Sahabat Keluarga Indonesia

Sahabat Keluarga Indonesia Muslimah, penulis, trainer, cofounder OASE Ind. lembaga pelatihan parenting/ keayahbundaan, pernikahan

02/03/2023

Kelak, orang tua akan menyadari bahwa salah satu kesalahan mereka adalah memasrahkan sepenuhnya pendidikan anak anak mereka pada lembaga pendidikan; merasa tidak perlu lagi terlihat langsung dalam mendidik anak mereka sendiri.

Lalu, menyadari ternyata banyak hal penting yang belum diketahui anaknya untuk hidup benar dan baik selelulus dari sekolah.

Kemudian bingung dari mana memulai memperbaiki kebiasaan buruk yang terlanjur terbentuk, karena merasa fase penting yang harusnya dulu mereka konsentrasikan untuk mendidik telah berlalu..

28/12/2020

Menuntaskan asah Rasa
Ninin Kholida

Seorang bayi kadang hanya perlu meletakkan kepalanya di pundak sang ibu lalu dielus elus
Tangisnya yang melengking, reda seketika
Tanpa perlu kata

Rewelnya henti mendengar detak jantung ayahnya, menghangat hatinya dengan pelukan lengan gagahnya

Bahkan dengan hanya memandang mata ayahnya yang tersenyum
Rindunya meleleh, tangis kerasnya lumer berganti senyuman lebar

Tak banyak kata yang bisa diucapkan bayi di awal kehidupannya
Ia merasa ... ia mampu memahami bahasa selain kata kata
Kadang ia menangis, sebentar ...
tak pernah lebih panjang dari diamnya
Senyumnya, tawanya, tidur lelapnya, rasa nyamannya, amannya, semangatnya, rasa percayanya, nempelnya
juga adalah bahasa

Bukankah dg menggelitik badannya

hanya dengan menutup membuka mata dengan telapak tangan
Sepenuh hati
Lalu berkata cilukbaa...

Bayi dan orang dewasa bisa tertawa lepas bersama
Mengulang ulang tanpa bosan

Tak perlu pintar stand up komedi untuk sebuah kebahagiaan yang renyah kan ?
Karena bahagia itu sederhana

Bahkan saat ia baru bisa bubling

Baba, mama, abababa, ehhh, huuhu, tutuu
Ayah bunda dan keluarga tercinta bisa memahami bahasa 'antah berantah' itu
Tutu .... "o adek mau pakai sepatu?"
Ababaaa " adek mau ikut solat ya ? Allahu akbar"

Karena mereka mendengarkan bukan hanya dengan telinganya
Tapi hatinya, cintanya
Dengan mata, tangan, kulit, penciumannya

Bukankah orang orang dewasa pernah jadi bayi dan anak anak ?
Bukankah kita pernah memahami bahasa selain kata kata ?

Bukankah merasa ...
Menyambungkan frekuensi jiwa ...
Tulus ..
Menyimak ...
Berempati ...
Membangun rasa nyaman dan saling percaya
Juga adalah keterampilan penting komunikasi ?
Bukankah itu akar dalam berinteraksi antar manusia?

Bahkan itu adalah pondasi awal yang tak boleh lewat, tak boleh gagal
Sebelum anak anak belajar bicara
Mengucap kata
Menyapa
Menghafal
Bertanya
Menganalisis
Menasihati
Berdebat, menyangggah
Mengambil kesimp**an ?

Dan saya menangis tadi
Mengusap butir kecil di pojok mata
Betapa buramnya cara kita berkomunikasi hari ini lewat sosial media

Kenal langsung? Tidak
Pernah berbuat baik meski kecil padanya? Belum
Sudah ikut mendoakan ? Entahlah
Sudah transfer untuk donasi bencana ?
Ikut membersihkan luka para korban ?
Mengangkat mayatnya ?
Mengusap air matanya ?

Belum. Tidak. Jauh ...

Tapi huruf huruf nya sudah tajam menghujam
Selfienya sambil tertawa ...

"Udah tahu musik haram, pasti suul hotimah:
"Gak pake jilbab, s**a pamer aurat mati kena bencana kok ngarep husnul khatimah"

Mereka menyerang apa saja dan menyinyiri siap saja. Tak hanya foto, tulisan bahkan urusan gerakan komunitas sampai soal baju pun dikomentari pedas. Sering keluar kata kata sejenis kebun binatang, umpatan, sumpah serapah, prasangka. Bahkan kata pujian untuk Tuhan pun dipelesetkan tai* dan beer. Pun dengan ikon tertawa.

Kok saya ikut perih ya membacanya ... gak semua sih.oknum saja ...

Mayat istri sahabat belum ditemukan .... tubuh masih luka luka ....
Pantaskah ucapan ucapan ini dikatakan orang (yg merasa baik) untuk menasihati (orang yang menurutnya masih jahiliah?)

Cobalah rasakan... ucapkan dengan lantang berulang ulang
Kata katamu di telingamu
Lalu diamlah .... rasakan saja

Biarkan hatimu menilai sendiri ...

