20/08/2026
Duka memiliki
berbagai rupa
dan berbagai rasa.
Sewajarnya kamu menangis, bersedih, kehilangan, bingung, merasa bersalah, berandai-andai, kecewa bahkan marah.
Seandainya saya pulang lebih cepat
Seandainya mereka tidak membuat keputusan yang “salah”.
Seandainya waktu bisa diputar.
Seandainya kita punya kekuatan untuk bernegosiasi dengan semesta.
Seandainya realita bisa diedit ulang.
Ada duka yang berbalut pakaian hitam dengan lagu-lagu pujian.
Ada juga yang mewajibkan baju putih.
Ada yang digumamkan dengan doa dan hening.
Ada yang riuh dengan berbagai suara instrumen.
Ada yang harus menangis menjerit, dan ada yang melarang air mata .
Ada duka yang berusaha ditutupi, karena rasanya harus kuat dan tegar.
Ada yang dihormati dengan bersahaja.
Sebaliknya penghargaan yang lain adalah mewah serta meriah.
Ada yang tetap harus bekerja atas nama profesionalitas meskipun hati gemetar.
Ada duka yang disambut ibarat ombak, kita melenting seperti ujung pohon bambu.
Ada yang disambut dengan sibuk, tidak ada waktu diam apalagi duduk.
I came from a place that treat grief in solemn and gracefully conducted funerals.
I learn to accept grief that is loud, packed and busy, in an ornamental traditional cremation.
There is no right or wrong in your grief.
I’m so sorry for your loss.
Breathe now.
Hugs..