28/12/2020
Menuntaskan asah Rasa
Ninin Kholida
Seorang bayi kadang hanya perlu meletakkan kepalanya di pundak sang ibu lalu dielus elus
Tangisnya yang melengking, reda seketika
Tanpa perlu kata
Rewelnya henti mendengar detak jantung ayahnya, menghangat hatinya dengan pelukan lengan gagahnya
Bahkan dengan hanya memandang mata ayahnya yang tersenyum
Rindunya meleleh, tangis kerasnya lumer berganti senyuman lebar
Tak banyak kata yang bisa diucapkan bayi di awal kehidupannya
Ia merasa ... ia mampu memahami bahasa selain kata kata
Kadang ia menangis, sebentar ...
tak pernah lebih panjang dari diamnya
Senyumnya, tawanya, tidur lelapnya, rasa nyamannya, amannya, semangatnya, rasa percayanya, nempelnya
juga adalah bahasa
Bukankah dg menggelitik badannya
hanya dengan menutup membuka mata dengan telapak tangan
Sepenuh hati
Lalu berkata cilukbaa...
Bayi dan orang dewasa bisa tertawa lepas bersama
Mengulang ulang tanpa bosan
Tak perlu pintar stand up komedi untuk sebuah kebahagiaan yang renyah kan ?
Karena bahagia itu sederhana
Bahkan saat ia baru bisa bubling
Baba, mama, abababa, ehhh, huuhu, tutuu
Ayah bunda dan keluarga tercinta bisa memahami bahasa 'antah berantah' itu
Tutu .... "o adek mau pakai sepatu?"
Ababaaa " adek mau ikut solat ya ? Allahu akbar"
Karena mereka mendengarkan bukan hanya dengan telinganya
Tapi hatinya, cintanya
Dengan mata, tangan, kulit, penciumannya
Bukankah orang orang dewasa pernah jadi bayi dan anak anak ?
Bukankah kita pernah memahami bahasa selain kata kata ?
Bukankah merasa ...
Menyambungkan frekuensi jiwa ...
Tulus ..
Menyimak ...
Berempati ...
Membangun rasa nyaman dan saling percaya
Juga adalah keterampilan penting komunikasi ?
Bukankah itu akar dalam berinteraksi antar manusia?
Bahkan itu adalah pondasi awal yang tak boleh lewat, tak boleh gagal
Sebelum anak anak belajar bicara
Mengucap kata
Menyapa
Menghafal
Bertanya
Menganalisis
Menasihati
Berdebat, menyangggah
Mengambil kesimp**an ?
Dan saya menangis tadi
Mengusap butir kecil di pojok mata
Betapa buramnya cara kita berkomunikasi hari ini lewat sosial media
Kenal langsung? Tidak
Pernah berbuat baik meski kecil padanya? Belum
Sudah ikut mendoakan ? Entahlah
Sudah transfer untuk donasi bencana ?
Ikut membersihkan luka para korban ?
Mengangkat mayatnya ?
Mengusap air matanya ?
Belum. Tidak. Jauh ...
Tapi huruf huruf nya sudah tajam menghujam
Selfienya sambil tertawa ...
"Udah tahu musik haram, pasti suul hotimah:
"Gak pake jilbab, s**a pamer aurat mati kena bencana kok ngarep husnul khatimah"
Mereka menyerang apa saja dan menyinyiri siap saja. Tak hanya foto, tulisan bahkan urusan gerakan komunitas sampai soal baju pun dikomentari pedas. Sering keluar kata kata sejenis kebun binatang, umpatan, sumpah serapah, prasangka. Bahkan kata pujian untuk Tuhan pun dipelesetkan tai* dan beer. Pun dengan ikon tertawa.
Kok saya ikut perih ya membacanya ... gak semua sih.oknum saja ...
Mayat istri sahabat belum ditemukan .... tubuh masih luka luka ....
Pantaskah ucapan ucapan ini dikatakan orang (yg merasa baik) untuk menasihati (orang yang menurutnya masih jahiliah?)
Cobalah rasakan... ucapkan dengan lantang berulang ulang
Kata katamu di telingamu
Lalu diamlah .... rasakan saja
Biarkan hatimu menilai sendiri ...
______
Lalu saya mengkhawatirkan anak anak dan murid murid saya
Khawatir saat mereka penuh ilmu di otaknya
Tapi kosong kantung jiwanya
Keropos hati yang mereka gunakan untuk merasa ....
Saya khawatir bahwa dulu mereka tak cukup mendapatkan belaian, pelukan dan kedekatan berkualitas
Khawatir dulu mereka tak cukup waktu bercengkerama dan tertawa bahagia
Khawatir mereka dulu kurang bermain menikmati alam ... mendengarkan kicau burung, krik krik jangkrik, kwak-kwak bebek, b**g b**g katak, sepoi angin, suara guntur
Karena hanya jiwa yang bening yang bisa membaca isyarat alam dan mengambil pelajaran
Dari rasi bintangnya, mendungnya, dari terbang perginya burung dan capung, dari mingatnya belalang beramai ramai
Saya khawatir mereka dulu tak cukup aman saat merangkak menjelajah, saat berdiri tertatih, saat mulai bisa menaiki tangga dan melompat lompat.
Saya khawatir mereka dulu kurang didengarkan saat mulai banyak bertanya ingin tahu ini itu
Saya khawatir mereka dulu kurang diajak ngobrol, terlalu banyak disuruh menghafal dan mengerjakan PR dan menjawab pertanyaan unfaedah
Hafal teks tak paham konteks
Saya khawatir mereka terlalu cepat dibentak, disuruh diam saat baru terjatuh atau merasa sakit
Saya khawatir mereka terlalu banyak duduk dan hanya berteman dengan teman sekelasnya
Tak sempat jalan jalan dan menyapa tetangga kanan kirinya
Atau menyambangi para manula, gelandangan dan orang orang di gubuk reyot
Tak sempat membelai anak yatim
Bukan hanya tentang oposisi atau petahana
Bukan hanya tentang aku dan bukan aku
Saya khawatìr mereka hanya merekam kehidupan manusia lewat drakor, sinetron atau film di gadget mereka
Sehingga mereka tak tahu kalau ada beragam macam kisah hidup manusia
Bahwa ada beragam perasaan
Marah, benci, sedih, khawatir, cemas, senang, bahagia, lesu, hampa, s**a cita, malu, tertekan
Tak sekedar benar salah
Tak sekedar halal atau haram semata
Bahwa ada ADAB sebelum ilmu
Ada RASA yang harus diasah sebelum akal menggurita
Saya khawatir jika saya tak menuliskan kegelisahan saya
Banyak yang belum tahu
Jika banyak anak anak yg digegas dewasa sebelum tuntas tugas dan hak kekanak kanakannya
Akan jadi orang dewasa yang kekanak kanakan
"Orang yang paling keras hatinya, adalah mereka yang justru paling kering kantong kasih sayangnya"
Bahwa ada tahapan kemanusiaan yang perlu kita remidi
Sebagai (anak) manusia
Yang jujur, polos, bening, tanpa prasangka
Tanpa niat jahat
Tanpa kemahiran bersilat lidah
Karena fitrah manusianya masih terjaga
29-12-2018