______
Lalu saya mengkhawatirkan anak anak dan murid murid saya

Khawatir saat mereka penuh ilmu di otaknya
Tapi kosong kantung jiwanya
Keropos hati yang mereka gunakan untuk merasa ....

Saya khawatir bahwa dulu mereka tak cukup mendapatkan belaian, pelukan dan kedekatan berkualitas
Khawatir dulu mereka tak cukup waktu bercengkerama dan tertawa bahagia

Khawatir mereka dulu kurang bermain menikmati alam ... mendengarkan kicau burung, krik krik jangkrik, kwak-kwak bebek, b**g b**g katak, sepoi angin, suara guntur

Karena hanya jiwa yang bening yang bisa membaca isyarat alam dan mengambil pelajaran
Dari rasi bintangnya, mendungnya, dari terbang perginya burung dan capung, dari mingatnya belalang beramai ramai

Saya khawatir mereka dulu tak cukup aman saat merangkak menjelajah, saat berdiri tertatih, saat mulai bisa menaiki tangga dan melompat lompat.

Saya khawatir mereka dulu kurang didengarkan saat mulai banyak bertanya ingin tahu ini itu

Saya khawatir mereka dulu kurang diajak ngobrol, terlalu banyak disuruh menghafal dan mengerjakan PR dan menjawab pertanyaan unfaedah
Hafal teks tak paham konteks

Saya khawatir mereka terlalu cepat dibentak, disuruh diam saat baru terjatuh atau merasa sakit

Saya khawatir mereka terlalu banyak duduk dan hanya berteman dengan teman sekelasnya

Tak sempat jalan jalan dan menyapa tetangga kanan kirinya
Atau menyambangi para manula, gelandangan dan orang orang di gubuk reyot
Tak sempat membelai anak yatim
Bukan hanya tentang oposisi atau petahana
Bukan hanya tentang aku dan bukan aku

Saya khawatìr mereka hanya merekam kehidupan manusia lewat drakor, sinetron atau film di gadget mereka

Sehingga mereka tak tahu kalau ada beragam macam kisah hidup manusia
Bahwa ada beragam perasaan
Marah, benci, sedih, khawatir, cemas, senang, bahagia, lesu, hampa, s**a cita, malu, tertekan

Tak sekedar benar salah
Tak sekedar halal atau haram semata
Bahwa ada ADAB sebelum ilmu
Ada RASA yang harus diasah sebelum akal menggurita

Saya khawatir jika saya tak menuliskan kegelisahan saya

Banyak yang belum tahu
Jika banyak anak anak yg digegas dewasa sebelum tuntas tugas dan hak kekanak kanakannya
Akan jadi orang dewasa yang kekanak kanakan

"Orang yang paling keras hatinya, adalah mereka yang justru paling kering kantong kasih sayangnya"

Bahwa ada tahapan kemanusiaan yang perlu kita remidi
Sebagai (anak) manusia
Yang jujur, polos, bening, tanpa prasangka
Tanpa niat jahat
Tanpa kemahiran bersilat lidah

Karena fitrah manusianya masih terjaga
29-12-2018

Kita, Cinta  dalam kenangan anak-anak Oleh : Ninin KholidaSetelah jamaah sholat zuhur usai, nabi memanggil anak-anak yan...
26/10/2020

Kita, Cinta dalam kenangan anak-anak
Oleh : Ninin Kholida

Setelah jamaah sholat zuhur usai, nabi memanggil anak-anak yang ada di masjid untuk berkumpul. Beliau menyuapi satu per-satu anak-anak yang hadir dengan manisan buah.

Jabir bin Abdullah yang hadir waktu itu pun menceritakan bahwa Rasulullah menawarinya jika ingin menambah lagi. “ya”, jawab Jabir. Lalu Rasulullah menyuapinya kembali, menunggunya selesai mengunyah lalu bertanya lagi apakah ia ingin menambah. Begitu Jabir mengiyakan maka Rasulullah pun menyuapinya kembali. Begitu p**a dengan anak-anak lainnya hingga tak terasa satu mangkuk manisan itu habis.

Saya membaca kisah ini dengan tersenyum, membayangkan betapa bahagianya anak-anak itu disuapi langsung oleh tangan lembut yang mulia Rasulullah sallallahu ‘ alaihi wassallam. Mereka bisa duduk dekat akrab Rasulullah, saling tersenyum, ngobrol, bercengkarama, bahkan disuapi langsung oleh seorang Nabi Allah yang mulia. Betapa indahnya jika kelak mengingat kembali kenangan itu di pojok suatu masjid, saat tubuh kecil mereka masih bisa lincah berlarian.

Apa kira-kira reaksi seorang lelaki dewasa ktika mendapati pada tengah malam buta, seorang anak masih terjaga dan menyengaja tidak tidur sepanjang malam ? malam itu tak ada perintah untuk segera masuk kamar dan tidur, apalagi teriakan atau amarah.

Malam itu justru sang anak dihampiri oleh orang paling mulia di muka bumi. Setelah memahami duduk perkaranya, sang Nabi mulia itu justru mengelus-elus lembut kepalanya sambil mendoakan kebaikan yang banyak untuk sang anak. “Ya Allah berilah ia keahlian dalam agamamu dan ajarilah ia tafsir kitabmu”. Doa dari Rasulullah pada malam itu naik ke langit, lalu turun ke bumi dalam bentuk pengabulan Allah dan RahmatNya.

