08/16/2015
Masa Depan Muhammadiyah (2)
Keinginan Muslimin dunia pada awal abad 15 Hijriyah menyaksikan kebangkitan Islam di abad ini, kini tampak kandas, paling tidak untuk sementara. Dunia Islam didera berbagai masalah, seperti perang, kemiskinan dan pengangguran, kekuasaan zalim dan otoriter, konflik antaretnik, penegakan hukum yang diskriminatif, buta huruf yang masih sangat luas, dan lainnya.
Dibandingkan dunia Barat, kelihatan dunia Islam lebih lemah, lebih tidak terdidik, lebih miskin, dan lebih terbelakang. Padahal, doa sapu jagat Islam memohon kepada Tuhan YME agar dikaruniai kebahagiaan dunia akhirat dan dilindungi dari api neraka (QS al-Qashash: 77).
Salah besar kalau ada orang beriman berpendapat tidak mengapa di dunia menjadi manusia yang lemah, miskin, bodoh, dan tersisih menjadi pelengkap penderita, tetapi esok akan bahagia di akhirat. Ini gejala self-defeatism, mengaku kalah dan jadi pecundang tanpa berani bertanding, dan memilih kehinaan daripada kemuliaan. Agaknya akhlak ini dikutuk agama karena hakikatnya menghina agama itu sendiri.
Sayangnya, sebagian fakta dan angka belum berpihak pada dunia Islam. UN Report on Human Development Index tahun 2009 mencatat, mayoritas negeri Muslim berada pada urutan atas merajalelanya korupsi. Dalam indeks pembangunan manusia yang diukur lewat harapan hidup, melek huruf, dan penghasilan berbagai bangsa, mayoritas bangsa-bangsa Muslim berada di urutan menengah bawah dan urutan bawah.
Lebih dari 30 negara di dunia Islam, hanya ada sekitar 500 universitas, sementara di Amerika Serikat ada 5.758 universitas, bahkan di India 8.407 universitas. UNDP pada 2004 mencatat, dari 500 universitas terkemuka, tak ada satu pun dari dunia Islam.
Di Barat yang mayoritas Nasrani, jumlah melek huruf 90 persen, sementara dunia Islam baru 50 persen. Yang selesai sekolah dasar di Barat 90 persen, di dunia Islam 50 persen. Di Barat 40 persen penduduknya mengenyam perguruan tinggi, di negeri-negeri Muslim hanya 2 persen. Yang pertama mengeluarkan biaya R&D 5 persen, yang kedua hanya 0,2 persen. Apalagi bila kita bicara perbandingan kekuatan militer Barat dan dunia Islam, kesenjangan itu kian lebar.
Mengapa sekarang umat Islam menjadi terbelakang? Pasti bukan karena Islam itu sendiri. Islam sudah terbukti menggelar revolusi kemanusiaan yang paling dahsyat sepanjang sejarah ketika Nabi Muhammad SAW memimpin transformasi zaman jahiliyah dunia Arab menjadi zaman pencerahan segala bidang dalam tempo satu generasi.
Islam juga melahirkan Khilafah ‘Abbasiyah selama separuh milenium yang menghadirkan puncak ilmu pengetahuan dan peradaban. Islam juga memunculkan imperium terbesar sepanjang sejarah, yakni Imperium Osmaniah. Khilafah Osmaniah ini berlangsung sekitar 7 abad (1299-1923) dan menjadi penghubung utama peradaban Timur dan Barat. Ia berakhir pada 1923 dengan meninggalkan kemegahan sejarah Islam di beranda Eropa.
Dewasa ini kita menyaksikan pemikiran dan gerakan Islamofobia. Mereka yang membenci Islam demi membenci tanpa alasan apa pun dinamakan Islamophobes. Manusia pembenci Islam ini di Barat maupun di Timur semakin bertambah dengan menggunakan media cetak, media sosial, dan ceramah di kampus dengan tujuan tunggal: mencemarkan nama baik Islam, melakukan disinformasi dan distorsi, sekaligus demonisasi Islam agar agama samawi terakhir ini berwajah seram, seolah-olah pendendam, dan menyukai kekejaman.
Di Amerika Serikat saja ada 46 lembaga yang melancarkan serangan Islamofobia. Para Islamophobes di AS itu terdiri atas akademisi, orientalis, wartawan, ketua lembaga studi, pendeta, dan lainnya. Di antara mereka ada juga bekas pegiat sosial Islam, penulis, dan aktivis LSM yang sudah murtad atau meninggalkan Islam.
