Allah memberikan kekuatan kepada keluarganya.
Dan semoga Allah memberikan kesehatan, umur panjang, serta keberkahan kepada seluruh guru, senior, terapis, dan panitia-panitia pelatihan yang telah menjadi jalan tersebarnya ilmu bekam.
Semoga ilmu yang mereka ajarkan terus mengalir dari satu orang ke orang lainnya.
Dari satu rumah ke rumah lainnya.
Dari satu daerah ke daerah lainnya.
Hingga menjadi manfaat di seluruh penjuru negeri.
Dan untuk kami para pembekam yang masih belajar...
Semoga bukan hanya p***a yang terus dibawa, tetapi juga ilmu yang terus ditambah.
Bukan hanya cup yang terus bertambah, tetapi juga saudara seperjuangan.
Dan bukan hanya ingin menjadi terapis yang dikenal...
Tetapi menjadi manusia yang bermanfaat.
Aamiin. 🤲
---
Sore ini saya akan bertemu beliau lagi.
Entah sudah yang keberapa kalinya.
Yang jelas, orang yang dulu berkata:
"Aduh Mas, sakit..."
Sekarang sudah berubah menjadi:
"Mas, kapan bekam lagi?" 😂🩸
Begitulah hidup.
Kadang yang awalnya kita takuti...
Justru menjadi bagian dari perjalanan yang paling kita syukuri.
Awalnya takut.
Lama-lama terbiasa.
Dan akhirnya... ketagihan. 😅❤️
Wallahu a'lam bish-shawab.
Ini hanya cerita pengalaman pribadi saya selama belajar dan menjalani perjalanan bekam.
Kalau dirasa bermanfaat, silakan share.
Semoga menjadi cerita kecil yang menghibur, menginspirasi, dan menjadi pengingat bahwa setiap ikhtiar membutuhkan sabar, istiqamah, ilmu, dan doa.
🩸🌿 Salam dari pembawa p***a bekam keliling. 😅
- Tulisan Seseorang -