Kelak, anak yang bernama Abdullah bin Abbas itu benar-benar menjadi ahli ilmu sehingga ia di juluki Habrul Ummah (ahlinya ilmu umat ini) juga digelari Al Bahru (lautan ilmu) karena pemahamannya yang luas dan mendalam terutama menganai quran dan hadis.

Rupanya malam itu Abdullah bin abbas sengaja menginap di rumah istri Rasulullah, Maimunah binti Alharist yang juga merupakan bibi Abdullah bin Abbas hanya untuk mengetahui bagaimana tata cara Rasulullah mendirikan salat. Sepanjang malam Abdullah bin Abbas berusaha tidak tertidur karena khawatir ketinggalan salatnya Rasulullah.

Begitu mendengar Rasulullah bangun Abdullah segera mengambilkan air wudhu dan melayani keperluan beliau untuk solat. Kesungguhan dan semangat Abdullah inilah yang membuat Rasulullah bangga sekaligus terharu dan mendoakan kebaikan yang banyak untuknya.

Betapa bahagianya anak yang memiliki orang tua dan pendidik yang berempati, yang tak gampang mengambil kesimp**an sebelum memahami duduk persoalan dengan baik. Lalu memilih memahami dan mendengarkan, alih-alih menyalahkan anak. Betapa senangnya memiliki orang tua atau guru yang mudah dan banyak mendoakan kebaikan untuk anaknya, alih-alih berkata kasar dan buruk.

Doa baik akan sulit muncul dari benak orang tua yang selalu fokus pada kesalahan dan kekurangan anaknya, justru yang mudah muncul adalah amarah. Sebaliknya, prasangka baik terhadap anak hanya akan muncul dari hati yang senantiasa bersyukur. Ketenangan dan kelembutan hanya bisa muncul dari dada yang lapang dan jiwa yang senantiasa terhubung dengan pemilik hati, Allah subhanahu wata’ala.

Mengingat kenangan sama pentingnya dengan melupakannya. Proses mengingat dan melupakan itu sama-sama terjadi dalam benak manusia. Otak manusia memiliki mekanisme tertentu untuk menjalankan kedua proses ini. Sebagian besar peristiwa yang terjadi di masa lalu dilupakan, sebagai mekanisme untuk memelihara kerja otak, diganti dengan ingatan-ingatan baru.

Hanya yang hal-hal berkesan, penting serta berulang-ulang yang kemudian berubah menjadi ingatan jangka panjang dalam memori manusia. Lalu kenangan apakah yang sekiranya melekat kuat dalam benak anak-anak kita tentang kita orang tuanya ini ?

Saya telah menananyai lebih dari tiga ratus orang tentang 1 hal : “coba anda tuliskan 1 kenangan antara anda dengan kedua orang tua anda yang paling berkesan sampai saat ini”. Sebagian besar orang yang saya tanyai hanya membiarkan kertasnya kosong 5 menit pertama. Kurang dari sepuluh orang yang bisa secara spontan dan berbinar-binar menuliskan atau menceritakan dengan antusias tentang jawaban atas pertanyaan ini di lima menit pertama mereka. Bahkan ketika saya berikan kesempatan lima menit kedua, ternyata sebagian besar orang masih kesulitan untuk memanggil kembali ingatan berkesan mereka tentang orang tuanya. Ketika saya mengobrol dengan mereka, mereka hanya tertawa tak mengerti. “entahlah, saya sendiri bingung kenapa sulit mengungkapkannya”

Uniknya, peserta dengan salah satu atau kedua orang tuanya sudah meninggal ternyata lebih lancar menuliskan hal-hal yang berkesan tentang kedua orang tua mereka.

“ saat saya tertidur di depan televisi, ketika bangun saya sudah berada di kamar saya kembali. Meski kadang ngomel, bapak selalu menggendong saya agar tak kedinginan tidur di lantai”
“Ibu tidak pernah lupa membuat sarapan pagi, bahkan kalau saya ada pelajaran tambahan jam ke-0 atau masuk jam 6 pagi”
“ Bapak selalu menemani saya begadang kalau mengerjakan tugas sekolah, meskipun beliau sendiri terkantuk-kantuk atau lelah. Beliau tidak akan tidur sebelum memastikan saya selesai mengerjakan tugas-tugas saya, meskipun bapak tidak bisa mengajari saya mengejarkannya. Bapak tetap menemani saya”

Mungkin karena kebaikan-kebaikan itu diterima setiap hari atau berlangsung sebagai rutinitas, sehingga dianggap biasa, lumrah atau memang sudah sewajarnya dilakukan. Baru ketika kebaikan itu terhenti karena kematian, maka yang biasa itu menjadi istimewa karena dirindukan. Kemungkinan lain adalah memang kita terbiasa melakukan kebaikan-kebaikan itu dengan cara yang biasa, lalu abai untuk melakukannya menjadi sesuatu yang istimewa. Mungkin p**a kita ini orang tua yang tak tahu bagaimana cara berinteraksi dengan anak-anak, memakai cara-cara orang tua dan lupa untuk memahami anak sebagaimana adanya. Bisa jadi kebaikan yang kita lakukan hanya singgah sebentar di memorinya, tak sampai ke hati anak-anak kita.