Jangan lupa, di Indonesia ada juga lingkaran Islamofobia itu, meskipun omongan dan aksinya tidak sejelas kelompok Islamofobia Barat. Saya melihat dengan kasihan ada sejumlah aktivis Muslim, junior dan senior, tampak menikmati pujian yang datang dari lingkaran Islamophobes Indonesia.
Kondisi kita
Kita harus terus berpikir membuat peta jalan perjuangan persyarikatan di masa depan. Berikut beberapa realitas yang perlu kita cermati tentang Muhammadiyah.
Pertama, semangat beramal saleh di kalangan persyarikatan agak lesu. Banyak bangunan Muhammadiyah yang sudah diresmikan peletakan batu pertamanya, setelah beberapa tahun bangunan itu tak kunjung selesai. Sebab utamanya, pembiayaan yang macet atau berjalan sangat pelan.
Kedua, proses kaderisasi di Muhammadiyah berjalan cukup lamban. Makin jarang terdengar latihan kepemimpinan Darul Arqam di daerah. Ketiga, kecintaan pada Alquran masih terlihat belum menyeluruh di kader dan pimpinan.
Keempat, kantor persyarikatan cukup megah tetapi sering kali lengang. Sedikit aneh, gerakan tajdid tidak sering menyaksikan para kadernya bermusyawarah memecahkan berbagai masalah.
Kelima, semboyan tidak ada kejayaan Islam tanpa dakwah dan tidak ada dakwah tanpa pengorbanan agaknya tidak bergaung lagi di kalangan keluarga besar Muhammadiyah.
Keenam, semangat menjalankan ibadah makhdhah, seperti shalat berjamaah di masjid terasa sepi. Masjid-masjid Muhammadiyah tak lagi jadi pusat bertemunya pimpinan dan kader serta anggota Muhammadiyah.
Ketujuh, kecintaan sebagian pimpinan Muhammadiyah pada sekolah sendiri sering kali basa-basi. Malah acap kali kita saksikan sebagian tokoh atau kader Muhammadiyah baru mau menyekolahkan anaknya di sekolah Muhammadiyah setelah ditolak ke sana kemari.
Kedelapan, semangat berjuang atau berjihad tampak melempem. Tak sedikit aktivis kita yang mengeluh kalau harus turun ke bawah, membina persyarikatan di tempat yang relatif jauh dan sedikit sulit perjalanannya.
Kesembilan, sering kali kita lihat fenomena aneh, sebagian pimpinan Muhammadiyah tidak begitu cinta dan bangga dengan Muhammadiyah. Mungkin agak mirip dengan sikap sebagian kiai pimpinan pesantren yang tidak bangga dan cinta dengan pesantrennya.
Kesepuluh, kadang kala ada fenomena aneh, sebagian pimpinan Muhammadiyah menderita penyakit rendah diri. Islam tak pernah mengajarkan umatnya bersikap rendah diri (kompleks inferioritas) maupun jemawa dan percaya diri berlebihan (kompleks superioritas).
Saya ingat rumus Pak AR, kalau pemimpin Muhammadiyah bertemu pejabat negara setinggi apa pun harus wajar-wajar saja. Tidak perlu membungkuk sampai nyaris tiarap, tetapi juga tidak perlu berkacak pinggang.
Tentu masih banyak potret Muhammadiyah masa kini yang dapat kita bicarakan, yang menggambarkan betapa Muhammadiyah agak lesu darah, kurang bertenaga dalam menggerakkan amal saleh, cenderung dijangkiti penyakit malas dan kurang percaya diri. Pertanyaan pentingnya, apa yang mesti kita kerjakan agar usaha izzul Islam wal muslimin kembali meriah, penuh syiar, bertenaga, dan lebih efektif?
M Amien Rais
Ketua Umum PP Muhammadiyah (1995-1998)
http://www.republika.co.id/berita/koran/opini-koran/15/08/04/nsjq4d10-masa-depan-muhammadiyah-2
Keinginan Muslimin dunia pada awal abad 15 Hijriyah menyaksikan kebangkitan Islam di abad ini, kini tampak kandas, paling tidak untuk sementara. Dunia Islam didera berbagai masalah, seperti perang, kemiskinan...