13/07/2026
Rasulullah tidak pernah menyebut kata "media sosial."
Tapi ia menggambarkan sebuah alat fitnah dengan ciri-ciri yang kalau kamu baca dengan jujur terasa seperti sedang mendeskripsikan layar yang hari ini ada di genggaman tanganmu.
Alat yang menyebarkan berita tanpa verifikasi, menumbuhkan hasad massal dan mengubah kebohongan menjadi sesuatu yang terlihat seperti kebenaran.
Setuju atau tidak, Rasulullah sudah memperingatkan tentang ini jauh sebelum algoritmanya diciptakan.
Rata-rata manusia hari ini menghabiskan lebih dari empat jam sehari di media sosial.
Dalam empat jam itu ia menyerap ribuan narasi, ribuan standar yang tidak realistis, ribuan berita yang belum tentu benar.
Hasilnya bukan informasi. Hasilnya adalah rasa kurang yang kronis, hasad yang dianggap normal, dan ketidakmampuan membedakan yang benar dari yang hanya terlihat benar.
Dan Rasulullah memperingatkan tentang kondisi itu, bukan dengan menyebut alatnya, tapi dengan menggambarkan akibatnya dengan sangat presisi.
Rasulullah bersabda: "Cukuplah seseorang dikatakan pendusta apabila ia menceritakan semua yang ia dengar." (HR. Muslim, Muqaddimah)
"Akan datang tahun-tahun penuh penipuan. Pendusta dipercaya, orang jujur didustakan. Dan orang-orang bodoh berbicara dalam urusan umat." - (HR. Ahmad, Ibnu Majah)
Al-Quran memerintahkan:
"Wahai orang-orang beriman, jika seorang fasiq datang membawa berita, maka telitilah kebenarannya." - (QS. Al-Hujurat: 6)
Di era di mana verifikasi adalah hal yang paling jarang dilakukan sebelum menekan tombol bagikan.
Coba cocokkan deskripsi Rasulullah dengan realita hari ini.
"Pendusta dipercaya", akun dengan jutaan followers bisa menyebarkan informasi palsu yang dipercaya lebih banyak orang dari laporan ilmiah manapun.
"Orang-orang bodoh berbicara dalam urusan umat", siapapun bisa menjadi "ahli" dalam semalam hanya dengan membuat konten yang viral.
"Menceritakan semua yang didengar", fitur repost dan share adalah mesin paling efisien untuk melakukan persis itu.
Rasulullah tidak sedang membuat ramalan. la sedang menggambarkan mekanisme fitnah, yang hari ini berjalan dengan kecepatan yang bahkan tidak bisa ia bayangkan di abad ke-7.
Kenapa media sosial adalah fitnah, bukan sekadar alat.
Imam Al-Ghazali mendefinisikan fitnah sebagai sesuatu yang membalikkan orientasi manusia, membuat yang batil terasa benar, membuat manusia sibuk dengan yang tidak penting sambil melupakan yang paling penting.
Media sosial melakukan itu secara sistematis: mengganjar konten yang memicu emosi, bukan yang mendidik. Memperkuat yang sudah kamu percaya, bukan yang menantangmu berpikir.
Dan Rasulullah sudah memperingatkan: "Telah masuk ke dalam dirimu penyakit umat-umat sebelummu:hasad dan kebencian." (HR. Tirmidzi)
Tidak ada mesin hasad yang lebih efisien dari timeline yang menampilkan pencapaian orang lain setiap detiknya.
Ini bukan ajakan untuk hapus semua akun. Ini ajakan untuk berhenti menggunakannya tanpa kesadaran.
Al-Quran mengajarkan satu prinsip yang menjadi antidot dari semua fitnah yang Rasulullah gambarkan : تبينوا - tabayyanuu, telitilah.
Verifikasi sebelum percaya. Pikirkan sebelum bagikan. Tanyakan: apakah ini benar, apakah ini penting, apakah menyebarkan ini mendekatkan atau menjauhkan aku dari Allah?
Manusia yang paling selamat dari fitnah media sosial bukan yang paling sedikit menggunakannya, tapi yang paling kritis dan paling sadar dalam menggunakannya.
"Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya." - (QS. Al-Isra: 36)