Lalu apakah kenangan kita dalam benak anak-anak itu bisa mengantarkannya untuk mencintai Allah, Rasulnya, Islam dan kebaikan ? Ah, jangan-jangan mereka hanya mengingat suara meninggi saat kita membangunkannya solat subuh, tapi mereka tak memiliki kenangan tentang senyum indah, pelukan hangat dan kata-kata lembut di subuh hari ?

Apakah mereka hanya teringat mata melotot dan ancaman ketika kita mengingatkannya untuk berangkat mengaji ? tapi tak menyimpan keakraban, kemesraan dan kehangatan kita saat berinteraksi dengan Alquran ?
Anak-anak kita hari ini dibentuk oleh kenangan mereka di masa yang lalu, bukan hanya oleh apa yang masih mereka ingat dalam memorinya tapi apa yang mereka rasakan dalam hatinya serta apa yang menjejak dalam jiwanya.

Jika keras dan kasarnya perilaku mereka hari ini adalah hasil dari didikan kita, maka kita harus bertanya tentang apa yang telah kita tanamkan dalam jiwa mereka selama bertahun-tahun ini. Bukankah taka da yang bisa memanip**asi rasa ? karena jiwa menyerapnya secara jujur lalu memantul dalam kata, sikap dan perilaku. Ampuni kami ya Allah .... mudahkanlah ingatan ingatan buruk tentang kelalaian kami hilang dalam memori mereka. Mudahkan anak anak kami memaafkan kesalahan kami serta ampunilah kesalahan kami.

Jika kenangan terindah itu adalah akumulasi ribuan hingga jutaan kenangan, maka tantangan bagi orang tua setiap hari adalah mengukir kenangan, bertanya setiap hari pada diri sendiri “apakah kenangan kebaikan yang akan aku tuliskan ke hati anakku hari ini ?”

sehingga setiap jawaban itu berubah jadi amal salih. Lalu mengupayakan agar amal salih itu jadi amal yang ikhlas, tentang apakah amal itu akan berbekas atau tidak di hati anak-anak biarlah itu jadi wewenang Allah swt, karena sungguh tak ada yang bisa menyentuh hati selain penguasa hati. Wallahualam bish showab

Racun-racun pernikahan Oleh : NininKholidaTidak ada dua orang sudah bertahun-bertahun menikah yang 'mendadak berpisah'. ...
17/09/2020

Racun-racun pernikahan

Oleh : NininKholida

Tidak ada dua orang sudah bertahun-bertahun menikah yang 'mendadak berpisah'. Peristiwa perceraian adalah semacam salah satu klimaks, menurut para ahli terjadi diawali dengan berbagai tanda-tanda keretakan, sering sudah diusahakan solusi atau upaya mengatasinya, mengabaikannya atau seringkali meredakan tensinya : kadang berhasil namun seringkali tidak.

Para pasangan perlu mengenali tanda-tanda tersebut untuk menyadari bahwa "ya hubungan pernikahan kami ada masalah". Kemauan dan kesadaran akan hal ini, akan membawa pasangan pada langkah yang lebih efektif untuk menyelesaikannya. Di sisi lain, tidak mengenali tanda tanda keretakan pernikahan atau memburuknya hubungan hanya akan membuat suami istri memperburuk dan memperpanjang masalah, namun tidak berupaya secara efektif menyelesaikannya.

Dalam pernikahan, salah satu tantangan terbesar bagi suami istri adalah bagaimana membahas hal-hal yang tidak mengenakkan namun penting dicarikan solusinya. Misalnya saja soal utang, konflik dengan mertua, penyakit, pendidikan anak, ketidakpuasan urusan ranjang, serta berbagai hal lainnya.

Dalam menyikapi hal ini, ada beberapa mindset yang menjadi racun yang bisa memperburuk kualitas hubungan suami istri dalam pernikahan :
A. Perasaan menjadi korban
Hal ini membuat empunya selalu merasa benar serta memiliki alibi untuk memelihara rasa kecewa sebagai gagasan menjadi pahlawan dengan mengalah dan bertahan. Perasaan menjadi korban atas kesalahan pasangan, atau situasi yang tidak mengenakkan membuat empunya kehilangan kejernihan berpikir dan cenderung emosional. Pembajakan emosi karena mindset ini, membuat empunya selalu fokus pada daftar kesalahan-kesalahan pasangan dan terus mengingatkannya akan memori buruk yang bahkan sudah berlalu/ sudah selesai.

Akibat lainnya dari mindset ini adalah perasaan tertekan dan sedih yang membuyarkan mood kegembiraan. Karena berfokus sebagai korban, maka apa saja yang dilakukan pasangan meskipun berupa kebaikan akan tetap dimaknai dari sudut pandang negatif yang membuat tindakan kebaikan itu tampak percuma. Mindset ini membuat empunya sulit dibahagiakan, karena dia sendiri telah memutuskan sebagai pihak yang 'selalu dirugikan dan lemah'.

B. Meremehkan pasangan
Orang yang tidak bisa melihat kekurangan dirinya, cenderung akan sulit melihat kelebihan orang lain. Perspektif superioritas ini cenderung membuat empunya meremehkan pasangan, menilainya sulit berubah, sekaligus berpikir bahwa upaya untuk berubah dan berkembang menjadi lebih baik adalah percuma. Komunikasi akan berubah dari upaya menemukan solusi atas masalah menjadi menyerang kepribadian. Jika hal ini berlanjut maka empunya cenderung akan melakukan berbagai bully verbal ( menyindir, membanding-bandingkan, mengejek, lelucon sarkastis, atau labelling) ataupun tindakan berupa : tidak melibatkan pasangan dalam pengambilan keputusan, pembatasan wewenang pasangan bahkan tindakan agresif.

Di sisi lain, dampak bagi pasangan yakni akan merasakan intensitas perasaan direndahkan, ditolak, dipermalukan, tidak berharga lebih sering hadir. Akumulasi dari perasaan ini akan muncul sebagai campuran perasaan marah, sedih, takut, harap dan jijik. Dampak lanjutan dari akumulasi perasaan ini adalah turunnya minat untuk melakukan aktivitas bersama dengan pasangan. Nah, ada ahli yang bahkan menyimpulkan jika ekspresi jijik sudah lebih intens hadir secara ekspresif maupun tersirat dalam percakapan, maka itu adalah salah satu prediktor terbaik mengenai potensi perceraian pada pasangan.


C. Menyalahkan hal-hal di luar dirinya
Renggangnya hubungan antara suami istri dan berkali-kali gagal mencapai konsensus ketika membicarakan hal-hal yang tidak mengenakkan dalam pernikahan, akhirnya membuat suami istri cenderung malas membicarakan masalah, membiarkannya atau mencari solusi sendiri dalam versi masing-masing.
Hal ini ditandai dengan seringnya pasangan menyalahkan faktor eksternal sebagai alibi atas masalah yang mereka hadapi. Pembicaraan dalam rumah didominasi oleh keluhan, kritik, kekesalan dan pesimistis. Hal ini membuat suasana rumah menjadi tegang, iritatif dan sensitif. Masalah terus hadir tanpa solusi yang memadai, kebutuhan meningkat sementara kapasitas mengatasinya tak jadi konsentrasi untuk ditingkatkan. Irama rumah tangga ditentukan oleh apa yang terjadi di luar rumah, hal ini yang membuat anggota rumah tangga merasa tak nyaman dan cenderung mencari kompensasi di luar rumah dalam berbagai bentuk, p**ang telat, sibuk dengan aktivitas tersier dll.

D. Diam dan "terserah !"
Kelelahan secara emosional yang tidak berujung pada solusi, biasanya membuat akumulasi perasaan negatif berlarut-larut. Orang yang merasa bahwa usahanya sia-sia seringkali memilih tindakan diam, menarik diri dalam percakapan, bahkan menghindari interaksi. Bagi mereka daripada lelah bertengkar, lebih baik diam tanpa solusi.

Sikap diam sebenarnya lebih membingungkan karena ekspresi emosi tidak bisa dikonfirmasi dengan jelas. Sikap diam membuat empunya menjauh, merasa menang sekaligus melecehkan pasangan. Sikap diam membuat kemungkinan menyelesaikan masalah jadi makin kecil karena biasanya dibarengi dengan keengganan atau keputusasaan.

Diam untuk menenangkan dan meredakan suasana hati awalnya baik, tapi jika berlanjut akan jadi petaka. Hati-hati p**a jika pasangan yang diam lama sudah mengatakan 'terserah' karena itu cenderung berarti ia melepas tanggungjawab dan membiarkan pasangan menanggung konsekuensinya.

Nasihat quran agar menjauhi prasangka, menahan amarah, memaafkan, membalas keburukan dengan kebaikan, berinfaq dan terus berbuat baik tampaknya sangat relevan sebagai terapi sambil terus melakukan tazkiyatun nafs.

Apa yang ada dalam pikiran, keluar lewat lisan dan perbuatan adalah ekpresi hati. Hmm, mari bersungguh-sungguh memperbaiki hati...

Butuh waktu berapa lama mempersiapkan anak menjadi orang tua (yang baik) ?Seorang ustad pernah menasihati kami berdua, a...
16/09/2020

Butuh waktu berapa lama mempersiapkan anak menjadi orang tua (yang baik) ?

Seorang ustad pernah menasihati kami berdua, agar memulai doa untuk meminta menantu yang salih-salihah selain kesalihan untuk anak sendiri
Padahal waktu itu anak kami batita dan baru 1 saja

"Belum kepikiran ustad mau berdoa yang seperti itu.... memangnya kenapa harus berdoa dari sekarang ustad ?" Tanya kami penasaran

"Antum kira berapa lama waktu yang dibutuhkan orang tua untuk mendidik anaknya jadi solih? Setahun dua tahun ?" Tanyanya kembali

"Ya bertahun-tahun ustad... belasan mungkin puluhan tahun" jawab kami

"Nah makanya antum juga harus bantu mendoakan.... supaya besan antum yang namanya sudah tertulis di lauh mahfudz itu Allah mudahkan untuk mendidik calon suami/istri anak anak antum kelak.... ya kan memang gak tahu siapa.... tapi kan yakini dan harapkan punya anak menantu yg solih solihah biar ada yang meneruskan jariyah antum berdua..."

Kami mengangguk-angguk mengiyakan.... bener juga ya ? Jika membentuk pribadi yang solih solihah itu lama ... kenapa mintanya mendadak ?

Sejak itu saya tak lagi hanya mendoakan hidayah dan kebaikan untuk anak anak saya saja.... tapi juga mendoakan calon menantu, besan bahkan cucu cicit....mendoakan murid-murid, orang orang baik yang pernah membantu kami-berinteraksi
Dan juga umat muslim seluruh dunia. Juga mulai mendidik anak anak mempersiapkan perannya sebagai orang tua kelak.

Hehe.....siapa tahu ada calon besan yang pernah baca postingan saya ... titip anak anak saya ya pak bu (hehhe...)

Ngobrol tentang pernikahan
Karena ada beberapa undangan nikah dalam minggu minggu ini, akhirnya topik pernikahan jadi salah satu topik obrolan saya sama anak anak ( ciyuss.. anak anak yang umurnya baru dibawah 8 tahun )

Kakak awalnya tanya kenapa foto pengantin di undangannya gak pakai jilbab juga kenapa orang tua temannya menikah lagi setelah bercerai. Rasa ingin tahu mereka membuat pertanyaan serumit ini bikin uminya harus berpikir keras untuk memberikan jawaban yang pas.... sampai akhirnya obrolan kami sampai pada pertanyaan : "kalau kakak sudah baligh pengen menikah dengan istri yang kayak gimana ?" Pelan pelan sekali nada saya

" yang pasti harus islam, pakai jilbab, harus sabar sama sayang sama anak anak " jawabnya sambil ngemil
(Uminya takjub deg degan.... berusaha terlihat tenang; baru ikutan workshop kece badai tg komunikasi ortu anak)
"Ooo.... sabar sama sayang itu maksudnya gimana kak?"
"Ya gak s**a marah marah.... kalau anak anaknya tanya ini itu dijawab ditemeni belajar.... s**a main sama anak anak juga s**a pijitin suaminya"
" oo kakak pengen cari istri yang bisa mijit ?" Saya tersenyum kecil
"Gak boleh ya mi? Ya nanti kalau istrinya gakbisa mijit aku ajarin deh.. itu kan biar kalau suaminya capek apa sakit jadi cepet sembuh"
"Oo gitu "

"Ooo gitu terus apa lagi?"
"Itu istrinya harus bisa baca quran bisar bisa ajarin anaknya jadi baik... ngomongnya yg baik baik" uminy manggut manggut

Kalau dalam tahap interview tahap ini adalah mengggali pengetahuan, persepsi dan perasaan yg diajak ngobrol.... tangkap dan refleksikan apa apa yg ada dalam "alam ghaib pikiran dan perasaannya"

"Aamiin insyallah kak, umi doakan kakak punya istri solihah"
"Emang solihah apa mi?"

Bla...bla....bla.. nah baru deh uminya EDUKASI... masukin dalil dan kisah yang bisa diteladani dari para nabi dan orang orang bertaqwa..
Kalau bukan orang tua siapa lagi yang akan mengajarkan mereka tentang hal ini? Jika tidak mulai dari sekarang.... mau menunggu musibah apa lagi untuk segera bertindak mendidik anak anak memahami perannya di muka bumi?

Lain waktu obrolan berlanjut
"Menurut kakak tugasnya suami itu apa?
"Jadi suami itu berat banget loh mi " jawabnya santai
"Oh ya berat banget ? Kok tahu kakak kalau berat ?"
"Iya lah suami itu kan banyak yang diurusin.. tanggungjawabnya besar nanti ditanya sama Allah "
"Oh ya ?" ( uminya masih kaget tahu si kakak bisa bilang tanggungjawab segala.... )

" lah... memangnya tugasnya apa aja kok berat?"
"Cari uang yang halal....jangan minta minta. Harus beli, rumah beli mobil, bayar spp toh sama beli makanan... itu kan harus kerja sampe capek tetep gak boleh males" jawabnya enteng

"Emang ada gitu kak yang bilang suami harus beli mobil gitu?" (Uminya deg degan tambah kencang .. khawatir salah setting input )

"Ya gak sih mi... tapi kan kalau istrinya hamil apa lemes sakit kan dianter ke dokter... kasihan kan kalau gak naik mobil....biar aman itu"

"Oo jadi gak harus punya mobil ya ..... tapi biar lebih aman ya "

"Terus harus ajarin anak anaknya, kalau salah dimarahin, diajarin disiplin sama solat"

"Jadi suami itu harus nangis juga " lanjutnya
Uminya kaget sambil melongo .... memutar memori apakah si sulung pernah melihat tanyangan atau episode abinya nangis gara gara uminya

"Maksudnya nangis gimana kak?"
Dan terbukalah rahasia kecil hasil pengamatan kakak bla bla bla....

"Suami itu jalau jauh dari istrinya sedih loh mi, apa anaknya sakit... makanya sampai nangis diem diem" jelasnya

"Anak laki laki boleh nangisnya dikit aja.... biar matanya sehat.... kala nangis terus nanti dia jadi lemah"

Penutup yang bikin kaget tapi terharu .... ternyata anak menyimpan kesimp**an kesimp**an bahkan dari apa yang tidak dikatakan orang tuanya.

Mereka menyimpan ribuan kesimp**an dalam alam bawah sadarnya tentang apa yang mereka lihat, dengar, rasakan dan alami....sejak masih sangat kecil

Mereka memperhatikan bagaimana interaksi yang terjadi dalam rumahnya, membuat pola dalam kepalanya tentang bagaimana kelak mereka harus menjadi ayah atau ibu
Menjadi suami atau istri..
Tanpa ngobrol : orang tua tidak akan pernah tahu pemahaman dan kesimp**an anak anaknya. Tak bisa mengkonformasi apalagi menyeleksi dan menyelaraskan.

Mereka menyimpan tanya tentang perceraian tentangganya, tentang keluh kesah temannya di sekolah yang sering dipukul bapaknya
Atau yang tak pernah dibuatkan bekal oleh ibunya

Memori ini disimpan, direvisi, ditambah dan dikurangi ; diperbaharui
Selama belasan tahun atau bahkan puluhan tahun

Saya lalu bergidik.. khawatir anak anak tak mendapatkan teladan yang baik
Dari kami berdua orangtuanya yang banyak sekali salahnya ...

Kalau diinget inget juga cara cara kita sekarang jadi orang tua juga timbul tenggelam dari bagaimana kita merasakan didikan orang tua
Semoga kebaikan mereka pun mengalir pada anak anak kita...sebaliknya kesalahan mereka pun tidak kita teruspanjangkan dalam praktek yg salah

Dari pengalaman pengasuhan inilah nak anak kelak akan berkata " aku pengen punya suami yang seperti abi" ( her first love ever)
Atau sebaliknya "aku berdoa jangan sampai punya suami kayak abiy" (jika terlanjur terluka perih dan tak sembuh diobati)

Anak anak belajar tentang peran sami istri dari orangtuanya.... setelah mereka kenal sinetron,film dan segala rupa informasi
Mereka akan membandingkan lalu berkesimp**an. Maka berusahalah menjalankan peran saat ini sebagai istri suami dan orang tua dengan sebaik baiknya.
Mereka juga kelak akan belajar bagaimana menjadi ipar, menantu dan mertua lewat pengalaman langsung hidupnya.

Berhajat benar kita atas pertolongan Allah swt dan hidayahnya
Mendekatkan lagi interaksi dengan alquran
Menceritakan sirah sebaik baik teladan Rasualullah
Ia yang disempurnakan Allah diselamatkan dari dosa

Butuh benar kita bekerjasama dengan lebih banyak orang agar menghidupkan nasihat menasihati serta amar makruf nahi mungkar
Butuh benar kita mendoakan para dai
Karena dari mereka ilmu dan peringatan bersumber dan terus hidup bahkan ketika orang tuanya ini kelak renta atau tiada ..

Karena itulah kita semua harus bekerjasama
Untuk masa depan yang lebih baik bagi anak cucu kita ....

Dari umi yang mulai deg degan mempersiapkan fase aqil baligh anak anaknya
Ninin Kholida

08/07/2020

Jika sesuatu tidak berjalam sesuai harapan

Menangis saja, boleh kok.Setidaknya engkau menyadari bahwa engkau memang manusia.
02/07/2020

Menangis saja, boleh kok.
Setidaknya engkau menyadari bahwa engkau memang manusia.

01/07/2020

Ide Main dan belajar bersama Anak

Keterampilan literasi merupakan salah satu keterampilan pokok dalam pendidikan Anak. Secara bertahap anak belajar mengenal dan mempraktikkan keterampilan literasi dalam kehidupan sehari-hari.

Kali ini Kami bermain susun puzzle jadi kalimat dengan susunan benar serta punya makna. Dikombinasikan dengan aktivitas motorik berlari, lompat, merangkai kertas membuat pembelajaran literasi ini menjadi seru.

Pada sesi belajar sebelumnya anak telah diperkenalkan pengetahuan mengenai aspek penyusun kalimat.

Usia anak : 10,8, 7 dan si bungsu ikut jadi penggembira.

Selamat mencoba di rumah bersama anak-anak ya ayah Bunda

“keluarga  “Saya termasuk orang yang percaya bahwa banyak hal besar bisa berawal dari keluarga. Karena keluarga adalah o...
30/06/2020

“keluarga “

Saya termasuk orang yang percaya bahwa banyak hal besar bisa berawal dari keluarga. Karena keluarga adalah orang-orang yang punya ikatan darah/nasab,ikatan pernikahan, ikatan aqidah, ikatan emosional, ikatan hukum, ikatan sejarah dan tidak ada hubungan antarmanusia dengan ikatan sebanyak dan sekuat itu.

Dalam keluarga kita menjadi diri apa adanya, merekalah yang tahu wajah paling kusut saat kita bangun dari tidur bertahun-tahun. Merekalah yang mendampingi saat kita paling lemah tak berdaya sebagai bayi sampai kita menjadi segagah dan sebesar sekarang ini. Mereka bukan hanya penonton yang berkomentar, tapi juga orang terdekat yang penuh kesungguhan memberikan sokongan dan pengorbanan. Bersama mereka kita tertawa, menangis, berpeluh lelah, berpelukan dan mencintai.

Kadang dengan cinta yang aneh, karena mereka yang terdekat dengan kita itulah justru yang paling sering terkena amarah kita. Merekalah orang pertama yang paling merasakan efek kemalasan dan sifat buruk kita lainnya…. Tapi mereka setia, bersabar menemani segala perubahan diri. Mereka tahu bahwa kita ini hanya manusia biasa yang tak sempurna, tapi mereka menerima sepenuhnya.

Pada merekalah vibrasi terkuat dari jiwa kita merambat: baik atau buruk. Dalam keluargalah topeng pencitraan itu dicerabut. Di sanalah diri kita yang paling jujur bertumbuh. Mungkin karena itu Rasulullah menjadikan parameter kebaikan suami pada istri sebagai salah satu ukuran baiknya iman seseorang. Mungkin karena itu Rasulullah mensabdakan bahwa yang terbaik akhlaqnya kepada keluarganya adalah yang terbaik p**a imannya.

Keluarga adalah saksi terbaik dan terjujur atas kebenaran akhlaq seseorang. Di sebuah buku dideskripsikan apik sekali tentang dukungan istri beliau Khadijah ra. Dalam mendukung dakwah Rasulullah Sallalahu ‘Alaihi Wassalam.

Selalu basah airmata kalau membaca-baca ulang segmen dukungan istri dan anak-anak beliau terhadap dakwah ilallah. Juga tentang betapa baiknya akhlaq beliau terhadap keluarganya. Ada banyak segmen kemanusiaan pada keluarga Rasulullah. Ada segmen cemburu, marah, senang,sedih silih berganti. Tapi justru karena mereka manusia yg dibimbing selalu oleh Allah swt, hikmah mengalir tiada henti saat menyimak sirahnya.

-----
Kita bisa bertemu banyak orang yang kita anggap lebih baik mereka. Kita pun bisa akrab dengan orang yang baru dikenal; namun tetap setia dalam segala emosi jiwa, semua ragam dinamika hidup, pasang surut fluktuasi ekonomi itu hanya bisa terjadi dalam keluarga. Kita bisa pergi jauh kemanapun, tapi keluarga selalu jadi tempat terindah untuk p**ang. Tak banyak yang punya energy panjang untuk bersabar dengan semua kewajiban yang berlaku sebagai anggota keluarga, lalu ikhlas tanpa mengharap balas apapun kecuali keridhoan Allah.

Mungkin karena itulah, ada banyak kesempatan masuk surga yang bisa ditemui di dalam keluarga.
Ruang surga nya istri solihah yang taat pada Allah dan suaminya
Ruang surga bagi anak-anak yang berbakti pada orang tuanya
Ruang surga bagi Ayah yang mengupayakan rezeki halal lagi memimpin keluarganya agar tak tersentuh api neraka
Ruang surga bagi keluarga yang berbuat saling baik dan mengajak pada kebaikan
Ruang surga bagi orang tua yang berhasil mendidik anak-anaknya menjadi orang-orang yang solih yang jadi penerus jariyah orang tuanya
Ruang bagi mereka yang selalu menyambung silaturahim meski berulangkali kecewa
Ruang bagi mereka yang bersabar, memaafkan dan lapang dada terhadap kekurangan keluarganya seraya terus mendoakan dan mengupayakan kebaikan bagi mereka

dalam mengupayakan kebaikan ada kesabaran
dalam mengubah keburukan ada kesabaran
dalam mencegah diri dari dosa ada kesabaran
dalam istiqomah pun ada kesabaran
sepanjang perjalanan dunia bersama keluarga ada kesabaran
agar kelak bisa berkumpul kembali di surgaNya dengan seluruh sanak keluarga
mungkin karena itulah sambutan para malaikat dari seluruh pintu surga
"salamun 'alaikum bimaa shobartum"
ya pada akhir pertemuan kembali di surga yang indah itu dimulai dari keluarga
Mungkin karena itu ada ungkapan baiti jannati, karena surga dekat sekali kita rengkuh : mulai dari dalam rumah sendiri … insyaallah

Sebagaimana ada banyak kesempatan baik dari dalam keluarga, ada pertanggungjawaban besar di yaumilhisab nanti pada setiap orang atas amanah keluarga yang Allah berikan.

Selamat Hari Keluarga
Ninin Kholida

Address

Tembalang

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00
Saturday 09:00 - 17:00

Telephone

+628179547711

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sahabat Keluarga Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Sahabat Keluarga Indonesia:

Share